Rupiah Berpotensi Masih Tertekan, Bergerak di Kisaran Rp17.900–Rp17.950 per Dolar AS
digtara.com - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (1/7/2026) setelah ditutup melemah pada sesi sebelumnya. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik yang diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan mata uang Garuda.
Baca Juga:
Pergerakan mata uang Asia berlangsung bervariasi. Yen Jepang melemah 0,26%, dolar Singapura turun 0,20%, won Korea Selatan terkoreksi 0,80%, dan ringgit Malaysia melemah 0,14%. Sementara itu, yuan China menguat 0,11%, dolar Taiwan naik 0,02%, serta baht Thailand menguat 0,13%.
Ketidakpastian AS-Iran dan Sikap The Fed Jadi Sorotan
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen eksternal masih didominasi perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Pasar sempat berharap adanya pembicaraan lanjutan di Doha setelah tercapainya gencatan senjata pada pertengahan Juni. Namun, pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran yang menegaskan belum ada agenda perundingan baru kembali memicu ketidakpastian.Situasi tersebut membuat pelaku pasar tetap mewaspadai potensi gangguan terhadap jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Di sisi lain, ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini turut menopang penguatan dolar AS. Sikap hawkish sejumlah pejabat bank sentral AS membuat investor kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Baca Juga:Fokus pasar kini juga tertuju pada rangkaian data ekonomi Amerika Serikat, termasuk laporan JOLTS, Consumer Confidence, serta data Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pekan ini. Konsensus pasar memperkirakan penambahan sekitar 114 ribu lapangan kerja, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,3%.
Pasar Menanti Data Ekonomi Domestik
Dari dalam negeri, investor menunggu publikasi sejumlah indikator penting seperti neraca perdagangan dan perkembangan inflasi.Surplus perdagangan Indonesia hingga April 2026 tercatat sebesar US$5,64 miliar, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih berada di atas US$10 miliar. Penyusutan surplus tersebut dinilai berpotensi memperbesar tekanan terhadap defisit transaksi berjalan apabila tidak diimbangi oleh aliran modal asing.
Sementara itu, inflasi nasional masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia, meski tekanan harga pangan di beberapa daerah, khususnya wilayah Sumatra, mulai meningkat.
Selain data ekonomi, pasar juga mencermati implementasi regulasi baru terkait perlindungan hukum bagi investor pembeli obligasi yang diterbitkan oleh dana investasi negara Danantara, yang memunculkan perhatian mengenai aspek tata kelola dan transparansi.
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 9 Oktober 2026, Dolar AS Bertahan di Level Tinggi
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 8 Oktober 2026 Diprediksi Melemah, Cek Proyeksinya
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 7 Oktober 2026 Diprediksi Konsolidasi, Cek Proyeksinya
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 6 Oktober 2026 Diprediksi Melemah, Cek Proyeksinya
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 5 Oktober 2026 Diprediksi Rp17.880-Rp17.930 per Dolar AS