Ancaman Rabies di Kabupaten Sikka-NTT Makin Mengkuatirkan
digtara.com -Data terbaru hingga April 2026 mencatat lonjakan signifikan dengan 3.006 spesimen hewan di Kabupaten Sikka, NTT dinyatakan positif rabies
Baca Juga:
Fakta ini terungkap dalam kegiatan koordinasi antara Unit Sosial Budaya Sat Intelkam Polres Sikka bersama Dinas Peternakan Kabupaten Sikka di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Rabu (15/4/2026).
Koordinasi dipimpin Kanit III Sat Intelkam Polres Sikka, Bripka Budi Prasetyo menggali kondisi riil di lapangan bersama Kepala Bidang Kewaspadaan Hewan, drh. Eus Keupung.
Baca Juga:Hasilnya mencerminkan bahwa rabies di Kabupaten Sikka masih menjadi ancaman serius yang belum terkendali.
Sebaran kasus rabies telah menjangkau sejumlah desa, di antaranya Desa Done, Leguwoda, Bhera, Masabewa, hingga Runut.
Wilayah-wilayah ini kini menjadi titik rawan penyebaran virus mematikan tersebut.
Angka ini menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan.
Di sisi lain, populasi anjing di Kabupaten Sikka diperkirakan mencapai kurang lebih 30.000 ekor.
Baca Juga:Namun ironisnya, cakupan vaksinasi masih tergolong rendah.
Kondisi ini menjadikan populasi hewan penular rabies (HPR) sebagai bom waktu epidemi yang sewaktu-waktu dapat meledak dan mengancam keselamatan masyarakat luas.
Pemerintah daerah sendiri tidak tinggal diam. Melalui instruksi Bupati Sikka, telah diberlakukan kebijakan penutupan wilayah atau lockdown hewan selama 90 hari di daerah terdampak.
Selain itu, upaya penanganan juga dilakukan melalui vaksinasi massal serta eliminasi selektif terhadap hewan yang terindikasi rabies.
Berbagai kendala masih membayangi efektivitas penanganan di lapangan. Keterbatasan stok vaksin menjadi salah satu persoalan krusial.
Baca Juga:Saat ini tersedia 22.500 vial vaksin anti rabies, terdiri dari 10.000 vial bantuan pemerintah pusat dan 12.500 vial dari dukungan anggaran daerah.
Masalah lain juga turut memperparah situasi, mulai dari rendahnya titer antibodi pasca vaksinasi, belum optimalnya sistem pelaporan berjenjang, hingga minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengendalian hewan peliharaan.
Di lapangan, masih banyak ditemukan anjing yang dilepasliarkan tanpa pengawasan, bahkan berkembang menjadi populasi liar yang sulit dikendalikan.
Baca Juga:Rendahnya partisipasi masyarakat dalam program vaksinasi semakin mempersempit ruang gerak pemerintah dalam menekan penyebaran rabies.
Padahal, upaya preventif terus dilakukan. Aparat bersama instansi terkait secara aktif memberikan imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap hewan berpotensi rabies, sekaligus memberikan edukasi terkait penanganan awal apabila terjadi gigitan.
Vaksinasi terhadap hewan peliharaan seperti anjing, kucing, dan monyet juga terus digencarkan.
Situasi ini menjadi peringatan bahwa penanganan rabies di Kabupaten Sikka membutuhkan langkah yang lebih agresif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Peningkatan cakupan vaksinasi, pengendalian populasi hewan penular, serta perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman ini.
Baca Juga:Jika tidak ditangani secara serius dan cepat, maka rabies akan terus meluas dan berpotensi menimbulkan korban jiwa.
Di tengah kondisi tersebut, perang melawan rabies di Kabupaten Sikka belum usai dan waktu tidak berpihak pada kelengahan.
Kapal Terombang-ambing di Perairan Sikka, Tim SAR Gabungan Selamatkan Kru KM Putra Cantika
Tiga Pria Pencuri Handphone di Manggarai Diamankan Polisi
Tengah Malam, Seorang Pria di Kupang Ancam Istri dan Anak-anak Dengan Parang
Dapur MBG di NTT hanya dibolehkan Pakai LPG 50 Kilogram
Pergi Dari Rumah Tanpa Pamit, Lansia di Belu Ditemukan Meninggal Dalam Hutan