Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Dipicu Geopolitik dan Tekanan Domestik
digtara.com -Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dan berpotensi mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026.
Baca Juga:
Pelemahan mata uang Garuda tersebut dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang dinilai sama-sama memberikan tekanan besar terhadap pasar keuangan Indonesia.
Pengamat Sebut Tekanan Rupiah Berasal dari Faktor Global dan Domestik
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan kondisi geopolitik internasional dan persoalan ekonomi dalam negeri menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.
"Faktor eksternal dan domestik sama-sama sangat mendukung pelemahan rupiah," ujar Ibrahim, dikutip Jumat (29/5/2026).
Baca Juga:Menurut dia, pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
"Ada kemungkinan saat pasar dibuka pada Jumat, rupiah bisa bergerak mendekati Rp18.000 per dolar AS," katanya.
Ketegangan Timur Tengah dan Rusia-Ukraina Tekan Rupiah
Ibrahim menjelaskan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta konflik Rusia-Ukraina membuat investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar Amerika Serikat.
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz dinilai menjadi salah satu risiko utama karena berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi dunia.
Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Hal ini dapat menciptakan ketegangan lebih lanjut di Selat Hormuz dan mendorong harga minyak lebih tinggi," tambahnya.
Ekonom Nilai Rupiah Masih Bisa Rebound
Di sisi lain, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai rupiah sebenarnya masih memiliki ruang penguatan apabila koordinasi kebijakan fiskal dan moneter berjalan lebih baik.
Baca Juga:Menurut Fakhrul, nilai tukar rupiah saat ini dinilai terlalu lemah dibandingkan kapasitas fundamental ekonomi Indonesia.
"Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya," ujar Fakhrul.
Ia memperkirakan rupiah berpotensi kembali menguat ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar AS jika bauran kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia lebih sinkron.
Rupiah Diproyeksi Bergerak Fluktuatif, Berpotensi Melemah ke Kisaran Rp17.986–Rp18.030 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif pada Perdagangan 16 Juli 2026, Berpotensi Melemah ke Rp18.110 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksi Bergerak Fluktuatif, Sentimen Konflik AS-Iran Masih Membayangi
Rupiah Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif, Berpotensi Melemah ke Rp18.150 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksi Bergerak di Kisaran Rp18.000–Rp18.128 per Dolar AS, Pasar Nantikan Data Inflasi AS