Rabu, 26 Agustus 2026

16 Serangan Siber per Detik Mengincar Indonesia, Naik 93 Persen pada Semester I 2026

Arie - Selasa, 25 Agustus 2026 09:45 WIB
16 Serangan Siber per Detik Mengincar Indonesia, Naik 93 Persen pada Semester I 2026
net
Ilustrasi.

digtara.com -Ancaman serangan siber di Indonesia semakin meningkat seiring pesatnya transformasi digital. Sepanjang semester I 2026, tercatat 257.976.333 serangan siber yang menargetkan Indonesia.

Jumlah tersebut setara dengan rata-rata 16 serangan siber setiap detik. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, angka serangan meningkat hingga 93,33 persen.

Baca Juga:

Data tersebut berdasarkan Laporan Ancaman Digital di Indonesia Semester I 2026 yang dirilis AwanPintar.id, platform intelijen ancaman siber nasional milik PT Prosperita Sistem Indonesia.

Lonjakan serangan menunjukkan bahwa ancaman siber tidak lagi sebatas serangan acak. Pelaku semakin memanfaatkan otomatisasi untuk memindai sistem, menemukan celah keamanan, mengambil alih akun, hingga menyebarkan malware.

Founder AwanPintar.id Yudhi Kukuh mengatakan peningkatan serangan tidak terlepas dari semakin luasnya permukaan serangan atau attack surface akibat percepatan transformasi digital.

Penggunaan teknologi cloud, kecerdasan buatan atau AI, serta meningkatnya transaksi online turut memperbesar jumlah titik yang berpotensi menjadi pintu masuk bagi pelaku serangan siber.

Hacker Mulai Memburu Akses Administrator

Salah satu perubahan yang menjadi perhatian adalah meningkatnya upaya mendapatkan hak akses administrator.

Pelaku tidak hanya berusaha mengetahui informasi mengenai sistem yang menjadi target. Mereka juga berupaya memperoleh akses dengan hak istimewa agar dapat mengendalikan sistem secara lebih luas.

Metode yang digunakan beragam, mulai dari mengeksploitasi layanan yang terbuka di internet, memanfaatkan kredensial hasil phishing dan credential stuffing, hingga menggunakan bot otomatis untuk mencoba masuk ke akun dengan hak akses tinggi.

Kondisi tersebut membuat keamanan akun administrator menjadi semakin penting, terutama bagi perusahaan, lembaga pemerintahan, dan penyedia layanan publik yang mengelola data dalam jumlah besar.

Data Pribadi dan Informasi Sensitif Ikut Jadi Sasaran

Ancaman siber juga tidak berhenti pada upaya mengambil alih sistem. Informasi penting dan data pribadi turut menjadi target.

Pelaku menggunakan berbagai metode, seperti eksploitasi kerentanan aplikasi, pencurian kredensial, infostealer, phishing, hingga brute force.

Penggunaan perangkat otomatis membuat serangan dapat dilakukan dalam skala besar. Pelaku bisa mencoba berbagai kombinasi nama pengguna dan kata sandi dalam waktu singkat, terutama terhadap akun yang masih menggunakan kata sandi lemah.

Karena itu, penggunaan kata sandi yang kuat, autentikasi multifaktor, pembaruan sistem, serta pemantauan aktivitas jaringan menjadi bagian penting dalam memperkuat pertahanan siber.

Penurunan Jenis Serangan Bukan Berarti Ancaman Berkurang

Laporan tersebut mencatat kategori Generic Protocol Command Decode masih menjadi salah satu ancaman terbesar dengan porsi 27,22 persen.

Meski demikian, kategori tersebut mengalami penurunan sebesar 41,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan pada satu jenis serangan tidak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi keamanan siber semakin aman. Perubahan tersebut justru memperlihatkan kemampuan pelaku dalam mengubah metode dan mengalihkan fokus ke jenis serangan lain yang lebih spesifik.

Serangan dari wilayah regional juga menjadi perhatian. Banyuwangi dan Tangerang tercatat sebagai sumber serangan baru dengan porsi masing-masing 4,53 persen dan 3,46 persen.

Selain itu, laporan mencatat jumlah CVE meningkat 71 persen pada Maret 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebuah kerentanan baru dapat dengan cepat menjadi sasaran eksploitasi ketika ditemukan oleh pelaku.

Sementara itu, jumlah Open Source Vulnerabilities (OSV) yang dirilis sepanjang semester I 2026 mencapai 34.804.

Keamanan Digital Harus Diperkuat Sebelum Diserang

Lonjakan 257,9 juta serangan siber dalam enam bulan menjadi sinyal bahwa perkembangan ekosistem digital juga diikuti dengan peningkatan risiko keamanan.

Semakin banyak sistem dan layanan terhubung ke internet, semakin luas pula permukaan yang dapat dimanfaatkan oleh penyerang.

Ancaman yang semakin otomatis membuat pertahanan siber tidak cukup hanya mengandalkan langkah penanganan setelah serangan terjadi. Pemerintah, perusahaan, dan pengguna perlu memperkuat keamanan sejak awal melalui pembaruan sistem, perlindungan data, pengamanan kredensial, serta pemantauan terhadap aktivitas mencurigakan.

Dengan rata-rata 16 serangan siber setiap detik, keamanan digital kini bukan lagi sekadar kebutuhan teknis, tetapi menjadi bagian penting dari perlindungan layanan publik, bisnis, dan data masyarakat.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru