Konflik AS-Iran Memanas, Serangan Rudal Meluas hingga Negara Teluk dan Selat Hormuz Kembali Ditutup
digtara.com - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara terlibat aksi saling serang menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone) dalam skala besar pada Minggu (12/7/2026).
Baca Juga:
Dalam serangan balasan tersebut, Iran menargetkan sejumlah fasilitas militer dan aset strategis yang berkaitan dengan Amerika Serikat di kawasan Teluk. Teheran juga mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Perkembangan terbaru menandai meluasnya konflik ke wilayah yang sebelumnya relatif tidak terdampak. Qatar, yang selama ini berperan sebagai mediator dalam upaya gencatan senjata, dilaporkan ikut merasakan dampak serangan untuk pertama kalinya sejak April lalu.
Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) mengonfirmasi sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah proyektil yang masuk ke wilayahnya. Bahrain, Yordania, dan Oman juga melaporkan adanya ancaman serangan udara serta aktivitas intersepsi terhadap rudal maupun drone yang melintas di wilayah masing-masing.
Ancam Stabilitas Ekonomi Global
Konflik yang bermula dari serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu kini dinilai semakin mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah.Baca Juga:Penutupan Selat Hormuz oleh Iran berpotensi menghambat distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Jalur tersebut sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan energi global sehingga setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran diperkirakan akan berdampak langsung pada harga energi internasional.
Kenaikan harga minyak dipandang berisiko memperburuk tekanan inflasi global sekaligus meningkatkan biaya energi di berbagai negara.
Di Amerika Serikat, lonjakan harga bahan bakar diperkirakan menjadi isu domestik yang sensitif bagi pemerintahan Presiden Donald Trump, terutama menjelang pemilihan legislatif (midterm election) Kongres yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Kesepakatan Damai Terancam Gagal
Eskalasi terbaru juga mengancam keberlangsungan kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang baru disepakati beberapa waktu lalu. Perjanjian tersebut sebelumnya diharapkan menjadi dasar bagi pembukaan kembali Selat Hormuz dalam masa negosiasi lanjutan selama 60 hari.Namun, Iran kini dikabarkan mulai menerapkan sistem pengawasan dan penarikan retribusi permanen terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Insiden Kapal Komersial
Pada akhir pekan, Iran mengklaim telah menghentikan kapal komersial kedua setelah sebelumnya melepaskan tembakan peringatan terhadap kapal lain yang dinilai melanggar jalur pelayaran yang ditetapkan.Di sisi lain, Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) menegaskan armadanya tetap beroperasi untuk menjamin kebebasan navigasi internasional sesuai hukum laut.
"Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz. Arus lalu lintas pelayaran internasional tetap berjalan," demikian pernyataan CENTCOM.
Timur Tengah Membara Lagi! Iran Balas Serangan AS, Luncurkan Rudal dan Drone ke Sejumlah Pangkalan Militer Amerika
Catatan Penyiaran Piala Dunia 2026 (1)
AS-Iran Kembali Berunding di Swiss hingga Penutupan Selat Hormuz Gegara Ulah Israel
Amerika Serikat Taklukkan Australia 2-0 di Piala Dunia 2026
Harga Minyak Dunia Melonjak Setelah Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz