Meta Bayar Rp320 Triliun Imbas Instagram dan Facebook Berdampak Buruk bagi Anak
digtara.com - Meta sepakat membayar penyelesaian hukum senilai US$18 miliar atau sekitar Rp320 triliun kepada 52 jaksa agung negara bagian di Amerika Serikat terkait dugaan dampak buruk media sosial terhadap anak-anak.
Baca Juga:
Dilansir dari TechCrunch, Kamis (27/8/2026), salah satu ketentuan dalam penyelesaian hukum tersebut adalah penerapan sejumlah fitur yang dirancang untuk membatasi penggunaan media sosial oleh remaja.
Beberapa perubahan yang dijanjikan Meta mencakup pembatasan waktu layar hingga dua jam per hari, notifikasi pengingat setiap 15 menit, serta pemblokiran otomatis akun remaja pada pukul 00.00 hingga 06.00.
Teknologi Verifikasi Usia Jadi Tantangan
Penerapan aturan tersebut membuat kemampuan Meta dalam melakukan verifikasi usia menjadi semakin penting.Profesor komunikasi di Universitas Syracuse, Dr. Alexis Ingber, menilai teknologi yang tersedia saat ini masih memiliki tingkat akurasi yang menjadi persoalan.
Baca Juga:Menurutnya, platform media sosial harus mampu membedakan pengguna anak-anak dan orang dewasa secara tepat. Namun, metode yang tersedia saat ini dinilai belum cukup efektif untuk memastikan usia pengguna.
Persoalan tersebut juga memunculkan dilema antara perlindungan anak dan privasi pengguna.
Untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif media sosial, perusahaan membutuhkan sistem yang mampu memastikan usia pengguna. Di sisi lain, proses verifikasi tersebut dapat melibatkan pengumpulan informasi pribadi yang sensitif.
Tiga Metode Verifikasi Usia
Saat ini terdapat sejumlah metode yang dapat digunakan untuk melakukan verifikasi usia pengguna.Metode pertama adalah pemindaian biometrik, termasuk penggunaan foto selfie untuk memperkirakan usia seseorang. Metode kedua menggunakan dokumen identitas resmi, seperti kartu identitas.
Masing-masing metode memiliki kelemahan. Teknologi pengenalan wajah dapat melakukan kesalahan dalam memperkirakan usia, sedangkan penggunaan dokumen identitas dan data biometrik menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan serta privasi.
Risiko tersebut menjadi semakin besar apabila data sensitif disimpan atau diproses oleh pihak ketiga.
Data Biometrik Anak Jadi Perhatian
Pengacara privasi dari Blank Rome, Philip Yannella, melihat perkembangan teknologi memberikan peluang bagi perusahaan untuk melakukan verifikasi usia tanpa harus menyimpan data pribadi pengguna secara permanen.Meski demikian, risiko keamanan tetap muncul ketika data usia atau informasi identitas dikirim dan diproses.
Kebocoran data biometrik, termasuk hasil pemindaian wajah maupun dokumen identitas anak-anak, dapat menimbulkan risiko pencurian identitas. Berbeda dengan kata sandi, informasi biometrik seperti wajah dan sidik jari tidak dapat diganti apabila telah bocor.
Kasus Discord Jadi Pelajaran
Tantangan dalam penerapan verifikasi usia bukan hanya dihadapi Meta.Platform komunikasi Discord juga menghadapi penolakan terhadap rencana penerapan sistem verifikasi usia secara global. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi verifikasi usia dapat menimbulkan resistensi dari pengguna apabila dianggap mengancam privasi.
Baca Juga:Meta kini berada dalam posisi harus menjalankan komitmen perubahan pada Instagram dan Facebook sekaligus memastikan proses verifikasi usia tidak menimbulkan persoalan privasi baru.
Meta Tantang TikTok dan YouTube
Di tengah sorotan terhadap penyelesaian hukum tersebut, Meta juga mendorong platform pesaing untuk menerapkan aturan perlindungan anak yang serupa.Meta bahkan memasang iklan yang menantang TikTok dan YouTube agar mengikuti langkah tersebut.
Menariknya, sekitar 30% dari nilai penyelesaian hukum Meta disebut bergantung pada kesediaan dua kompetitor tersebut untuk menerapkan langkah serupa.
Dengan demikian, penyelesaian hukum senilai Rp320 triliun tersebut tidak hanya berdampak pada Meta, tetapi juga berpotensi memengaruhi standar perlindungan anak di industri media sosial secara lebih luas.
Versi ini sengaja mempertahankan fakta utama dari materi sumber, tetapi mengurangi pengulangan, memperjelas struktur dengan subjudul, dan menempatkan keyword Meta bayar Rp320 triliun, Instagram, Facebook, serta verifikasi usia secara natural.
Facebook Bekali Kreator dengan Asisten AI Pribadi, Susul TikTok dan YouTube
Militer China Diduga Manfaatkan AI OpenAI dan Anthropic untuk Pengembangan Senjata
Konflik AS-Iran Memanas, Serangan Rudal Meluas hingga Negara Teluk dan Selat Hormuz Kembali Ditutup
Timur Tengah Membara Lagi! Iran Balas Serangan AS, Luncurkan Rudal dan Drone ke Sejumlah Pangkalan Militer Amerika
Catatan Penyiaran Piala Dunia 2026 (1)