Selasa, 08 September 2026

Undana Berdampak, Tim Relawan Beri Pelayanan Maksimal Bagi Korban Gempa Flores

Imanuel Lodja - Selasa, 08 September 2026 14:15 WIB
Undana Berdampak, Tim Relawan Beri Pelayanan Maksimal Bagi Korban Gempa Flores
ist
Tim relawan Undana bidang medis saat memberikan layanan kesehatan kepada warga korban gempa bumi

digtara.com -15 Agustus 2026 pagi, wilayah Mbay-Kabupaten Nagekeo dan sekitarnya diguncang gempa bumi magnitudo 7,7.

Baca Juga:

Bencana alam yang datang tiba-tiba ini ternyata berdampak ke sejumlah Kabupaten di daratan Flores, NTT.

Guncangan gempa merobohkan rumah dan sejumlah fasilitas publik termasuk jalan dan jembatan. Ribuan warga di tujuh kabupaten terdampak harus mengungsi meninggalkan rumah mereka untuk mencari lokasi yang lebih aman guna terhindar dari reruntuhan bangunan dan efek gempa lainnya.

Bencana itu juga membawa multi persoalan hingga ke pelosok termasuk keterbatasan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan minimnya dokter di sejumlah fasilitas kesehatan.

DI tengah kondisi itu, Universitas Nusa Cendana (Undana) bergerak guna membawa dampak positif dalam penanganan pasca gempa.

Rektor Undana Kupang, Jefri S. Bale bersama jajaran mengirim 13 relawan yang terdiri dari dokter, dosen pendamping dan mahasiswa kedokteran untuk membantu masyarakat terdampak.

Baca Juga:
Misi kemanusiaan itu dipimpin dr. Deif Tunggal, Sp.An-TI didampingi dr. Andrie Suryanta (Dokter Umum), dr. Joseph A.P. Lamanepa (Dokter Umum), dr. Jason Nathaniel Anugerah Abdullah (Dokter Umum).

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKKH juga ikut dalam misi kemanusian ini seperti Rastra Aprilino Amalo, Marlena Gracella F. V. Nura Lele, Asyera Chesaria Molacore, Monica Lerrick, Maria Manuelita Febriyani Toda, Marlisa Maria Magdalena Wuru, Arini Theresia Bunganaen, Maria Natasya Thoma, Alvin Christian Core, dan Dwindi Rut Taniu.

Tim kesehatan Undana ini fokus melayani kesehatan korban bencana. Mereka dibagi dalam dua kelompok.

Tim pertama bergerak di Kabupaten Nagekeo, sedangkan tim kedua menyasar wilayah Kabupaten Manggarai.

Di Nagekeo, tim yang terdiri dari dua dokter dan lima mahasiswa kedokteran menyambangi 10 desa/kelurahan serta Posko Lapangan Berdikari. Selama 23-30 Agustus, mereka melayani 640 pasien.

Pasien terbanyak datang dengan keluhan ISPA, sakit kepala, trauma psikologis seperti stres akut, kecemasan, serangan panik dan insomnia, hipertensi serta nyeri punggung bawah.

Ada cerita tentang warga yang harus menunggu dan berharap kedatangan dokter karena fasilitas kesehatan di desanya tidak memiliki dokter. Salah satunya terjadi di Desa Tedakisa.

Sekitar pukul 23.00 WITA, seorang ibu datang ke Posko Lapangan Berdikari. Ia meminta tim datang ke desanya. Ia melaporkan masih ada bayi yang demam tinggi dan lansia yang belum mendapatkan pengobatan.

Tim menindaklanjuti laporan ini dengan mempersiapkan diri dan perlengkapan untuk membantu warga pada keesokan harinya.

Perjalanan menuju desa tersebut tidak mudah. Jalan yang belum beraspal dan sebagian besar berbatu membuat perjalanan yang normalnya sekitar 1,5 jam menjadi dua hingga tiga jam.

