Houthi Serang Arab Saudi, Konflik Timur Tengah Makin Memanas dan Selat Hormuz Terancam
digtara.com - Eskalasi militer di Timur Tengah semakin memanas setelah kelompok Houthi asal Yaman yang bersekutu dengan Iran melancarkan gelombang serangan baru ke wilayah Arab Saudi pada awal pekan ini.
Baca Juga:
Kelompok Houthi mengonfirmasi telah meluncurkan puluhan rudal dan drone ke arah pangkalan udara militer di Khamis Mushait, wilayah selatan Arab Saudi.
Houthi mengklaim serangan tersebut menargetkan hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, serta gudang amunisi sebagai balasan atas operasi serangan udara Arab Saudi di Yaman.
Otoritas Arab Saudi kemudian mengeluarkan peringatan darurat di lokasi kejadian dan tiga kota lain di wilayah selatan.
Serangan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah fasilitas pipa minyak East-West milik Arab Saudi mengalami kerusakan akibat serangan pada Jumat.
Baca Juga:Pipa East-West merupakan salah satu jalur alternatif penting bagi ekspor minyak dari kawasan Teluk ketika jalur pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu.
Houthi Perluas Pengaruh di Laut Merah
Selain menyerang wilayah Arab Saudi, Houthi juga terus memperkuat pengaruhnya di sejumlah kawasan strategis Yaman.Pekan lalu, kelompok tersebut dilaporkan berhasil merebut Pulau Perim yang berada di muara Selat Bab al-Mandab, salah satu akses penting menuju Laut Merah.
Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan dan pelayaran internasional di kawasan.
Tekanan terhadap negara-negara Teluk juga meningkat setelah serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Houthi mengancam fasilitas dan jalur energi strategis.
Berdasarkan sumber internal, Washington sejauh ini disebut masih menolak permintaan Arab Saudi untuk melakukan intervensi militer secara langsung. Dukungan AS disebut masih dibatasi pada berbagi informasi intelijen.
Sementara itu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan menggelar pertemuan mendadak dengan Komandan Regional AS Laksamana Brad Cooper di Jeddah. Pertemuan tersebut membahas langkah-langkah untuk mengamankan kawasan.
Eskalasi pertempuran juga memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman. Badan Migrasi Internasional (IOM) mencatat sedikitnya 82.000 warga Yaman melarikan diri dari wilayah konflik sejak awal bulan ini, termasuk dari kota pelabuhan Mocha.
Perundingan Iran dan Negara Teluk Ditunda
Peluang penyelesaian secara diplomatik semakin suram setelah Kesultanan Oman mengumumkan penundaan pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk.Baca Juga:Pertemuan yang sebelumnya dijadwalkan pada Senin tersebut dirancang untuk membahas upaya membuka kembali Selat Hormuz, jalur maritim strategis yang sebelum perang menjadi jalur bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia.
Iran menyebut penundaan pertemuan tersebut terjadi atas permintaan Arab Saudi.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, juga menyampaikan sikap keras Teheran melalui media sosial X dengan menyatakan bahwa Iran tidak akan melakukan perundingan hingga persyaratannya dipenuhi.
Penundaan dialog tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keberlangsungan gangguan di Selat Hormuz.
ARab Saudi Diserang, Harga Minyak Dunia Melonjak 2,77 Persen, Brent Nyaris Tembus US$108 per Barel
AS Serang Iran Lagi, Harga Minyak Melambung di Atas USD 90 per Barel
5 Ide Dekorasi Kamar Minimalis Kekinian yang Nyaman dan Estetik
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 23 Juli 2026 Diproyeksi Melemah, Bergerak di Kisaran Rp17.920–Rp17.970 per Dolar AS
Konflik AS-Iran Memanas, Serangan Rudal Meluas hingga Negara Teluk dan Selat Hormuz Kembali Ditutup