Rupiah Diprediksi Menguat ke Rp17.300 per Dolar AS Hari Ini, Didorong Sentimen Perdamaian Iran-AS
digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan menguat pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.340 per dolar AS seiring melemahnya indeks dolar AS di pasar global.
Baca Juga:
Berdasarkan data perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp17.292 hingga Rp17.372 sepanjang hari.
Mayoritas Mata Uang Asia Menguat
Tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia juga mencatatkan penguatan terhadap dolar AS.
Yuan China menguat sebesar 0,17%, dolar Hong Kong naik 0,05%, dan yen Jepang menguat 0,10%.
Baca Juga:Selain itu, dolar Singapura naik 0,17%, baht Thailand terapresiasi 0,28%, dan dolar Taiwan menguat 0,19%.
Sementara itu, won Korea menjadi satu-satunya mata uang yang melemah dengan penurunan sebesar 0,21%.
Sentimen Perdamaian Iran dan AS Tekan Dolar
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan dolar AS dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terkait potensi berakhirnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Iran disebut tengah meninjau proposal perdamaian dari AS yang berpotensi mengakhiri ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pasar Tunggu Data Ekonomi AS
Selain isu geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada data ekonomi Amerika Serikat, terutama laporan klaim pengangguran awal dan pidato sejumlah pejabat bank sentral AS atau The Fed.
Pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan AS periode April 2026 yang dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Jika data ekonomi menunjukkan perlambatan, peluang penurunan suku bunga diperkirakan semakin terbuka dan dapat menekan dolar AS lebih lanjut.
Baca Juga:Tekanan Fiskal dan Isu Harga BBM
Dari dalam negeri, pemerintah disebut menghadapi tekanan fiskal akibat tingginya harga energi global yang bertahan dalam waktu lama.
Kondisi geopolitik global yang belum stabil membuat beban subsidi energi berpotensi meningkat melebihi perhitungan dalam APBN.
Ibrahim Assuaibi menilai pemerintah memiliki ruang untuk menyesuaikan harga bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi apabila tekanan fiskal terus meningkat.
Meski demikian, opsi penyesuaian harga BBM disebut sebagai langkah terakhir karena berisiko menekan daya beli masyarakat.
Dengan sentimen positif dari pelemahan dolar AS dan optimisme geopolitik global, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung menguat.
Pelaku pasar tetap diminta mencermati perkembangan ekonomi global, arah kebijakan The Fed, serta dinamika harga energi dunia yang masih berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Optimisme pasar terhadap meredanya konflik geopolitik menjadi faktor utama yang menopang pergerakan mata uang Garuda.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan untuk melakukan transaksi keuangan tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Baca Juga:
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.890 per Dolar AS, Dipengaruhi Sentimen Global dan Domestik
Rupiah Masih Tertekan Meski BI Kembali Naikkan Suku Bunga, Bergerak di Kisaran Rp17.790–Rp17.840 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksi Melemah, Pasar Menanti Hasil RDG BI dan Arah Kebijakan The Fed
Rupiah Berpotensi Menguat pada Perdagangan 17 Juni 2026, Sentimen Perdamaian AS-Iran Jadi Pendorong
Rupiah Berpotensi Bergerak Fluktuatif, Diperkirakan di Kisaran Rp17.800–Rp17.950 per Dolar AS