Jumat, 05 Juni 2026

Membangun Ekosistem Haji Masa Depan: Ramah Perempuan, Lansia, Difabel dan Lingkungan

Haji 2026
Redaksi - Jumat, 05 Juni 2026 21:55 WIB
Membangun Ekosistem Haji Masa Depan: Ramah Perempuan, Lansia, Difabel dan Lingkungan
Istimewa
Ilfi Nur Diana

digtara.com - Tahun 2026 menjadi tonggak sejarah baru penyelenggaraan haji Indonesia. Untuk pertama kalinya pelayanan haji berada di bawah Kementerian Haji dan Umrah. Momentum ini bukan sekadar perubahan nomenklatur kelembagaan, melainkan ujian apakah reformasi tata kelola haji benar-benar mampu menghadirkan layanan yang lebih inklusif, manusiawi, dan berkelanjutan.Biaya haji tahun ini mengalami penurunan sekitar dua juta rupiah, sekalipun biaya transportasi mengalami kenaikan, tetapi tidak dibebankan pada jemaah. Lantas bagaimana kualitas layanan pada jemaah tahun ini? Dengan penurunan biaya tersebut apakah mengalami penurunan kualitas layanan?

Baca Juga:

Saya sebagai Amirul Hajj perwakilan dari tokoh masyarakat ingin memastikan penyelenggaraan haji tahun ini terlaksana dengan baik. Oleh sebab itu saya mengikuti secara langsung dan mengamati pelaksanaan ibadah haji. Sejak kedatangan di tanah suci Amirul Hajj melakukan koordinasi dengan PPIH Arab Saudi, Kedutaan, KUH, rumah sakit, dan mengunjungi jemaah di sektor-sektor untuk mendengarkan keluh kesah dan aspirasi jemaah. Amirul Hajj yang diketuai oleh Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Dr. K.H. Mochamad Irfan Yusuf mempunyai tugas misi diplomasi, yaitu menjaga hubungan bilateral dengan otoritas Arab Saudi serta berkoordinasi langsung dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Haji Arab Saudi. Selain ini juga bertugas melakukan pengawasan dan evaluasi untuk memastikan fasilitas dan operasional penyelenggaraan haji mulai dari transportasi, akomodasi, Catering, dan layanan kesehatan agar berjalan sesuai standar yang ditetapkan. Juga bertugas melakukan pelayanan dan perlindungan jemaah, khususnya bagi jemaah lanjut usia dan risiko tinggi, serta sebagai representasi kehadiran negara dalam mendampingi dan memberikan dukungan moral kepada jemaah selama berada di Arab Saudi.

Dari sisi tata kelola, KEMENHAJ telah mempersiapkan dengan matang terkait persiapan pemberangkatan, operasional di tanah suci, pelaksanaan ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah, Mina), hingga kepulangan kembali ke Indonesia. Juga melakukan perbaikan sistem untuk memastikan pencapaian target secara efektif, efisien, mematuhi regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah Saudi. Sehingga Pemerintah Saudi memberikan apresiasi kepada KEMENHAJ Indonesia, karena pelaksanaan haji tahun ini dinilai lebih baik dan lebih tertib. Begitu juga apresiasi banyak berdatangan dari para jemaah haji, sekalipun masih ada kekurangan yang menjadi perhatian untuk perbaikan di tahun depan. Lantas bagaimanakah layanan haji yang dirasakan oleh para jemaah haji tahun ini?

OPTIMALISASI LAYANAN

Kementerian Haji dan Umrah telah melakukan transformasi di tahap pertama ini. Transformasi yang telah dilakukan fokus pada digitalisasi, transparansi, efisiensi, dan peningkatan layanan jemaah. Tentu saja perlu terus diupayakan transformasi ke depan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Saya melakukan kunjungan dan survei kepada para jemaah terkait layanan yang diterima dan dirasakan. Rata-rata mereka mengalami kepuasan dari beberapa layanan berupa konsumsi, transportasi dan akomodasi, juga layanan kesehatan. Dari sisi konsumsi, para jemaah merasa terpenuhi dengan baik, karena sehari mendapatkan 3x makan berupa fresh meal dengan menu ala nusantara. Dari sisi transportasi, mereka merasa tidak kesulitan karena disiapkan bus selawat yang dapat antar jemput jemaah dari berbagai sektor menuju masajaidil haram. Adapun akomodasi memang beragam, namun dengan plus minus di masing-masing sektor. Terdapat hotel yang jaraknya kurang lebih 12 km namun akses ke Masjidil Haram dapat ditempuh lebih cepat sekitar 20 menit daripada hotel yang jaraknya lebih dekat namun jarak tempuhnya lebih lama, karena harus berputar arah jika menggunakan bus selawat. Begitu juga dari sisi layanan kesehatan, masing-masing kloter terdapat Nakes (tenaga kesehatan) 1 orang dokter dan 1 perawat. Para Nakes Juga dinilai fast respon dalam memberikan layanan. Selain Nakes di setiap kloter, terdapat klinik satelit di setiap sektor, dan ada KKHI (klinik Kesehatan Haji Indonesia), namun jumlah Nakes ini dirasa kurang karena jemaah haji yang memiliki risiko tinggi sebesar 84.1%, dan jumlah lansia sebesar 21,9%. Selain itu KKHI tidak melayani rawat inap karena sesuai peraturan pemerintah Arab Saudi batas waktu perawatan KKHI hanya 4 jam. Jika ada jemaah yang butuh waktu perawatan lebih 4 jam maka harus dirujuk ke rumah sakit yang sudah ditunjuk untuk melakukan kerjasama, yaitu rumah sakit internasional yaitu rumah sakit Saudi Germant Hospital. Namun demikian, kebanyakan jemaah enggan dirujuk ke rumah sakit karena adanya larangan didampingi keluarga.

Baca Juga:
LAYANAN ARMUZNA

Terdapat dua syarikat yang menyediakan layanan di ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah, Mina), yaitu Syarikat Rakeen dan Duyuful Bait. Informasi dari para jemaah dapat diketahui bahwa layanan transportasi sangat baik walau ada keterlambatan kedatangan armada menuju ARMUZNA di beberapa sektor. Hal ini disebabkan adanya penutupan jalan dan juga kemacetan di berbagai rute. Adapun layanan konsumsi di ARMUZNA berupa RTE (Ready to Eat). Hal ini sebagai mitigasi keterlambatan suplay makanan. Karena RTE dapat dikirim sebelum pelaksanaan ARMUZNA. Selain RTE, juga disiapkan makanan ringan seperti mi siap saji, buah, dan minuman. Para jemaah merasa ketersediaan makanan sangat berlebih, bahkan banyak dibawa pulang kembali ke hotel.

Dari sisi akomodasi, tenda di Arafah sudah cukup memadai, begitu juga di Mina. Namun demikian, yang dikeluhkan jemaah adalah antrean toilet yang cukup panjang, khususnya di bagian jemaah perempuan. Mengapa hal ini terjadi? Karena jemaah perempuan lebih banyak daripada jemaah laki-laki, yaitu sejumlah 55.8% dari jumlah jemaah kurang lebih 203 ribu jemaah. Selain itu jemaah perempuan memerlukan waktu yang lebih lama dari laki-laki ketika menggunakan toilet, juga intensitas ke toilet lebih sering, khususnya perempuan yang sedang mengalami siklus haid yang tidak normal.

TRANSFORMASI LAYANAN RAMAH PEREMPUAN, DIFABEL, LANSIA

Dari catatan penyelenggaraan haji tahun ini, tata kelola sudah termanage dengan baik dengan melakukan mitigasi risiko. Seperti pengangkutan jemaah ke ARMUZNA sudah dimitigasi keterlambatan, dengan membagi 3 gelombang, yaitu pemberangkatan di pagi, siang, dan sore hari, namun masih ada beberapa keterlambatan armada di beberapa sektor dikarenakan kemacetan yang terjadi. Oleh sebab itu, perlu penekanan kepada syarikat penyedia armada transportasi untuk datang lebih awal sebelum jam keberangkatan yang telah ditentukan.

Selain masalah keterlambatan transportasi, akomodasi di ARMUZNA perlu penambahan jumlah toilet bagi perempuan khususnya, juga toilet khusus bagi penyintas difabel. Begitu juga di Jamarat, jemaah sangat sulit menemukan toilet. Jika diijinkan pemerintah Saudi, dapat disiapkan toilet portable khusus jamah haji Indonesia. Selain itu batas privasi tenda antara lak-laki dan perempuan juga sangat diperlukan. Begitu juga dengan bimbingan ibadah bagi perempuan, sangat diperlukan sosialisasi baik berupa buku saku atau pengarahan lebih inten tentang fiqih perempuan dan lansia, juga fiqih petugas.