Baca Juga:
Di perjalanan, tim bahkan singgah di sejumlah posko yang disebut belum mendapat bantuan. Disana ditemukan seorang ibu yang diduga TB dan telah putus obat serta seorang anak yang diduga mengalami kasus TB paru.

"Kita langsung melakukan observasi kepada semua warga yang ada. Agar mengetahui apa penyakit yang diderita dan menentukan tindakan apa yang harus dilakukan," ujar dr. Deif yang juga menjabat sebagai Koordinator Program Studi (KPS) Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi dan Terapi Intensif Undana itu.

Sesampainya di Tedakisa, rumah-rumah warga tampak rusak akibat gempa. Gedung kepala desa pun mengalami kerusakan.

Kisah lain terjadi di Desa Langedhawe. Tim harus merujuk seorang anak yang mengalami patah tulang agar mendapatkan penanganan lebih lanjut dan kemungkinan operasi ORIF.

Sementara di Manggarai, Tim 2 yang ditempatkan di wilayah kerja Puskesmas Nanu, Kecamatan Rahong Utara, melayani 752 pasien hanya dalam empat posko selama 25-28 Agustus.

Sebanyak 150 pasien dilayani di Posko Desa Tengku Lese, 209 pasien di Desa Bangkaruang, 229 pasien di Desa Benteng Tubi dan 164 pasien di Dusun Galang, Desa Ponglengor.

Hipertensi derajat II-III, reaksi stres akut, ISPA, nyeri punggung bawah dan insomnia menjadi keluhan terbanyak.

Baca Juga:
Di wilayah tersebut, relawan juga menemukan persoalan mendasar. Puskesmas setempat tidak memiliki dokter selama sekitar delapan bulan terakhir.

Stok obat terbatas, sementara alat medis seperti USG belum dimanfaatkan maksimal karena keterbatasan tenaga terlatih.

Bangunan puskesmas pun mengalami kerusakan akibat gempa sehingga pelayanan dilakukan di tenda darurat.

Bagi dr. Deif, perjalanan tersebut menjadi pengalaman sekaligus pembelajaran bagi para mahasiswa.

"Memang di pelosok warga sulit mendapat sentuhan pelayanan dari dokter. Dokter masih sangat minim sehingga kehadiran tim medis disaat kondisi gempa sangat membantu," sebutnya.

Ia juga mengisahkan bahwa, sempat ada anggota yang ragu bahkan membatalkan keberangkatan. Namun, ia mengingatkan mahasiswa bahwa misi tersebut merupakan bagian dari pengabdian sebagai tenaga medis.

"Ketika kami ditugaskan, ada banyak yang ragu-ragu bahkan batal berangkat. Tapi saya mengatakan kepada mahasiswa bahwa ini merupakan pengabdian kita sebagai tenaga medis dan pengalaman ini tidak semua tenaga medis, apalagi mahasiswa. Jadikan ini sebagai pelajaran berharga dalam perjalanan pelayanan kesehatan," ujarnya.

Dukungan Undana dan para dosen membantu tim menyiapkan obat serta kebutuhan pelayanan sebelum berangkat.

Dengan bekal tersebut, mereka menembus medan rusak dan memberikan pelayanan dari pagi hingga malam.

Yang paling membekas justru sambutan masyarakat. Warga menyambut kedatangan relawan dengan antusias. Warga bahkan mengalungkan tanda penghormatan berupa kain adat kepada dokter dan mahasiswa yang datang.

Baca Juga:
Saat hendak pulang, sebagian warga tidak rela. Pada 31 Agustus, ketika Posko Lapangan Berdikari sudah ditutup dan tim bersiap kembali ke Kupang, seorang bapak datang dan meminta dokter jangan pulang.

Dengan nada bercanda, ia bahkan mengatakan akan mendoakan agar gempa dan air kembali naik supaya dokter tetap tinggal.

Di balik kelakar itu, ujar dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif itu, tersimpan kerinduan yang sesungguhnya dari warga akan tenaga dokter.

"Warga di pelosok itu memang benar-benar sangat merindukan sentuhan tangan dokter. Mereka tidak memiliki dokter. Saat sakit mereka hanya ke Puskesmas dan mendapat pelayanan dari para perawat. Sehingga saat kita memberikan pelayanan mereka sangat senang dan terharu. Bahkan saat kami pulang mereka tidak mau," ujar dr. Deif.

Dari pengalamannya berada di Nagekeo, dr. Deif melihat persoalan lain yang tidak kalah penting.

Tenaga kesehatan lokal merupakan salah satu kelompok yang berada di garis depan ketika bencana terjadi. Namun mereka juga merupakan korban yang memiliki keluarga dan rumah yang harus dipikirkan.

Di satu sisi mereka harus memastikan pasien mendapatkan pelayanan. Disisi lain, mereka harus menghadapi dampak bencana yang mungkin juga dialami keluarga mereka sendiri.

Karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam penanganan bencana.

"Bagaimana mereka bisa melayani pasien secara maksimal, sedangkan mereka juga bagian dari korban dan mereka juga terancam. Jadi kesejahteraan mereka sangat penting," katanya.

Baca Juga:
Lebih jauh, ungkap dosen pendamping lapangan itu bahwa dalam penanganan bencana, salah satu yang paling penting adalah koordinasi antar relawan di lapangan.

Banyaknya tim medis yang datang ke wilayah terdampak bencana merupakan hal positif. Namun tanpa koordinasi yang baik, pelayanan berpotensi tidak merata karena satu lokasi bisa saja didatangi lebih dari satu tim, sementara wilayah lain belum tersentuh.

Karena itu, pemetaan kebutuhan dan koordinasi antar tim menjadi hal yang perlu diperkuat dalam setiap operasi kemanusiaan.

Selain persoalan koordinasi, kata dr. Deif pengalaman di Flores juga menjadi evaluasi bagi Undana dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi situasi kebencanaan.

Menurut dr. Deif, NTT berada di wilayah yang rawan berbagai jenis bencana. Karena itu, pembekalan kebencanaan seharusnya tidak hanya diberikan ketika bencana telah terjadi.

Mahasiswa yang tergabung dalam tim relawan perlu dibekali kemampuan pertolongan pertama, termasuk penanganan kondisi darurat dan resusitasi jantung paru atau CPR.

"Pembekalan tersebut sangat penting karena relawan sendiri dapat menghadapi kondisi kesehatan maupun situasi darurat selama berada di lokasi bencana," ujarnya.

dr. Deif juga menyoroti aspek yang sering terlupakan dalam misi kemanusiaan, yakni kesiapan mental relawan.

Menurutnya, bekerja di lokasi bencana bukan pekerjaan ringan. Relawan harus menghadapi korban, kerusakan, kelelahan, tekanan dan berbagai situasi emosional.

Karena itu, kata dia relawan Undana juga mendapatkan pembekalan mengenai Psychological First Aid atau penanganan pertama psikologis.

Baca Juga:
Pembekalan tersebut memberikan pemahaman kepada relawan mengenai cara menghadapi tekanan dan menjaga kondisi psikologis ketika berada di tengah situasi bencana.

dr. Deif menyebut pembekalan seperti ini seharusnya tidak hanya diberikan kepada tenaga kesehatan. Relawan non medis yang turun ke lapangan juga perlu memiliki kesiapan mental yang baik.

Sebab, lanjutnya jangan sampai orang yang datang untuk membantu justru mengalami masalah karena tidak siap menghadapi tekanan di lokasi bencana.

Kiprah tim relawan Undana dalam penanganan bencana gempa bumi di Pulau Flores tersebut mendapat apresiasi dari Gubernur NTT, Melki Laka Lena.

