Rupiah Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif pada Perdagangan 16 Juli 2026, Berpotensi Melemah ke Rp18.110 per Dolar AS
digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan terhadap kondisi fiskal domestik.
Baca Juga:
Sementara itu, Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) tercatat bergerak stabil di level 100,92.
Rupiah Berpotensi Terkoreksi
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah pada perdagangan sebelumnya berpotensi tidak berlanjut.Menurutnya, mata uang Garuda masih menghadapi tekanan dari meningkatnya ketidakpastian global sehingga pergerakannya diperkirakan cenderung melemah meski tetap bergerak fluktuatif.
Ia memproyeksikan rupiah akan berada pada kisaran Rp18.060–Rp18.110 per dolar AS selama perdagangan Kamis.
Baca Juga:
Konflik Geopolitik Masih Jadi Sentimen Utama
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.Perkembangan terbaru menunjukkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. Sebagai respons, Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap infrastruktur milik AS di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Iran juga kembali menyatakan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dunia.
Meningkatnya ketegangan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global sekaligus meningkatkan minat investor terhadap aset-aset safe haven.
Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tekanan Fiskal Domestik Juga Menjadi Perhatian
Selain sentimen global, pasar juga mencermati kondisi fiskal Indonesia.Ibrahim menilai kebutuhan pembiayaan pemerintah melalui penerbitan utang masih cukup besar pada 2026.
Kebutuhan penarikan utang bruto diperkirakan mencapai sekitar Rp1.768 triliun, sementara pemerintah juga dijadwalkan membayar pokok utang sekitar Rp900 triliun pada tahun berjalan.
Per akhir Desember 2025, posisi utang pemerintah tercatat sebesar Rp9.638 triliun.
Dengan tambahan pembiayaan utang serta dampak pelemahan nilai tukar terhadap kewajiban dalam mata uang asing, posisi utang pemerintah diperkirakan dapat meningkat hingga sekitar Rp10.600 triliun pada akhir 2026.
Baca Juga:
Investor Masih Mewaspadai Volatilitas
Pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari perkembangan konflik geopolitik, pergerakan dolar AS, hingga kondisi fiskal nasional.
Rupiah Diproyeksi Bergerak Fluktuatif, Sentimen Konflik AS-Iran Masih Membayangi
Rupiah Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif, Berpotensi Melemah ke Rp18.150 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksi Bergerak di Kisaran Rp18.000–Rp18.128 per Dolar AS, Pasar Nantikan Data Inflasi AS
Rupiah Diproyeksi Masih Tertekan, Berpotensi Bergerak di Kisaran Rp18.050–Rp18.200 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksi Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.950–Rp18.050 per Dolar AS