Selasa, 29 September 2026

Gempa Flores Berlalu, Fokus Pada Pemulihan dan Perbaikan Infrastruktur

Imanuel Lodja - Selasa, 29 September 2026 12:00 WIB
Gempa Flores Berlalu, Fokus Pada Pemulihan dan Perbaikan Infrastruktur
ist
Gempa Flores Berlalu, Fokus Pada Pemulihan dan Perbaikan Infrastruktur

digtara.com -Setelah lebih dari satu bulan wilayah Flores diguncang rangkaian gempa susulan, pemerintah daerah bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai mengarahkan perhatian dari respons kedaruratan menuju pemulihan yang lebih terukur.

Baca Juga:

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena menggelar rapat zoom evaluasi penanganan darurat bencana gempa bumi Flores Magnitudo 7,7, Sabtu (26/9/2026) diikuti Forkopimda dan jajaran terkait dari sejumlah kabupaten terdampak.

Rapat tersebut menjadi forum untuk mengevaluasi perkembangan aktivitas kegempaan, penanganan pengungsi, pendataan kerusakan, pemulihan infrastruktur, hingga kesiapan daerah menghadapi fase transisi menuju pemulihan.

Kepala BMKG NTT dalam paparannya mengungkapkan, hingga pukul 05.00 WIB pada hari ke-42 pascagempa, tercatat sebanyak 18.346 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 0,9 hingga 6,2.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 204 kejadian gempa dirasakan masyarakat. Khusus pada 26 September hingga pukul 05.00 WIB, tercatat 156 aktivitas gempa.

Data tersebut memperlihatkan adanya kecenderungan penurunan aktivitas kegempaan dari minggu ke minggu.

Baca Juga:

Pada minggu pertama tercatat 5.011 kejadian, kemudian turun menjadi 4.267 kejadian pada minggu kedua, 3.158 kejadian pada minggu ketiga, 2.421 kejadian pada minggu keempat, 1.750 kejadian pada minggu kelima, dan 1.743 kejadian pada minggu keenam.

Sedikit peningkatan pada minggu keenam dipengaruhi oleh gempa bermagnitudo 5,3 yang terjadi pada 22 September 2026. Berdasarkan klasifikasi magnitudo, gempa dengan kekuatan lebih dari M5,0 tercatat sebanyak 33 kejadian atau sekitar 0,18 persen.

Gempa terbesar mencapai Magnitudo 6,2 dan kelompok gempa ini disebut masih berpotensi dirasakan cukup luas serta dapat menimbulkan dampak terhadap bangunan yang sebelumnya telah mengalami kelemahan atau kerusakan.

Sementara gempa dengan magnitudo M4,0–5,0 tercatat sebanyak 556 kejadian atau sekitar 3,03 persen. Gempa M3,0–3,9 tercatat sebanyak 3.637 kejadian atau 19,82 persen, sedangkan gempa dengan magnitudo di bawah M3,0 mendominasi dengan 14.011 kejadian atau 76,35 persen.

BMKG menegaskan bahwa rangkaian gempa menunjukkan fase penurunan yang konsisten. Namun, tren tersebut tidak boleh dimaknai sebagai hitungan mundur menuju berhentinya seluruh aktivitas gempa.

Aktivitas gempa susulan dengan magnitudo tertentu masih dapat terjadi dan dirasakan masyarakat. Karena itu, pemantauan tetap dilakukan secara berkelanjutan selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam sepekan.

Pesan BMKG pun tegas: masyarakat diminta tetap tenang, tidak panik, tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta tetap berhati-hati dengan menghindari bangunan yang mengalami keretakan maupun kerusakan akibat gempa.

Di Kabupaten Sikka, penanganan bencana kini memasuki tahapan yang tidak kalah menentukan.

Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka menyampaikan bahwa daerah tersebut telah berada dalam masa transisi darurat menuju pemulihan, terhitung sejak 12 September hingga 10 Desember 2026.

Baca Juga:

Perubahan fase tersebut bukan berarti pekerjaan penanganan bencana telah selesai. Justru, fase transisi menghadirkan pekerjaan besar yang menuntut ketelitian, kecepatan sekaligus akuntabilitas.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Arie
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru