Pasca Gempa Bumi, Polri Tetap Hadir Bantu Masyarakat
Baca Juga:
Pendampingan psikologis juga dilakukan di wilayah Nagekeo dengan melibatkan tim trauma healing yang memberikan play therapy melalui permainan interaktif, bernyanyi dan aktivitas kelompok.
Sementara bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan, tim Dokkes melakukan kunjungan ke tenda pengungsian mandiri, memberikan penyuluhan kesehatan, pemeriksaan tanda-tanda vital, vitamin dan obat-obatan.
Warga dengan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dirujuk ke fasilitas kesehatan setempat.
Selain personel, logistik menjadi bagian penting dalam operasi kemanusiaan. Hingga periode pelaporan, bantuan yang diterima Polda NTT dan jajaran telah mencapai sekitar 304,27 ton.
Baca Juga:Dari jumlah tersebut, sekitar 202,90 ton atau 66,68 persen telah didistribusikan, sementara sekitar 101,38 ton masih berada sebagai stok dan disiapkan untuk penyaluran berikutnya.
Distribusi diarahkan ke berbagai wilayah, termasuk kawasan yang memiliki tantangan geografis.
Kabupaten Sikka dan Pulau Palue dijangkau melalui kapal Polair, helikopter serta dukungan trauma healing.
Wilayah Kabupaten Manggarai Timur mendapatkan paket sembako, kasur busa, tandon air dan makanan cepat saji. Sementara di Kabupaten Ende disalurkan bantuan sembako, sandang serta perlengkapan tidur.
Polri juga menyiapkan sarana komunikasi bergerak untuk membantu pemantauan kondisi wilayah yang terisolasi. Langkah ini penting agar kondisi masyarakat di lokasi yang sulit dijangkau tetap dapat dipantau dan kebutuhan mereka segera diketahui.
Personel Polres Manggarai turun langsung mendukung persiapan kembali beroperasinya kegiatan pendidikan setelah gempa.
Berdasarkan informasi dalam laporan, kegiatan belajar mengajar di Kabupaten Manggarai masih diliburkan pasca gempa dan direncanakan kembali dimulai pada 2 September 2026 sesuai Surat Edaran Dinas PPO Kabupaten Manggarai.
Kabid Humas Polda NTT, menegaskan bahwa jajaran kepolisian terus mengawal proses pemulihan masyarakat terdampak gempa.
Menurutnya, menurunnya jumlah pengungsi dari angka puncak tidak otomatis berarti kebutuhan masyarakat telah selesai. Kondisi di lapangan harus terus dipantau karena perpindahan warga, pendataan ulang maupun perubahan lokasi pengungsian dapat memengaruhi kebutuhan bantuan.
Baca Juga:
Akses Terbatas, Kapolres Manggarai Timur Antar Bantuan Warga Terdampak Gempa Pakai Sepeda Motor
Polri Antar Ratusan Dos Sembako untuk Warga Terdampak Gempa di Pulau Pemana Lewat Jalur Laut
Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Kasus Dokter Icha Penuhi Panggilan Polisi
Bertemu Uskup Agung Ende, Kapolda NTT dan Jajaran Sumbang Rp 100 Juta Untuk Bangun Kembali Gereja Katolik Terdampak Gempa
Pasca Gempa, Balai Besar KSDA NTT Kembali Buka TWA di Flores Dengan Pembatasan