Dari Tublopo, KPK Tanamkan Kejujuran dan Keberanian Sejak Dini
digtara.com -Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan bahwa pemberantasan korupsi tidak hanya dilakukan melalui penindakan, tetapi juga dengan membangun karakter generasi penerus sejak usia dini.
Baca Juga:
Kehadiran KPK untuk menanamkan nilai-nilai integritas kepada para siswa sekaligus mengingatkan pentingnya pemerataan akses pendidikan yang layak.
Bagi KPK, pendidikan antikorupsi merupakan investasi jangka panjang.
Nilai kejujuran, keberanian, tanggung jawab, dan kepedulian yang ditanamkan sejak anak-anak diyakini menjadi fondasi lahirnya generasi yang mampu menolak praktik korupsi ketika kelak memegang amanah di berbagai bidang.
Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Amir Arief, mengatakan bahwa KPK Mengajar merupakan bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai integritas kepada generasi muda sejak dini.
Baca Juga:Melalui pendidikan antikorupsi, KPK berharap anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berani, jujur, dan memiliki karakter kuat sehingga kelak mampu menjadi pemimpin yang berintegritas.
"Program KPK Mengajar tidak serta-merta memberantas korupsi di sekolah dasar. Yang kami lakukan adalah menanamkan bibit kejujuran sejak kecil. Harapannya, 15 hingga 20 tahun ke depan, Kabupaten TTU memiliki pemimpin-pemimpin yang berani dan bersih," ujar Amir.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mengikuti pembelajaran antikorupsi dengan metode yang interaktif dan menyenangkan.
Melalui permainan edukatif, pemutaran film, serta simulasi sederhana, anak-anak diajak memahami bahwa perilaku jujur dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari di lingkungan sekolah maupun rumah.
Menurut Amir, pendidikan antikorupsi akan lebih efektif apabila diterjemahkan dalam tindakan nyata yang dekat dengan kehidupan anak-anak, seperti mengerjakan pekerjaan rumah secara mandiri, tidak menyontek saat ujian, hingga berani menyampaikan kepada guru apabila melihat tindakan yang tidak jujur.
Kunjungan KPK ke SD Negeri 2 Tublopo juga memperlihatkan tantangan yang masih dihadapi dunia pendidikan di wilayah perbatasan.
Sekolah yang menampung 76 peserta didik tersebut masih menggunakan lantai tanah dan sebagian dinding berbahan bebak.
Saat musim hujan, air dapat masuk ke ruang kelas melalui celah-celah dinding sehingga mengganggu proses belajar mengajar.
Baca Juga:
KPK Mengajar Hadir di Kupang Bangun Generasi Antikorupsi dari Ruang Kelas
KPK Tetapkan Bupati Langkat Syah Afandin dan Seorang Kontraktor sebagai Tersangka Kasus Suap Proyek
Tiba di Jakarta, Bupati Langkat Syah Afandin Jalani Pemeriksaan Intensif di KPK
Perkuat Pendidikan Integritas dan Partisipasi Masyarakat di Wilayah Timur Indonesia, KPK Lepas Armada JNBA 2026
Wamen Imipas dan Delapan Orang Lainnya Ditahan KPK Terkait Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA Capai Ratusan Miliar