Militer China Diduga Manfaatkan AI OpenAI dan Anthropic untuk Pengembangan Senjata
digtara.com -Persaingan kecerdasan buatan (AI) antara Amerika Serikat dan China memasuki babak baru. Sejumlah institusi yang berafiliasi dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China diduga memanfaatkan keluaran model AI buatan perusahaan teknologi Amerika Serikat untuk mengembangkan sistem AI lokal.
Baca Juga:
Investigasi tersebut turut mengacu pada materi yang dihimpun Jamestown Foundation, lembaga riset yang berbasis di Washington.
Temuan itu menunjukkan penggunaan teknik model distillation, yakni metode yang memungkinkan pengembang memanfaatkan respons dari model AI yang lebih canggih sebagai data sintetis untuk melatih model yang lebih kecil dan dapat dikendalikan secara lokal.
AI OpenAI dan Anthropic Diduga Jadi Sumber Data Pelatihan
Model distillation menjadi salah satu pendekatan yang menarik bagi pengembang AI karena dapat mengurangi biaya dan kebutuhan sumber daya dibandingkan membangun model besar dari awal.Dalam praktiknya, peneliti dapat memberikan berbagai pertanyaan kepada model AI yang lebih canggih. Respons yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai bagian dari data untuk melatih model AI lain.
Baca Juga:Menurut peneliti Jamestown Foundation, Sunny Cheung, proses tersebut bukan hanya tentang menyalin jawaban dari model AI sumber, tetapi juga berupaya memindahkan kemampuan penalaran yang dimiliki model tersebut.
"Mengajarkan model jawaban yang benar adalah satu hal, namun mengajarkan alasan di balik jawaban tersebut jauh lebih sulit," kata Sunny Cheung, dikutip dari GHacks.
Cheung mengatakan dokumen yang ditinjau menunjukkan adanya upaya peneliti yang terkait dengan militer China untuk mentransfer kemampuan penalaran dari model AI Barat ke sistem yang lebih kecil.
Model tersebut kemudian dapat dikembangkan dan dijalankan secara lokal tanpa harus bergantung sepenuhnya pada model AI sumber.
Diduga Digunakan untuk Drone hingga Perang Siber
Sejumlah makalah akademis yang ditelaah Reuters menunjukkan teknik tersebut dikaitkan dengan berbagai proyek penelitian militer China.Penelitian tersebut membahas penyederhanaan model pemrosesan gambar agar dapat digunakan pada kendaraan udara nirawak atau drone.
Model AI yang lebih ringan memungkinkan drone menganalisis video secara langsung dan mengambil keputusan navigasi secara real time. Kemampuan tersebut juga dirancang tetap berjalan ketika koneksi komunikasi terputus.
Peneliti di Academy of Military Sciences China juga dilaporkan menggunakan pendekatan serupa untuk mengembangkan model pengenalan target.
Model tersebut dirancang untuk perangkat keras taktis dalam simulasi operasi maritim yang melibatkan kapal perang, drone, dan kapal selam tanpa awak.
Baca Juga:
AI OpenAI Dikaitkan dengan Riset Perang Siber
Pada sektor siber, peneliti dari PLA Unit 96941, yang disebut bergerak di bidang perang siber di Beijing, dilaporkan menggunakan GPT-3.5 milik OpenAI untuk merangkum kode sumber militer.Ringkasan tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk melatih model AI lokal yang dirancang beroperasi dalam jaringan militer tertutup.
Selain OpenAI, Claude 3 Haiku dari Anthropic juga disebut dimanfaatkan peneliti dari North University of China untuk menghasilkan data sintetis bagi klasifikasi teks dan sistem pemantauan konten.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam penelitian pertahanan tidak hanya berkaitan dengan persenjataan, tetapi juga dapat mencakup drone, operasi maritim, pengenalan target, serta keamanan dan operasi siber.
Operasi Militer Lawan Iran, AS Rugi Rp91 Triliun dalam 100 Jam Operation Epic Fury
Lebih Rendah Dari Tuntutan Oditur Militer, Dankipan A Yon TP 834/WM Nagekeo Divonis 8 Tahun Penjara
Empat Terdakwa Penganiaya Prada Lucky Namo Dihukum Lebih Berat dari Tuntutan Oditur Militer
Hari ini Hakim Dilmil III-15 Kupang Tentukan Nasib 22 Prajurit TNI
Guna Membentuk Karakter dan Disiplin, Petugas Haji 2026 Akan Digembleng Semi Militer Selama Sebulan