Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.530 per Dolar AS, BI Siapkan Intervensi Agresif
digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Senin 18 Mei 2026, diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di kisaran Rp17.470 hingga Rp17.530 per dolar AS.
Baca Juga:
Strategic Research Manager Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai langkah pengurasan cadangan devisa (cadev) dan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi konsekuensi logis untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan pasar global.
Menurut Yusuf, dalam sistem managed floating atau nilai tukar mengambang terkendali, penggunaan cadangan devisa merupakan langkah wajar yang dilakukan bank sentral.
"Pelemahan cadangan devisa saat tekanan kurs meningkat justru merupakan konsekuensi normal dari fungsi bank sentral sebagai stabilizer pasar. Cadangan devisa memang disiapkan untuk digunakan ketika volatilitas meningkat, bukan sekadar disimpan pasif," ujarnya, Minggu (17/5/2026).
Sebelumnya, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan rupiah menjelang libur panjang terjadi di tengah sentimen global yang masih rapuh.
Baca Juga:Ia menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait negosiasi dengan Iran yang dinilai meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan harga energi akibat terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz.
"Perang dengan Iran mulai berdampak pada perekonomian AS karena harga minyak yang lebih tinggi menyebabkan harga bahan bakar menjadi lebih mahal, dan para ekonom memperkirakan melihat dampak putaran kedua dalam beberapa bulan mendatang," kata Ibrahim dalam siaran pers.
BI disebut akan terus melakukan intervensi di pasar offshore secara berkelanjutan mulai dari sesi perdagangan New York, Asia, hingga Eropa.
Selain itu, BI juga akan melakukan intervensi agresif di pasar domestik mulai 18 Mei 2026 melalui pasar valas, baik spot maupun Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati posisi utang pemerintah yang mencapai Rp9.920,42 triliun per Maret 2026. Meski mendekati Rp10.000 triliun, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di level 40,75 persen atau di bawah batas aman 60 persen sesuai Undang-Undang Keuangan Negara.
Baca Juga:
Rupiah Diprediksi Menguat Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 20 Agustus 2026 Berpotensi Menguat
Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Rabu 19 Agustus 2026
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Selasa 18 Agustus 2026 Diproyeksikan Bergerak di Rp17.750–Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Jumat 14 Agustus 2026