Telur Itik Cage-Free Mulai Didorong, Peternak Diminta Terapkan Pemeliharaan Bertanggung Jawab
digtara.com - Telur itik yang beredar di pasaran tidak seluruhnya berasal dari itik yang dipelihara secara umbaran atau sistem angon. Saat ini, peternakan itik petelur juga semakin banyak menggunakan sistem intensif, termasuk kandang baterai atau kandang individu berukuran sempit.
Baca Juga:
Padahal, telur itik dari sistem cage-free dinilai memiliki keunggulan dari sisi penerapan kesejahteraan hewan.
Across Species Project Indonesia (ASPI), organisasi nirlaba yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan itik petelur, turut mendorong penerapan sistem pemeliharaan bebas sangkar melalui pembentukan Jaringan Peternak Itik Petelur Bebas Sangkar atau Duck Cage-Free Network.
Jaringan tersebut beranggotakan peternak itik petelur yang menerapkan sistem cage-free. ASPI juga menggelar berbagai pelatihan dan seminar untuk meningkatkan praktik kesejahteraan hewan di peternakan.
Salah satunya adalah seminar yang digelar pada 10 September 2026 di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan diikuti 34 peternak.
Baca Juga:
Cage-Free Dinilai Bisa Membangun Nilai Produk
Seminar tersebut menghadirkan eksportir telur itik asal Jawa Barat sekaligus Direktur CV Surya Abadi Telur Asin, Rully Lesmana. Mengusung tema "Membangun Nilai Produk Melalui Praktik Pemeliharaan yang Bertanggung Jawab", kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman peternak mengenai pentingnya kesejahteraan hewan sekaligus kaitannya dengan nilai produk dalam pemasaran.Rully mengatakan penerapan sistem cage-free untuk telur itik sudah cukup luas di sejumlah negara. Salah satunya China, yang merupakan salah satu negara penghasil telur terbesar di dunia dan memiliki pangsa pasar yang besar.
Ia mencontohkan Xuri Egg Products, salah satu produsen telur itik terbesar di China yang produknya telah dipasarkan ke Eropa, Amerika, Australia, dan Asia Tenggara.
Perusahaan tersebut mencatat penjualan sekitar 505 juta RMB pada 2023 dan berkomitmen menggunakan 100 persen telur itik cage-free untuk seluruh produk ekspornya pada 2026.
"Rajanya saja sudah sampai di sana—sudah berkomitmen ekspor dengan telur cage-free—saya jadi berpikir, Indonesia kapan?" kata Rully.
ASPI Gelar Pelatihan untuk Peternak Itik
Seminar di Sleman merupakan kegiatan ketiga yang digelar ASPI untuk mendorong penerapan sistem bebas sangkar pada peternakan itik petelur.Sebelumnya, ASPI mengadakan seminar pada 2025 yang membahas dasar-dasar pemeliharaan itik menggunakan sistem bebas sangkar.
Pada pertengahan 2026, ASPI juga mengadakan pelatihan teknis yang membahas penerapan biosekuriti sederhana dan manajemen kandang. Pelatihan tersebut turut mencakup pengadaan nest box untuk itik bertelur.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong peternak menerapkan praktik pemeliharaan yang lebih bertanggung jawab sekaligus meningkatkan kesejahteraan itik petelur.
Mengapa Itik Perlu Dipelihara dengan Sistem Bebas Sangkar?
Itik merupakan hewan semiakuatik yang memiliki kaki berselaput dan secara alami dirancang untuk melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan air. Dalam sistem kandang baterai, ruang gerak itik menjadi sangat terbatas dan kesempatan untuk melakukan perilaku alaminya juga berkurang.Producer Engagement Officer ASPI, Nuril, mengatakan kondisi kandang baterai dapat membatasi pergerakan itik secara signifikan.
"Di dalam kandang baterai, itik hanya memiliki ruang gerak tak lebih besar dari sebuah laptop berukuran 13 inci, yang bahkan tak lebih besar dari keseluruhan panjang tubuhnya. Leher itik sering kali mereka julurkan hingga ke luar kandang, menyebabkan gesekan yang berpotensi menimbulkan luka; kaki mereka yang berselaput juga harus bersentuhan dengan kandang bambu atau kawat sepanjang hari," kata Nuril.
Menurut ASPI, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya mendorong sistem pemeliharaan bebas sangkar yang memberikan ruang gerak lebih memadai bagi itik.
Taiwan Sudah Melarang Kandang Baterai untuk Peternakan Baru
Tren menuju sistem pemeliharaan yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan juga terjadi di sejumlah negara.Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aspek kesejahteraan hewan semakin menjadi perhatian dalam perdagangan produk hewani secara global.
Karena itu, industri telur itik di Indonesia dinilai perlu mulai menyesuaikan praktik pemeliharaan dengan perkembangan standar global. Penerapan sistem cage-free tidak hanya berkaitan dengan kondisi pemeliharaan itik, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari upaya membangun nilai dan daya saing produk telur itik Indonesia di pasar yang lebih luas.