Rupiah Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif, Berpotensi Melemah ke Rp18.150 per Dolar AS
digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sentimen domestik yang masih membayangi pasar.
Baca Juga:
Pada penutupan perdagangan Senin (13/7/2026), rupiah tercatat melemah 44 poin atau 0,24 persen menjadi Rp18.109 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (Dollar Index/DXY) bergerak relatif stabil di level 100,95.
Direktur Doo Financial Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurutnya, aksi saling serang rudal dan pesawat nirawak (drone) antara kedua negara, disertai pernyataan Iran yang kembali menutup Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi global.
"Serangan tersebut merupakan bagian dari siklus aksi balasan yang terus berlanjut. Langkah Iran juga menunjukkan upaya mereka menegaskan kendali atas jalur pelayaran di Selat Hormuz," kata Ibrahim.
Baca Juga:
Konflik Timur Tengah Tekan Pasar
Penutupan kembali Selat Hormuz dinilai berpotensi mengganggu distribusi energi dunia karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak mentah global.Kondisi itu memicu kekhawatiran kenaikan harga energi yang dapat mendorong inflasi global semakin tinggi.
Menurut Ibrahim, meningkatnya risiko inflasi membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat kembali berubah.
Pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.
"Risalah rapat Federal Reserve pada Juni lalu menunjukkan sebagian pejabat masih melihat alasan untuk mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga karena tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama," ujarnya.
Sentimen Domestik Ikut Membebani
Selain faktor eksternal, Ibrahim menilai sentimen domestik juga turut memengaruhi pergerakan rupiah.Ia menyebut perhatian pasar tertuju pada perkembangan kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah.
Menurutnya, dinamika penegakan hukum berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kepastian hukum dan iklim investasi di Indonesia.
Ibrahim berpendapat bahwa kepastian hukum merupakan salah satu faktor penting yang dipertimbangkan investor sebelum menanamkan modal.
Baca Juga:"Ketika kepastian hukum dipersepsikan menurun, kepercayaan investor juga bisa ikut terpengaruh. Hal tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi arus investasi dan aktivitas ekonomi," ujarnya.
Rupiah Masih Berpotensi Tertekan
Dengan kombinasi sentimen eksternal berupa konflik geopolitik di Timur Tengah serta berbagai faktor domestik, Doo Financial Futures memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak melemah pada perdagangan hari ini.Nilai tukar rupiah diperkirakan berada dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar AS, sembari pelaku pasar terus mencermati perkembangan situasi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Rupiah Diproyeksi Bergerak di Kisaran Rp18.000–Rp18.128 per Dolar AS, Pasar Nantikan Data Inflasi AS
Rupiah Diproyeksi Masih Tertekan, Berpotensi Bergerak di Kisaran Rp18.050–Rp18.200 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksi Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.950–Rp18.050 per Dolar AS
Rupiah Berpotensi Bergerak Fluktuatif, Diproyeksikan di Kisaran Rp17.950–Rp18.050 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksikan Bergerak di Kisaran Rp17.950–Rp18.050 per Dolar AS