Redam Konflik Lanjutan, Kapolres Manggarai Barat Temui Warga di Lahan Sengketa
Baca Juga:
Namun, ia memohon pertimbangan agar aktivitas harian warga tidak dibatasi sepenuhnya di area konflik.
"Kami memohon agar aktivitas warga di lokasi tidak dilarang total, mengingat area tersebut secara historis merupakan lahan ulayat warisan leluhur Kedaluan Mbehal. Selain itu, kami juga menduga adanya keterlibatan pihak luar dari luar desa—seperti warga asal Kabupaten Manggarai, Pulau Boleng, dan Pulau Medang—saat bentrokan terjadi pada 29 Juli lalu," urainya.
Ketua LSM ILMU sekaligus perwakilan warga Mbehal, Donisius Parera, menyatakan kesiapan menjaga kondusivitas namun menuntut transparansi penegakan hukum.
"Kami menerima imbauan Kamtibmas dan menjamin wilayah Mbehal tetap kondusif. Namun, kami memohon agar proses penyidikan tindak pidana oleh Polres Manggarai Barat dilaksanakan secara profesional, obyektif, dan akuntabel. Kami juga berharap rencana mediasi bersama Pemda Manggarai Barat nantinya benar-benar melahirkan keputusan konkret, bukan sekadar formalitas," pinta Donisius.
Baca Juga:Merespons masukan tersebut, Mantan Danyon A Resimen III Pasukan Pelopor Korbrimob Polri ini menegaskan kembali keputusan penting mengenai status lahan.
"Selama proses hukum dan mediasi berjalan, kami menetapkan kawasan sengketa Lengkong Warang dalam status status quo. Kedua belah pihak, baik warga Mbehal maupun Rareng, dilarang keras melakukan aktivitas atau pergerakan fisik apa pun di lokasi sengketa tersebut demi mengantisipasi gesekan. Kami pastikan proses hukum terkait insiden bentrokan akan ditangani secara profesional dan transparan," jawab Kapolres.
Usai memimpin tatap muka di Manjerite, rombongan Kapolres Manggarai Barat melanjutkan perjalanan menuju Kampung Rareng pada pukul 12.00 Wita.
Di Rumah Gendang Kampung Rareng, Kapolres bersama rombongan diterima secara adat oleh Tua Golo Blasius Panda, tokoh pemuda, Robertus Rudi Mersi Mance, Tua Batu Walo Hendrikus Ansel, Tua Batu Golo Rego Stefanus Jelau, tokoh adat, Bernadus Tambuk, serta sekitar 45 warga setempat.
Membuka dialog di Rumah Gendang, AKBP Christian Kadang mengutarakan rasa hormat atas penerimaan warga serta menyerukan komitmen menjaga stabilitas Kamtibmas kawasan strategis.
Konflik Warga di Manggarai Barat Dipicu Perebutan Tanah Lengko Warang
Para Tokoh di Adonara Timur Sepakat Akhiri Konflik Lewat Perdamaian
Redam Konflik, Polres Flores Timur Kedepankan Pendekatan Humanis Dan Kearifan Lokal
Tim URC Resmob Komodo Polres Manggarai Barat Bekuk Tiga Pelaku Persetubuhan Anak
Kesalahpahaman Berujung Damai, Anggota Brimob dan TNI Di Manggarai Barat Saling Memaafkan