Pesan Kapolda NTT : Pendidikan Yang Keras Tidak Harus Dengan Kekerasan
digtara.com - Kapolda NTT, Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko membuka pendidikan pembentukan Bintara Polri berkampuan SPKT di SPN Polda NTT, Senin (20/7/2026).Upacara pembukaan ditandai dengan penyematan tanda siswa kepada perwakilan siswa.
Baca Juga:
Salah satu pesan penting yang disampaikan kepada Ka SPN, pengasuh dan tenaga pendidik adalah soal pola pengasuhan.
"Pendidikan yang keras tidak harus dilakukan dengan kekerasan. Ketegasan harus membentuk karakter, bukan melukai martabat. Jadilah teladan dalam integritas, disiplin, dan pengabdian, karena peserta didik belajar bukan hanya dari materi yang diajarkan, tetapi juga dari keteladanan para pendidiknya," ujar Kapolda NTT.
Pendidikan ini berlangsung selama lima bulan dan secara nasional diikuti oleh 4.792 peserta didik yang tersebar di Sepolwan dan 31 SPN Polda.
Khusus di SPN Polda NTT, sebanyak 146 siswa akan mengikuti pendidikan hingga akhir Desember nanti.
Baca Juga:Diingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar mengubah status menjadi anggota Polri, tetapi merupakan proses membentuk karakter, integritas, kompetensi, dan jiwa pengabdian agar siap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT).
Tema pendidikan tahun ini adalah, "Membangun Keutamaan Pendidikan Polri yang Berbasis Moral dan Literasi untuk Mendukung Program Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi yang Produktif serta Inklusif."
Tema tersebut menegaskan bahwa Polri membutuhkan insan Bhayangkara yang tidak hanya profesional dan terampil, tetapi juga memiliki moral yang kuat, integritas yang tinggi, kemampuan berpikir kritis, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu memberikan pelayanan yang cepat, tepat, humanis, dan berkeadilan.
"Moral dan integritas harus menjadi fondasi utama dalam setiap pelaksanaan tugas," pesan Kapolda.
Tanpa keduanya, kewenangan dapat berubah menjadi penyalahgunaan kekuasaan dan mengurangi kepercayaan masyarakat kepada Polri.
Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, tetapi dari kemampuan nyata peserta didik dalam memahami, menerapkan, dan menyelesaikan persoalan sesuai tuntutan tugas di lapangan.
"Kelak saudara akan menjadi garda terdepan pelayanan kepolisian. Masyarakat yang datang ke SPKT membawa harapan, persoalan, bahkan rasa takut," ujarnya.
Karena itu, siawa harus jadi anggota Polri yang mampu melayani dengan cepat, santun, profesional, penuh empati, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan prinsip-prinsip pelayanan prima.
Baca Juga:
Dukung Kasus Dokter Icha Diusut Tuntas, Sanggar Suara Perempuan NTT Surati Kapolda NTT
Bantu Warga Korban Gempa Bumi, Kapolda NTT Beri Penghargaan Pada Tim Trauma Healing Polda Jawa Tengah Dan NTB
Personil Terdampak Gempa Flores Dapat Bantuan Kapolri dan Ketua Umum Bhayangkari
25 Tahun Jadi Lembaga Pendidikan Bagi Warga Pulau Kukusan Dalam Kondisi Memprihatinkan, Kapolda NTT Bantu Revitalisasi MI Al-Hidayah
Dua Pekan Bantu Masyarakat Terdampak Gempa Flores, Personil BKO Mabes Polri Kembali Ke Kesatuannya