Undana Berdampak, Tim Relawan Beri Pelayanan Maksimal Bagi Korban Gempa Flores
digtara.com -15 Agustus 2026 pagi, wilayah Mbay-Kabupaten Nagekeo dan sekitarnya diguncang gempa bumi magnitudo 7,7.
Baca Juga:
Guncangan gempa merobohkan rumah dan sejumlah fasilitas publik termasuk jalan dan jembatan. Ribuan warga di tujuh kabupaten terdampak harus mengungsi meninggalkan rumah mereka untuk mencari lokasi yang lebih aman guna terhindar dari reruntuhan bangunan dan efek gempa lainnya.
Bencana itu juga membawa multi persoalan hingga ke pelosok termasuk keterbatasan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan minimnya dokter di sejumlah fasilitas kesehatan.
DI tengah kondisi itu, Universitas Nusa Cendana (Undana) bergerak guna membawa dampak positif dalam penanganan pasca gempa.
Rektor Undana Kupang, Jefri S. Bale bersama jajaran mengirim 13 relawan yang terdiri dari dokter, dosen pendamping dan mahasiswa kedokteran untuk membantu masyarakat terdampak.
Baca Juga:Misi kemanusiaan itu dipimpin dr. Deif Tunggal, Sp.An-TI didampingi dr. Andrie Suryanta (Dokter Umum), dr. Joseph A.P. Lamanepa (Dokter Umum), dr. Jason Nathaniel Anugerah Abdullah (Dokter Umum).
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKKH juga ikut dalam misi kemanusian ini seperti Rastra Aprilino Amalo, Marlena Gracella F. V. Nura Lele, Asyera Chesaria Molacore, Monica Lerrick, Maria Manuelita Febriyani Toda, Marlisa Maria Magdalena Wuru, Arini Theresia Bunganaen, Maria Natasya Thoma, Alvin Christian Core, dan Dwindi Rut Taniu.
Tim kesehatan Undana ini fokus melayani kesehatan korban bencana. Mereka dibagi dalam dua kelompok.
Tim pertama bergerak di Kabupaten Nagekeo, sedangkan tim kedua menyasar wilayah Kabupaten Manggarai.
Di Nagekeo, tim yang terdiri dari dua dokter dan lima mahasiswa kedokteran menyambangi 10 desa/kelurahan serta Posko Lapangan Berdikari. Selama 23-30 Agustus, mereka melayani 640 pasien.
Ada cerita tentang warga yang harus menunggu dan berharap kedatangan dokter karena fasilitas kesehatan di desanya tidak memiliki dokter. Salah satunya terjadi di Desa Tedakisa.
Sekitar pukul 23.00 WITA, seorang ibu datang ke Posko Lapangan Berdikari. Ia meminta tim datang ke desanya. Ia melaporkan masih ada bayi yang demam tinggi dan lansia yang belum mendapatkan pengobatan.
Tim menindaklanjuti laporan ini dengan mempersiapkan diri dan perlengkapan untuk membantu warga pada keesokan harinya.
Perjalanan menuju desa tersebut tidak mudah. Jalan yang belum beraspal dan sebagian besar berbatu membuat perjalanan yang normalnya sekitar 1,5 jam menjadi dua hingga tiga jam.
Baca Juga:Di perjalanan, tim bahkan singgah di sejumlah posko yang disebut belum mendapat bantuan. Disana ditemukan seorang ibu yang diduga TB dan telah putus obat serta seorang anak yang diduga mengalami kasus TB paru.
Lansia di Takari-Kupang Ditemukan Meninggal Dalam Hutan Dalam Kondisi Tubuh Tidak Utuh
Ratusan Lembar Kawat Bronjong Digelapkan, Polres Malaka Tangkap Dua Pelaku di Takari-Kupang
Tidak Ditahan Setelah Jadi Tersangka Pencemaran Nama Baik, Perempuan di Manggarai Barat Dikenakan Wajib Lapor
Ketua FKPT NTT Hadiri Monev BNPT-FKPT 2026 Rumuskan Strategi Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Daerah
Pria di Ngada Ditemukan Dalam Bengkel dalam Kondisi Membusuk