Yang tidak kalah penting adalah menjaga kelestarian alam dan lingkungan yaitu perubahan iklim dengan mengurangi sampah plastik. Setiap jemaah mendapatkan tumbler air minum ketika di ARMUZNA, namun tidak tersedia air minum portable atau dispenser, sehingga jemaah masih mengkonsumsi air minum dalam kemasan botol kecil 220ml. Sehingga 1 jemaah rata-rata butuh 10 botol sehari, jika dikalikan 203 ribu jemaah dari Indonesia saja maka membutuhkan 2 juta botol lebih dalam sehari. Bagaimana jika seluruh dunia? Maka sampah plastik akan sangat tinggi. Maka untuk mengurangi sampah plastik sebaiknya, di hotel dan di ARMUZNA diperlukan dispenser atau air minum portable.

Layanan berbasis digital juga sudah ada, namun mayoritas jemaah belum memiliki literasi digital yang baik atau tidak memperhatikan fasilitas digital yang tersedia, seperti berkode yang sudah ada di gelang masing-masing jemaah untuk memitigasi tersesat di jalan. Juga terdapat aplikasi kawal haji agar jemaah dapat menyampaikan laporan maupun kendala layanan, namun tidak banyak yang menyampaikan aduan. Hal ini dimungkinkan karena jemaah haji berlatar belakang pendidikan SD-SMA, yaitu sekitar 64.2%, atau karena kurang sosialisasi secara masif. Karena itu perlu sosialisasi tertulis tentang layanan digital ini.

Dari sisi pelayanan kesehatan, perlu penambahan jumlah tenaga kesehatan karena menjelang pelaksanaan hingga pasca ARMUZNA banyak jemaah yang membutuhkan layanan medis. Selain itu, diperlukan juga layanan terapi psikolog untuk memitigasi kondisi jemaah yang mengalami kelelahan mental, disorientasi, hingga demensia, terutama pada jemaah lansia. Oleh sebab itu, petugas tidak hanya dari PPIH Arab Saudi, tetapi juga petugas kloter dan daerah harus benar-benar dilatih agar siap melayani dan mendampingi jemaah lansia. Di sisi lain, terdapat masukan terkait penertiban dan pengorganisasian jasa kursi roda bagi lansia, khususnya pasca ARMUZNA saat pelaksanaan tawaf ifadah dan tawaf wada, agar harga tidak dipermainkan mengingat biaya yang dapat mencapai 700 riyal.

Haji masa depan bukan hanya haji yang sukses secara ritual, tetapi juga haji yang memuliakan perempuan, melindungi lansia dan difabel, memanfaatkan teknologi secara inklusif, serta menjaga kelestarian lingkungan. Ukuran keberhasilan haji tidak lagi sekadar berapa banyak jemaah diberangkatkan, tetapi seberapa bermartabat mereka dilayani. (San).

Baca Juga:
Ditulis oleh: ILFI NUR DIANA

(Guru Besar, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang & Sekretaris Amirul Hajj Indonesia 2026).

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ahsan Fauzi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Penyandang Tunanetra Apresiasi Layanan Haji 2026, Harapkan Regulasi Disabilitas Segera Diimplementasikan

Penyandang Tunanetra Apresiasi Layanan Haji 2026, Harapkan Regulasi Disabilitas Segera Diimplementasikan

PPDI Kalsel Apresiasi Layanan Haji Ramah Disabilitas, Usulkan Pendataan Lebih Detail

PPDI Kalsel Apresiasi Layanan Haji Ramah Disabilitas, Usulkan Pendataan Lebih Detail

Ekosistem Haji dan Umrah Menjadi Gerbang Perdagangan dan Investasi, BPKH Limited Siap Perkuat Peran Indonesia di Arab Saudi

Ekosistem Haji dan Umrah Menjadi Gerbang Perdagangan dan Investasi, BPKH Limited Siap Perkuat Peran Indonesia di Arab Saudi

Menhaj Evaluasi KKHI Madinah, Siapkan Transformasi Layanan Kesehatan Haji yang Lebih Efektif

Menhaj Evaluasi KKHI Madinah, Siapkan Transformasi Layanan Kesehatan Haji yang Lebih Efektif

Dukung Kebutuhan Katering Jemaah Haji, Kemenhaj Dorong Komoditas Pangan RI Masuk Rantai Pasok Katering Haji Arab Saudi

Dukung Kebutuhan Katering Jemaah Haji, Kemenhaj Dorong Komoditas Pangan RI Masuk Rantai Pasok Katering Haji Arab Saudi

Kunjungi Saudi German Hospital Madinah, Menhaj Minta Pelayanan Kesehatan Bagi Jemaah Indonesia Semakin Optimal

Kunjungi Saudi German Hospital Madinah, Menhaj Minta Pelayanan Kesehatan Bagi Jemaah Indonesia Semakin Optimal

Komentar
Berita Terbaru