Selasa, 08 September 2026

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 23 Juli 2026 Diproyeksi Melemah, Bergerak di Kisaran Rp17.920–Rp17.970 per Dolar AS

Arie - Kamis, 23 Juli 2026 09:35 WIB
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 23 Juli 2026 Diproyeksi Melemah, Bergerak di Kisaran Rp17.920–Rp17.970 per Dolar AS
dok
Ilustrasi.

digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 23 Juli 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.920 hingga Rp17.970 per dolar AS.

Baca Juga:

Pada perdagangan Rabu (22/7/2026), rupiah ditutup melemah 65 poin ke level Rp17.920 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026.

Selain mempertahankan BI Rate, Bank Indonesia juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.

BI Perluas Insentif untuk Menarik Dana Asing

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai keputusan BI menahan suku bunga dibarengi dengan kebijakan insentif guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui peningkatan arus modal asing.

Menurutnya, BI memperluas berbagai kebijakan untuk mendorong masuknya investasi portofolio asing ke pasar keuangan domestik.

"Bank Indonesia memperluas kebijakan insentif dan sejumlah langkah lain untuk meningkatkan aliran dana asing, memperkuat stabilitas rupiah, memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing, serta meningkatkan likuiditas," ujar Ibrahim.

Baca Juga:

Konflik AS-Iran Masih Membebani Rupiah

Selain faktor domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi kondisi global. Ibrahim menjelaskan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan.

Militer AS dilaporkan kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran selama beberapa hari berturut-turut. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi energi dunia, khususnya Selat Hormuz.

Apabila konflik terus meningkat, harga minyak dunia berpotensi naik sehingga biaya impor energi Indonesia ikut meningkat. Kondisi ini dinilai dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Ekspektasi Kebijakan The Fed Masih Jadi Sorotan

Pelaku pasar juga terus mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Lonjakan harga energi dinilai berpotensi meningkatkan inflasi global sehingga membuka peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Berdasarkan data Prime Terminal, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya mencapai sekitar 78%, sedangkan peluang kenaikan suku bunga pada September 2026 diperkirakan berada di kisaran 68%.

Kondisi tersebut diperkirakan masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Jumat 4 September 2026: Diprediksi Menguat ke Rp17.630

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Jumat 4 September 2026: Diprediksi Menguat ke Rp17.630

Pasar Kripto Hari Ini Mulai Bergairah, Bitcoin dan Altcoin Kompak Menguat

Pasar Kripto Hari Ini Mulai Bergairah, Bitcoin dan Altcoin Kompak Menguat

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Kamis 3 September 2026: Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Kamis 3 September 2026: Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 2 September 2026, Diprediksi Melemah

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 2 September 2026, Diprediksi Melemah

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini Selasa 1 September 2026, Diprediksi Menguat Terbatas

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini Selasa 1 September 2026, Diprediksi Menguat Terbatas

AS Serang Iran Lagi, Harga Minyak Melambung di Atas USD 90 per Barel

AS Serang Iran Lagi, Harga Minyak Melambung di Atas USD 90 per Barel

Komentar
Berita Terbaru