Menurut Melki, keterlibatan langsung civitas akademika Undana dalam penanganan bencana menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi penonton ketika masyarakat menghadapi persoalan dan krisis.

Hal itu disampaikan Melki saat menghadiri momentum Dies Natalis ke-64 Undana yang dirangkaikan dengan prosesi wisuda 1.872 lulusan, Selasa (1/9/2026) lalu.

Undana, kata dia, harus terus memperkuat mutu akademik, penelitian, inovasi, jejaring nasional dan internasional serta kualitas lulusannya.

Ia menegaskan, akar Undana adalah Flobamorata, yakni masyarakat NTT dengan seluruh persoalan, kekayaan, tantangan dan harapannya.

Menurut Melki, makna tersebut semakin nyata ketika gempa bumi melanda Pulau Flores. Di tengah situasi krisis, Undana memilih untuk bergerak dan hadir bersama masyarakat terdampak.

Undana mengirimkan tim kemanusiaan ke sejumlah lokasi terdampak, membangun posko darurat, menghadirkan pelayanan kesehatan, menggerakkan relawan serta menyalurkan bantuan logistik yang turut didukung Dharma Wanita Undana.

"Saya menyaksikan sendiri ketika turun ke Flores, anak-anak Undana tampil menjadi bagian terdepan mengurus pengungsi gempa Flores," ungkapnya.

Baca Juga:
Bagi Melki, kehadiran mahasiswa dan civitas akademika Undana di lokasi bencana memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dibutuhkan dalam situasi normal.

Justru dalam kondisi krisis, kata dia, keberadaan sebuah kampus diuji. Apakah ilmu yang dimiliki mampu diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk meringankan penderitaan masyarakat.

Menurutnya, pengalaman tersebut merupakan ruang belajar nyata bagi mahasiswa. Mereka dapat melihat langsung keluarga yang kehilangan tempat tinggal, masyarakat yang bertahan dalam keterbatasan hingga solidaritas yang tumbuh ketika kondisi tidak mudah.

"Pengalaman seperti ini tidak dapat diperoleh di dalam kelas. Di lapangan ilmu bertemu dengan kenyataan dan pendidikan bertemu dengan kemanusiaan," ujarnya.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Arie
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Jadi Kehormatan Jalani Misi Kemanusiaan di Flores, Tim Slog Polri Bahagia Layani Warga Korban Gempa

Jadi Kehormatan Jalani Misi Kemanusiaan di Flores, Tim Slog Polri Bahagia Layani Warga Korban Gempa

Amankan Dua Terduga Pelaku Pencurian Ternak, Polres Sumba Timur Masih Dalami Dugaan Keterlibatan Anggota Polri

Amankan Dua Terduga Pelaku Pencurian Ternak, Polres Sumba Timur Masih Dalami Dugaan Keterlibatan Anggota Polri

Misi Kemanusiaan, Polairud Antar Bantuan ke Wilayah Pesisir Terisolir

Misi Kemanusiaan, Polairud Antar Bantuan ke Wilayah Pesisir Terisolir

Bubarkan Aksi Balap Liar, Polres Belu Amankan Dua Sepeda Motor

Bubarkan Aksi Balap Liar, Polres Belu Amankan Dua Sepeda Motor

Sambut HUT Lantas, Polres Sumba Barat Salurkan Bantuan Ribuan Liter Air Bersih Bagi Warga

Sambut HUT Lantas, Polres Sumba Barat Salurkan Bantuan Ribuan Liter Air Bersih Bagi Warga

Pengungsi di Ngada Mulai Tinggalkan Tenda Pengungsi dan Kembali ke Rumah, Polres Ngada Tetap Lakukan Pendampingan Psikologi

Pengungsi di Ngada Mulai Tinggalkan Tenda Pengungsi dan Kembali ke Rumah, Polres Ngada Tetap Lakukan Pendampingan Psikologi

Komentar
Berita Terbaru