Senin, 05 Oktober 2026

Berduka Atas Meninggalnya Dokter Icha, Dokter di NTT Kenakan Pita Hitam Sepekan

Imanuel Lodja - Selasa, 30 Juni 2026 19:03 WIB
Berduka Atas Meninggalnya Dokter Icha, Dokter di NTT Kenakan Pita Hitam Sepekan
ist
Berduka Atas Meninggalnya Dokter Icha, Dokter di NTT Kenakan Pita Hitam Sepekan

digtara.com -Seluruh dokter di Nusa Tenggara Timur (NTT) diimbau mengenakan pita hitam selama sepekan mulai 29 Juni - 5 Juli 2026.

Baca Juga:

Aksi ini sebagai bentuk belasungkawa atas kepergian dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni alias dr. Icha.

Pengenaan pita hitam ini mulai dilaksanakan pada hari pemakaman dr. Icha pada Senin (29/6/2026).

Para dokter yang hadir sebagai pelayat di rumah duka serentak mengenakan jas dokter dilengkapi pita hitam pada lengan mereka masing-masing.

Misa pemakaman di Perumahan RSS Baumata Kupang ini dimulai 11.00 WITA.

Pada kesempatan yang sama pada pelayat diberikan kesempatan untuk memberi penghormatan terakhir kepada mendiang.

Baca Juga:
"Pita hitam ini sebagai bentuk penghormatan terakhir dan ungkapan solidaritas kepada sejawat tercinta," kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTT, dr. Stef Soka.

Beberapa perwakilan dari teman-teman dokter Icha juga memberikan penghormatan terakhir dan haru dan berurai air mata.

Kemudian jenazah dokter ini dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Liliba Kota Kupang.

Kehadiran dan kebersamaan sejawat merupakan penghormatan bagi almarhumah serta dukungan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Dalam imbauannya, IDI NTT meminta para dokter mengenakan pita hitam itu selama sepekan terhitung mulai dari hari pemakaman.

"Kita mengenakan pita hitam pada lengan kanan selama 7 hari, terhitung 29 Juni-5 Juli 2026, sebagai tanda duka dan solidaritas," ujar Stef.

IDI NTT juga menyebut kasus dr. Icha yang diintimidasi hingga mengalami depresi dan meninggal dunia menunjukkan perlindungan bagi tenaga kesehatan yang belum tercapai.

Menurut Stef implementasi Undang-Undang Kesehatan harusnya diikuti dengan regulasi khusus di tingkat daerah yang menjamin keselamatan tenaga kesehatan selama menjalankan praktik.

Stef juga menyebut kasus ini menjadi preseden buruk terlebih adanya dugaan intimidasi tiga anggota DPRD terhadap dokter tersebut.

Ia mengingatkan kepada pemerintah bahwa NTT hingga kini masih kekurangan dokter dan tenaga kesehatan.

Baca Juga:
Untuk itu, tegasnya, pemerintah daerah justru harus menjamin keamanan para tenaga medis saat bertugas.

"NTT hingga kini masih mengalami kekurangan dokter dan tenaga kesehatan. Untuk itu Ikatan Dokter Indonesia mendorong perlunya kebijakan dari pimpinan daerah untuk mendukung kondisi yang kondusif ini," ujar dia.

Sebelumnya, dr. Icha diduga mendapat intimidasi oleh tiga anggota DPRD TTU bernama Therensius Lazakar (Golkar), Norbertus Tubani (PKB) dan Veronika Lake (PDIP) di RS Leona Kefamenanu, tempatnya bertugas, pada 13 Juni lalu.

Pasca kejadian itu dr. Icha mengalami depresiasi berat dan guncangan mental yang dapat membahayakan dirinya sendiri.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Arie
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Pemuda di Belu-NTT Tikam Hingga Tewas Pria Diduga Pacar Ibunya

Pemuda di Belu-NTT Tikam Hingga Tewas Pria Diduga Pacar Ibunya

Tiga WNA dan Satu Tour Guide Belum Muncul Usai Menyelam, SAR Gabungan Turunkan Tim

Tiga WNA dan Satu Tour Guide Belum Muncul Usai Menyelam, SAR Gabungan Turunkan Tim

Walau Ada 62 Gempa Susulan di Sumba Barat Daya Namun Tidak Berpotensi Tsunami

Walau Ada 62 Gempa Susulan di Sumba Barat Daya Namun Tidak Berpotensi Tsunami

Polres Sumba Barat Daya Bekuk Satu Pelaku Penyerangan Hingga Korban Meninggal Dunia

Polres Sumba Barat Daya Bekuk Satu Pelaku Penyerangan Hingga Korban Meninggal Dunia

Diduga Pembagian Hasil Ritual Adat Masuk Rumah Tidak Merata, Warga Sumba Barat Daya Meregang Nyawa di Tangan Kerabatnya

Diduga Pembagian Hasil Ritual Adat Masuk Rumah Tidak Merata, Warga Sumba Barat Daya Meregang Nyawa di Tangan Kerabatnya

Sumba Barat Daya Diguncang Gempa  Magnitudo 6,1 Tidak Berpotensi Tsunami

Sumba Barat Daya Diguncang Gempa Magnitudo 6,1 Tidak Berpotensi Tsunami

Komentar
Berita Terbaru