Senin, 25 Mei 2026

IHSG Melemah ke 6.971 pada 7 April 2026, Saham Big Caps dan Sentimen Global Tekan Pasar

Arie - Rabu, 08 April 2026 10:00 WIB
IHSG Melemah ke 6.971 pada 7 April 2026, Saham Big Caps dan Sentimen Global Tekan Pasar

digtara.com -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 7 April 2026. Indeks terkoreksi 0,26 persen ke level 6.971,03 seiring tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps.

Baca Juga:

Pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif yang membayangi pasar, baik dari faktor global maupun domestik.

Pergerakan IHSG dan Aktivitas Pasar

Berdasarkan data IDX Mobile, sebanyak 431 saham ditutup melemah, sementara 261 saham menguat dan 266 saham stagnan.

Baca Juga:
Volume transaksi tercatat mencapai 25,49 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp13,45 triliun. Adapun kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12.223 triliun.

Data tersebut menunjukkan tekanan jual yang cukup dominan di pasar saham pada perdagangan hari tersebut.

Saham Big Caps Jadi Penekan IHSG

Sejumlah saham berkapitalisasi besar tercatat mengalami pelemahan dan menjadi penekan utama IHSG.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 2,42 persen ke level Rp3.230. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 2,17 persen ke Rp4.510.

Selain itu, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terkoreksi 3,08 persen ke Rp4.870, serta saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turun 1,90 persen ke Rp3.100.

Baca Juga:
Tekanan pada saham-saham unggulan ini turut memperberat kinerja indeks secara keseluruhan.

Sentimen Global Tekan Pasar Saham

Tim riset Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa pelemahan IHSG dipicu oleh sentimen negatif dari konflik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak global.

Ketidakpastian geopolitik membuat investor berada dalam posisi wait and see, antara harapan meredanya konflik dan potensi eskalasi yang dapat mendorong harga minyak semakin tinggi.

Selain itu, koreksi pada saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi turut menambah tekanan terhadap indeks.

Harga Minyak dan Rupiah Jadi Faktor Risiko

Baca Juga:
Harga minyak mentah yang bertahan di level tinggi berpotensi meningkatkan beban subsidi energi pemerintah, sehingga dapat memperlebar defisit anggaran negara.

Di sisi lain, depresiasi nilai tukar rupiah juga berisiko mendorong kenaikan inflasi, terutama dari barang-barang impor.

Pemerintah sendiri memastikan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi hingga akhir tahun 2026.

Namun, kebijakan tersebut memiliki konsekuensi fiskal. Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel diperkirakan menambah beban subsidi hingga Rp6,8 triliun.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
IHSG Ditutup Anjlok 3,54 Persen, Saham MEDC, DEWA, dan BRPT Jadi Pemberat Utama

IHSG Ditutup Anjlok 3,54 Persen, Saham MEDC, DEWA, dan BRPT Jadi Pemberat Utama

IHSG Diprediksi Melemah Hari Ini, Simak Rekomendasi Saham AADI, HRTA, MBMA, dan AMRT

IHSG Diprediksi Melemah Hari Ini, Simak Rekomendasi Saham AADI, HRTA, MBMA, dan AMRT

IHSG Hari Ini 20 Mei 2026 Diprediksi Masih Melemah, Simak Rekomendasi Saham ANTM hingga TLKM

IHSG Hari Ini 20 Mei 2026 Diprediksi Masih Melemah, Simak Rekomendasi Saham ANTM hingga TLKM

IHSG Hari Ini Diprediksi Masih Koreksi, Simak Rekomendasi Saham ADMR hingga INKP

IHSG Hari Ini Diprediksi Masih Koreksi, Simak Rekomendasi Saham ADMR hingga INKP

IHSG Hari Ini Berpotensi Melemah, Analis Rekomendasikan Saham DEWA hingga INDY

IHSG Hari Ini Berpotensi Melemah, Analis Rekomendasikan Saham DEWA hingga INDY

IHSG Hari Ini 13 Mei 2026 Berisiko Lanjut Melemah, BBCA hingga ISAT Masuk Rekomendasi Analis

IHSG Hari Ini 13 Mei 2026 Berisiko Lanjut Melemah, BBCA hingga ISAT Masuk Rekomendasi Analis

Komentar
Berita Terbaru