Kamis, 04 Juni 2026

Rupiah Diperkirakan Masih Tertekan, Berpotensi Bergerak di Kisaran Rp17.960–Rp18.030 per Dolar AS

Arie - Kamis, 04 Juni 2026 09:36 WIB
Rupiah Diperkirakan Masih Tertekan, Berpotensi Bergerak di Kisaran Rp17.960–Rp18.030 per Dolar AS
net
Ilustrasi.

digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Mata uang Garuda diproyeksikan berada di kisaran Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS.

Baca Juga:

Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup melemah 125,50 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.966 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,09 persen ke posisi 99,30.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, Israel masih melanjutkan operasi militernya di Lebanon Selatan, sementara Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal balistik ke wilayah Kuwait dan Bahrain. Di sisi lain, ketegangan di sekitar Selat Hormuz juga meningkat setelah Amerika Serikat melakukan serangan di Pulau Qeshm, Iran.

Pulau tersebut berada di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia.

"Pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk pembicaraan yang melibatkan Israel dan Lebanon serta ketidakpastian terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran," ujar Ibrahim.

Baca Juga:
Ia menambahkan, meski kedua negara sebelumnya menyatakan telah mencapai kerangka kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik, hingga kini belum ada persetujuan resmi yang mengikat kedua belah pihak.

Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah turut dipengaruhi oleh data inflasi Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan sebesar 0,28 persen, sementara Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,09 pada April menjadi 111,40 pada Mei 2026.

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati kinerja perdagangan Indonesia. Neraca perdagangan barang Indonesia pada April 2026 masih mencatat surplus sebesar US$89,1 juta. Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Meski demikian, Ibrahim menilai surplus perdagangan yang semakin menyempit menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap sektor eksternal masih cukup besar.

"Secara statistik, surplus perdagangan April menyusut cukup tajam. Hal ini menunjukkan adanya tekanan terhadap daya beli dan ketahanan eksternal, terutama akibat gangguan pasokan global yang berkaitan dengan situasi di Selat Hormuz," katanya.

Pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan geopolitik global dan data ekonomi domestik yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
GAWAT! Rupiah Dibuka Melemah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Geopolitik Global

GAWAT! Rupiah Dibuka Melemah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Geopolitik Global

Rupiah Diprediksi Masih Fluktuatif, Berpotensi Melemah pada Perdagangan Rabu

Rupiah Diprediksi Masih Fluktuatif, Berpotensi Melemah pada Perdagangan Rabu

Rupiah Diperkirakan Berfluktuasi di Tengah Ketidakpastian Global

Rupiah Diperkirakan Berfluktuasi di Tengah Ketidakpastian Global

BI Perketat Aturan Pembelian Dolar AS, Rupiah Masih Tertekan

BI Perketat Aturan Pembelian Dolar AS, Rupiah Masih Tertekan

Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Dipicu Geopolitik dan Tekanan Domestik

Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Dipicu Geopolitik dan Tekanan Domestik

Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Sentimen Defisit Fiskal Jadi Tekanan Utama

Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Sentimen Defisit Fiskal Jadi Tekanan Utama

Komentar
Berita Terbaru