Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.430 per Dolar AS, Konflik AS-Iran dan Suku Bunga The Fed Jadi Tekanan
digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS.
Baca Juga:
Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi seiring penguatan indeks dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Konflik AS dan Iran Kembali Picu Kekhawatiran Pasar
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur distribusi energi dunia.
Menurutnya, Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dan gas global kini kembali menjadi perhatian investor internasional.
Baca Juga:Sebelumnya pasar sempat berharap adanya pembukaan penuh Selat Hormuz setelah muncul sinyal kesepakatan antara AS dan Iran. Namun kondisi kembali memanas setelah kedua negara saling menuduh melanggar gencatan senjata.
"Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata, sementara AS menyebut serangannya sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya," ujar Ibrahim.
Ketegangan tersebut mendorong investor memburu aset safe haven seperti dolar AS sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sikap The Fed Jadi Sentimen Negatif Rupiah
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS belum akan agresif menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Kondisi ini membuat aliran modal global cenderung kembali masuk ke aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil menarik.
Utang Pemerintah dan Defisit APBN Jadi Sorotan
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menyoroti posisi utang pemerintah Indonesia yang mencapai Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026.
Baca Juga:Angka tersebut meningkat hampir 3 persen dibanding posisi akhir 2025 yang berada di level Rp9.637,9 triliun. Rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat sebesar 40,75 persen.
Pemerintah menyatakan posisi tersebut masih berada di bawah batas aman internasional sebesar 60 persen terhadap PDB.
Meski demikian, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai semakin besar setelah realisasi defisit anggaran mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB pada kuartal I 2026.
Sementara itu, realisasi pembiayaan utang tercatat telah mencapai Rp258,7 triliun. Kondisi ini membuat pasar semakin sensitif terhadap prospek penerimaan negara dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Rupiah Masih Tertekan, Analis Prediksi BI Kembali Naikkan Suku Bunga
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.890 per Dolar AS, Dipengaruhi Sentimen Global dan Domestik
Rupiah Masih Tertekan Meski BI Kembali Naikkan Suku Bunga, Bergerak di Kisaran Rp17.790–Rp17.840 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksi Melemah, Pasar Menanti Hasil RDG BI dan Arah Kebijakan The Fed
Rupiah Berpotensi Menguat pada Perdagangan 17 Juni 2026, Sentimen Perdamaian AS-Iran Jadi Pendorong