Rupiah Diprediksi Melemah, Terdorong Ketidakpastian Ekonomi AS dan Sinyal Pelonggaran The Fed
digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (10/10/2025). Pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian kondisi ekonomi dan politik di AS serta sentimen dari risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang memberi sinyal pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut.
Baca Juga:
- Rupiah 15 April 2026 Diprediksi Melemah ke Rp17.200 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global
- Nilai Tukar Rupiah 13 April 2026 Ditutup di Rp17.100 per Dolar AS, Bergerak Fluktuatif di Tengah Tekanan Global
- Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.200 per Dolar AS Hari Ini 13 April 2026, Dipicu Geopolitik dan The Fed
Komite Humas dan Literasi Asosiasi Perdagangan Berjangka Komoditi Indonesia, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pada perdagangan Kamis sore (9/10/2025), rupiah sempat menguat hingga 55 poin. Namun, penutupan pasar hanya menunjukkan penguatan tipis 5 poin ke level Rp16.568 per USD, dibandingkan Rp16.573 per USD pada hari sebelumnya.
"Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kisaran Rp16.560–Rp16.600 per dolar AS," ujar Ibrahim di Jakarta.
Baca Juga:Tekanan dari Faktor Eksternal
Ibrahim mengungkapkan bahwa faktor eksternal yang menekan rupiah berasal dari meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi AS serta ketidakstabilan politik di Washington. Hingga kini, Senat AS belum mencapai kesepakatan pendanaan lintas partai, memperpanjang penutupan pemerintahan (government shutdown) hingga hari kesembilan tanpa tanda-tanda resolusi.
Risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September menunjukkan bahwa The Fed hampir bulat untuk menurunkan suku bunga acuan untuk pertama kali sejak akhir 2024. Bank sentral AS juga memberi sinyal kemungkinan dua kali pemangkasan tambahan hingga akhir tahun ini. Hal ini membuat pelaku pasar memperkirakan peluang hampir 100% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober.
Pengaruh Geopolitik
Selain faktor ekonomi, kondisi geopolitik juga memengaruhi pasar. Ibrahim menyebut perkembangan positif di Timur Tengah menjadi perhatian. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menyetujui tahap awal rencana perdamaian Gaza, termasuk penghentian sementara pertempuran dan pembebasan sandera.
Baca Juga:Tekanan dari Dalam Negeri
Dari sisi domestik, rupiah mendapat tekanan akibat penurunan cadangan devisa Indonesia. Pada akhir September 2025, cadangan devisa tercatat US$148,7 miliar, menurun dibandingkan Agustus yang mencapai US$150,7 miliar. Penurunan ini dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia (BI).
Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia masih tergolong kuat. Angka tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional yang hanya sekitar tiga bulan impor.
Prospek ke Depan
Ke depan, BI memperkirakan ketahanan eksternal tetap solid, didukung prospek ekspor yang stabil serta arus modal asing yang berpotensi mencatatkan surplus. Namun dalam jangka pendek, rupiah masih akan tertekan oleh faktor eksternal, khususnya ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter di AS.
Baca Juga:
Rupiah 15 April 2026 Diprediksi Melemah ke Rp17.200 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global
Nilai Tukar Rupiah 13 April 2026 Ditutup di Rp17.100 per Dolar AS, Bergerak Fluktuatif di Tengah Tekanan Global
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.200 per Dolar AS Hari Ini 13 April 2026, Dipicu Geopolitik dan The Fed
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.140 per Dolar AS, Sentimen Timur Tengah Tekan Pasar
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.040 per Dolar AS Hari Ini, Sentimen Global Masih Bayangi