Kamis, 03 September 2026

Orangtua di Paluta Keluhkan Menu MBG yang Dinilai Tidak Layak

JS Siregar - Kamis, 03 September 2026 16:00 WIB
Orangtua di Paluta Keluhkan Menu MBG yang Dinilai Tidak Layak
ist
Menu MBG yang berikan ke siswa pada tanggal 2 September 2026

digtara.com - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) tengah menjadi sorotan. Pasalnya, menu makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat dinilai tidak memenuhi standar gizi dan terkesan asal jadi, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga:
​Keluhan terkait kualitas dan minimnya porsi makanan ini rupanya bukan yang pertama. Para orangtua penerima manfaat mengaku sudah berulang kali menyuarakan kekecewaan mereka terhadap program tersebut.

​Persoalan ini mencuat luas setelah beredarnya sejumlah foto yang memperlihatkan menu MBGyang diterima oleh siswa-siswi SDN 101080 Gunungtua pada Rabu (2/9/2026).

Dalam potret tersebut, tampak seporsi makanan dalam wadah stainless yang hanya berisi nasi, sebutir telur rebus, satu buah jeruk, dan beberapa potong tomat mentah.

Kekecewaan para orangtua memuncak karena menu yang disajikan dinilai sangat jauh dari standar pemenuhan gizi anak yang dikampanyekan oleh pemerintah.

​"Bagaimana ceritanya ini disebut makanan bergizi kalau menunya seperti ini? Mana mungkin anak-anak mau dan bisa makan lauk begini," keluh Anhar Siregar salah seorang orang tua penerima manfaat.

​Senada dengan itu, sumber lain mengungkapkan bahwa makanan yang di bawah standar ini sudah sering didistribusikan oleh dapur SPPG tersebut.

Baca Juga:

​"Bukan sekali dua kali, ini sudah sering terjadi. Kami disuruh komplain langsung ke pihak pengelola. Sudah sering kami protes, tapi tetap tidak ada perubahan," ungkap ibu yang enggan disebutkan namanya ini kepada awak media.

​Ia menuturkan, dapur SPPG Gunungtua Jae sudah menyuplai MBG untuk anaknya di salah satu SD di Pasar Gunungtua selama lebih dari tiga bulan. Pihak pengelola, lanjutnya, kerap meminta maaf dan berjanji akan mengevaluasi menu setiap kali diprotes.

​"Masih sering terulang. Cuma minta maaf saja, tapi praktiknya tidak ada perbaikan," imbuhnya kecewa.

​Sikap antikritik juga dialami oleh seorang kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bertugas menyalurkan MBG kepada penerima manfaat B3 di desanya. Saat mempertanyakan kondisi menu, ia justru mendapat respons yang arogan.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Arie
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru