Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Selasa 23 Desember 2025
digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini, Selasa (23/12/2025). Rupiah diproyeksikan bergerak melemah di kisaran Rp16.770–Rp16.810 per dolar AS, dipengaruhi sentimen global dan kehati-hatian pasar menjelang rilis data ekonomi AS.
Baca Juga:
Sentimen Global Tekan Rupiah
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama dari sisi geopolitik dan data ekonomi Amerika Serikat.
Baca Juga:Salah satu sentimen utama datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.
"Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah berpotensi mengganggu produksi minyak di kawasan tersebut," ujar Ibrahim dalam risetnya, Senin (22/12/2025).
Kenaikan harga minyak berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena meningkatkan risiko inflasi dan defisit transaksi berjalan.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga cenderung bersikap wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, di antaranya:
Baca Juga:
- Data pertumbuhan ekonomi kuartal III
- Pesanan barang tahan lama (durable goods) Oktober
- Produksi industri periode Oktober dan November
Sentimen Domestik: Tantangan Ekonomi Masih Membayangi
Dari dalam negeri, pasar mencermati prospek ekonomi Indonesia ke depan. Ibrahim menilai, perekonomian nasional masih menghadapi tantangan besar baik dari faktor eksternal maupun domestik, meski peluang pertumbuhan tetap terbuka.
BI Perketat Aturan Pembelian Dolar AS, Rupiah Masih Tertekan
Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Dipicu Geopolitik dan Tekanan Domestik
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Sentimen Defisit Fiskal Jadi Tekanan Utama
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Investor Waspadai Defisit Transaksi Berjalan
Rupiah Melemah Lagi, Defisit Transaksi Berjalan Sentuh Level Terburuk dalam 6 Tahun