BI Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global
digtara.com -Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian global, terutama akibat meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga:
"Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Senin (1/6/2026).
Selain faktor eksternal, BI juga mencermati meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) di dalam negeri yang bersifat musiman. Kebutuhan tersebut antara lain berasal dari pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen perusahaan, di tengah terbatasnya arus masuk dolar Amerika Serikat (AS).
"Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas," katanya.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar secara aktif.
Baca Juga:Komitmen tersebut diwujudkan melalui optimalisasi intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, BI juga terus melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
BI Perketat Aturan Pembelian Dolar AS, Rupiah Masih Tertekan
IHSG Rawan Lanjut Koreksi ke 7.245–7.527, MBMA hingga PTBA Jadi Pilihan Analis
KPR Bunga Rendah 2026: Simulasi Cicilan dan Daftar Bank Terbaik untuk Beli Rumah
Survei Bloomberg: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III Diprediksi di Bawah 5%
Deputi Gubernur BI Diperiksa KPK, Kasus Korupsi CSR DPR RI Kian Terkuak