Jangan Kibarkan Bendera NU Setengah Tiang
digtara.com - Perhelatan Akbar Muktamar NU ke 35, di pondok pesantren Tambakberas, Jombang sudah berakhir. Semua kandidat, Rais Amm dan ketum PBNU terpilih masa khidmat 2026-2031 dan muktamirin sudah pulang, juga panitia lokal dan pusat sudah rehat. Pagelaran forum tertinggi NU sudah ditutup dengan Heppy ending; kandidat yang terpilih dan yang tidak terpilih khusuk mengikuti acara penutupan oleh presiden Prabowo dengan jabat erat dan cipika cipiki hangat.Secara norma dan konstitusi jam'iyah, Muktamar tersebut bisa disebut sukses. Parameternya panitia SC dan OC berhasil memfasilitasi semua kebutuhan dasar Muktamar dari yang administratif, akomodasi, konsumsi ,transportasi sampai materi persidangan tersedia memadai, bahkan ada lompatan transformasi digital yang berbasis cip, sehingga bisa mengeliminasi potensi terjadinya chaos pada saat registrasi peserta. Amanat Munas dan Konbes NU di ponpes Ploso, Kediri tentang sistem pemilihan Ketua Umum, masa idah politik dan rangkap jabatan politik yang harus dituntaskan oleh Muktamar telah berhasil diselesaikan dengan baik. Juga Bahtsul Masail berhasil menetapkan keputusan visioner dan strategis, seperti komersialisasi DNA pribadi, penggunaan cip untuk otak manusia dan hukum bitcoin.
Baca Juga:
*Mencerminkan kualitas emosional*
Sepekan Muktamar NU sudah berlalu, tapi ekspresi minor dan sinis masih terlihat jelas, secara "daring" maupun "luring". Terlihat banyak yang belum bisa move on, seraya membuat status pada gadget dan aplikasi lainnya dengan narasi dan flyer emosional destruktif, seperti pengibaran bendera NU setengah tiang, visualisasi duka cita dan lainnya. Tentu tindakan seperti itu tidak perlu, bahkan konyol bagi Nahdliyyin, apalagi bagi kader/tokoh/fungsionaris NU.
Pengibaran bendera NU setengah tiang berkonotasi negatif. Minimal ada dua arti pengibaran bendera setengah tiang, yaitu berkaitan dengan duka cita dan tragedi. Muktamar adalah lembaga atau forum permusyawaratan tertinggi NU yang dijamin konstitusi jam'iyah. Sebuah forum demokrasi dan kajian ilmiah yang tidak saja berisikan masalah suksesi kepemimpinan lima tahunan, tetapi berisikan evaluasi menyeluruh secara terbuka dan merdeka, menentukan arah Jam'iyyah ke depan dan pembahasan sekaligus penetapan produk hukum agama ( Masail Diniyah) Waqi'iyah, qonuniyah dan lainnya untuk kemaslahatan umat, bangsa dan negara.
Peserta Muktamar NU ( muktamirin) mayoritas santri dan kiai, bahkan kiai sepuh dengan kedalaman ilmu di atas rata-rata ( ',Alimun/faqihun fi Ulumuddin) dan kepribadian yang terjaga ( wara). Di belakang mereka puluhan ribu santri dan umat yang memuliakannya. Juga pondok pesantren yang harus dijaga kredibilitasnya.
Baca Juga:Muktamar adalah forum untuk mengekspresikan kewarasan, rasionalitas dan mujadalah ilmiah yang berkeadaban, sekaligus menguji intelektualitas, integritas, solidaritas, tanggung jawab dan kualitas emosional. Seorang muktamirin bisa saja hanya concern pada masalah suksesi kepemimpinan, misalnya, tetapi tidak boleh mereduksi, mendistorsi dan merusak hal hal substantif lainnya.
Rasa kecewa hal normal dalam kadar tertentu, tetapi menjadi upnormal jika diekspresikan dengan mengibarkan bendera NU setengah tiang. Lebih tidak normal lagi jika dilakukan oleh fungsionaris di semua level struktur jam'iyah, tokoh dan orang berpredikat santri, apalagi oleh peserta Muktamar. Dan tindakan seperti itu mencerminkan kualitas pribadinya.
Muktamar tidak ada kaitannya dengan kabar duka dan tragedi. Jika kekecewaan dikaitkan dengan masalah suksesi, lebih spesifik tentang kandidat yang didukung gagal terpilih dan pasal tertentu yang juga gagal diusung, maka jauh dari hal yang substansial. Semua muktamirin boleh bicara apa saja dengan segudang argumentasi nya, tapi tidak boleh memaksakan kehendaknya. Hal hal yang sudah diputuskan melalui mekanisme yang benar dan mendapatkan persetujuan mayoritas harus dihormati oleh semuanya dan bersifat mengikat.
Terasa naif apabila ekspresi kekecewaan dengan menampilkan gambar bendera NU setengah tiang hanya berkaitan dengan suksesi kepemimpinan. Sangat naif jika kekalahan kandidat dikaitkan dengan sistem voting dan mekanisme Ahwa. Itu tendensius. Itu egois, juga tidak fair.
Secara fisik, sejumlah kandidat yang tidak terpilih berdiri tegak dan gantlemen. Mereka meski lelah fisik dan psikisnya tampil dengan muka tegak duduk bersama kompetitor nya pada acara penutupan Muktamar. Mereka tetap optimis penuh persahabatan, berjabat tangan dengan pemenang. Mereka kader berpengalaman dan berintegritas. Kekalahan bukan lonceng Kematian, tetapi kesuksesan yang tertunda. Dan dalam konteks NU, tidak ada perebutan kekuasaan, sebaliknya sebuah ihtiyar berkhidmat dengan cara menjadi khodimul umah.
NU tumbuh berkembang dengan dinamikanya. Dia memiliki cara untuk mencari jalan keluar dari dinamika yang dihadapinya. NU tempat berhimpun para ulama dan para ulama berkumpul untuk kebaikan umat, bukan untuk maksiat. Menjadi warga NU dengan suka cita, kasih sayang dan persatuan sebagaimana diamanatkan oleh muassis dalam mukadimah qonun asasi. Barangsiapa yang pergi atau lari menyendiri karena gagal move on berpotensi dimangsa serigala. Jika dalam waktu dekat tidak dimangsa serigala bukan berarti selamat, karena bisa jadi serigala masih bertengkar atau masih belum perlu memangsanya.
Ditulis oleh:
Mufid Rahmat, kader NU tinggal di Boyolali.
Baca Juga:
Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp17.680 per Dolar AS, Ini Sentimennya
Sambut HUT Lantas, Polres Sumba Barat Salurkan Bantuan Ribuan Liter Air Bersih Bagi Warga
IHSG Hari Ini 7 September 2026 Turun 0,25%, BUMI, PTBA hingga AADI Menguat
Pengungsi di Ngada Mulai Tinggalkan Tenda Pengungsi dan Kembali ke Rumah, Polres Ngada Tetap Lakukan Pendampingan Psikologi
Cek Harga Emas ANTAM dan UBS di Pegadaian Hari Ini Selasa 8 September 2026