Rupiah Anjlok ke Rp17.346 per Dolar AS, Terburuk Sepanjang Sejarah dan Tekanan Global Menguat
digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatatkan tekanan signifikan pada perdagangan Kamis, 30 April 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,12 persen ke level Rp17.346 per dolar AS, menjadi titik terlemah sepanjang sejarah.
Baca Juga:
Tekanan Global Picu Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada lonjakan harga energi dunia.
Baca Juga:Harga minyak mentah acuan Brent bahkan menembus level US$109 per barel. Kondisi ini memperbesar kebutuhan impor energi Indonesia, sehingga meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik.
Selain itu, kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed yang cenderung hawkish turut memperkuat dolar AS. Ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka panjang mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam periode satu tahun terakhir hingga April 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 9,6 persen. Angka ini bahkan lebih buruk dibandingkan beberapa mata uang emerging markets seperti Zimbabwe Gold (ZiG) dan naira Nigeria.
Performa tersebut menjadi sorotan pasar karena kedua mata uang tersebut sebelumnya dikenal memiliki volatilitas tinggi, namun kini menunjukkan kinerja relatif lebih stabil dibanding rupiah.
Baca Juga:Faktor Domestik Perburuk Sentimen Pasar
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipicu kekhawatiran investor terhadap fundamental ekonomi. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen domestik berperan besar dalam pelemahan kali ini.
Salah satu faktor yang disorot adalah keputusan Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan di tengah tekanan global. Selain itu, belum adanya langkah strategis pemerintah dalam efisiensi anggaran turut menambah ketidakpastian.
Bank Indonesia Siapkan Langkah Stabilitas
Ia juga menyebut bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Meski demikian, tekanan eksternal dan sentimen pasar masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap volatil, sementara pelaku pasar menunggu arah kebijakan lanjutan baik dari dalam negeri maupun bank sentral global.
Baca Juga:
Rupiah Masih Tertekan Meski BI Kembali Naikkan Suku Bunga, Bergerak di Kisaran Rp17.790–Rp17.840 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksi Melemah, Pasar Menanti Hasil RDG BI dan Arah Kebijakan The Fed
Rupiah Berpotensi Menguat pada Perdagangan 17 Juni 2026, Sentimen Perdamaian AS-Iran Jadi Pendorong
Rupiah Berpotensi Bergerak Fluktuatif, Diperkirakan di Kisaran Rp17.800–Rp17.950 per Dolar AS
Harga Minyak Dunia Melonjak Setelah Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz