Rupiah Melemah Lagi, Defisit Transaksi Berjalan Sentuh Level Terburuk dalam 6 Tahun
digtara.com - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu memburuknya defisit transaksi berjalan Indonesia yang mencapai level terdalam dalam enam tahun terakhir.
Baca Juga:
Di pasar spot, rupiah ditutup di level Rp17.716 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 49 poin atau 0,29 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.667 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi meskipun Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada pekan ini.
Defisit Transaksi Berjalan Jadi Tekanan Utama
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen domestik, terutama memburuknya defisit transaksi berjalan Indonesia.Menurutnya, data terbaru menunjukkan defisit transaksi berjalan lebih besar dibandingkan perkiraan pasar dan jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS setelah data menunjukkan defisit neraca transaksi berjalan yang lebih besar dari perkiraan," ujar Lukman.
Baca Juga:
Kondisi ini dinilai memperkuat kekhawatiran investor terhadap keseimbangan eksternal Indonesia di tengah tekanan ekonomi global.
Rupiah Berpotensi Sentuh Rp17.800
Selain faktor fundamental domestik, sentimen risk off di pasar keuangan juga masih membayangi pergerakan rupiah.Aksi jual di pasar saham domestik membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS.
Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah pada awal pekan depan bahkan mendekati level Rp17.800 per dolar AS.
Pasar juga tengah mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya respons Iran terhadap proposal Amerika Serikat yang diperkirakan akan memengaruhi sentimen global.
Defisit Transaksi Berjalan Tembus Rp70 Triliun
Bank Indonesia melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2026 masih terjaga, namun defisit transaksi berjalan meningkat menjadi 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp70 triliun.Angka tersebut melonjak dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencatat defisit sebesar 2,5 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, mengatakan surplus neraca perdagangan nonmigas masih terjadi, meski nilainya menurun akibat perlambatan ekonomi global.
Baca Juga:
"Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meskipun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya," ujar Ramdan.
Tekanan Juga Datang dari Neraca Finansial
Selain transaksi berjalan, tekanan juga muncul pada transaksi modal dan finansial.Pada triwulan I 2026, pos transaksi modal dan finansial mencatat defisit sebesar 4,9 miliar dolar AS, berbalik dari surplus 9 miliar dolar AS pada akhir 2025.
Secara keseluruhan, Neraca Pembayaran Indonesia mengalami defisit sebesar 9,1 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp159 triliun.
Meski demikian, Bank Indonesia memastikan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada di level aman sebesar 148,2 miliar dolar AS.
Cadangan devisa tersebut dinilai cukup untuk membiayai 5,8 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
BI Optimistis Stabilitas Ekonomi Tetap Terjaga
Di tengah tekanan global, investasi langsung ke Indonesia masih mencatat surplus yang menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi nasional masih terjaga.Namun, Bank Indonesia mengakui ketidakpastian global tetap menjadi tantangan besar bagi ketahanan eksternal Indonesia.
Karena itu, BI bersama pemerintah akan terus memperkuat sinergi kebijakan guna menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.
Baca Juga:
Untuk keseluruhan tahun 2026, Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan tetap berada pada level aman di kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Rupiah Hari Ini 3 Agustus 2026 Diproyeksi Menguat, Simak Sentimen Penggeraknya
Rupiah Diproyeksikan Melemah ke Rp18.160 per Dolar AS Hari Ini, Ini Faktor Penekannya
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.130 per Dolar AS Hari Ini, Dipengaruhi FOMC The Fed dan Sentimen Global
Rupiah Berpotensi Bergerak Fluktuatif, Diproyeksikan Melemah ke Rp18.020 per Dolar AS
Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Berpotensi Bergerak di Atas Rp18.000 per Dolar AS
Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.963 per Dolar AS, Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Tekanan
7 Cara Menghemat Memori HP Internal 128 GB agar Tidak Cepat Penuh
Dump Truk Terbelah Dua Usai Kecelakaan Kereta Api di Sergai, Sopir Meninggal Dunia
Ponpes Durrotu Aswaja Banaran Buka Pesantren Tahfidz dan Ilmu Al-Qur'an Putri, Cetak Hafizah dengan Penguasaan Ilmu-ilmu Al-Qur'an Secara Komprehensif
4 Cara Cerdas Mengelola Keuangan di Era Digital dengan Bantuan AI
Bahlil Tegaskan BBM Subsidi Tidak Naik! Harga Pertamax Turun Jadi Rp15.950 per Liter
7 Tips Mengatur Keuangan agar Tabungan Terus Bertambah
9 Cara Memulai Financial Freedom untuk Masa Depan yang Lebih Stabil