Abdurrosyid Jadi Doktor ke-33 Unwahas, Siap Kembangkan Kurikulum PAI untuk Perkuat Moderasi Beragama di Sekolah
digtara.com - Dr. H. Abdurrosyid resmi menyelesaikan ujian promosi doktor pada Sabtu, 25 Juli 2026, di Kampus 1 Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Jalan Menoreh Tengah VII/22, Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang.
Baca Juga:
- HAB ke-80, Sinergi Pemprov Jateng dengan Kemenag Wujudkan Kerukunan Masyarakat
- Cetak Kader Penggerak Kerukunan dan Duta Moderasi Beragama di Kalangan Generasi Muda, FKUB Muda Jateng Gelar Sekolah Kerukunan
- Ajak Para Nadhir Jadikan Wakaf Sebagai Fondasi Penting dalam Memajukan perguruan Tinggi di Indonesia
Dalam disertasinya, ia mengambil kepakaran di bidang pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan fokus pada penguatan moderasi beragama.Usai menjalani promosi doktor, Dr. Abdurrosyid menyampaikan komitmennya untuk terus mengembangkan kurikulum PAI yang dapat menjadi instrumen dalam memperkuat moderasi beragama.
Menurutnya, implementasi nilai-nilai moderasi beragama membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari guru PAI, pengawas PAI, hingga para pegiat moderasi beragama.
"Ke depan kami siap berkolaborasi dengan guru PAI, pengawas PAI, serta para pegiat moderasi beragama untuk memperkuat moderasi beragama, baik di lingkungan sekolah formal maupun di tengah masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi tersebut juga dapat diperluas melalui jejaring organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB), serta Kampung Moderasi Beragama.
Penelitian yang dilakukannya di Kota Magelang menghasilkan sebuah modul ajar berbasis teori konstruktivisme yang dinilai memiliki potensi untuk direplikasi di berbagai daerah. Meski demikian, penerapan modul tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.
Baca Juga:
"Modul ajar hasil penelitian ini dapat diterapkan di berbagai daerah, bahkan pada tingkat nasional. Namun, implementasinya tetap harus memperhatikan kearifan lokal, budaya setempat, serta isu-isu yang menjadi perhatian di masing-masing daerah," jelasnya.
Selain mengembangkan keilmuan di bidang kurikulum Pendidikan Agama Islam, Dr. Abdurrosyid juga mengungkapkan keinginannya untuk melanjutkan karier di perguruan tinggi. Menurutnya, dunia akademik memberikan ruang yang lebih luas untuk menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
"Akademisi harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu saya berharap dapat terus mengembangkan keilmuan sekaligus berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat," tuturnya.
Melalui pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam yang adaptif terhadap kondisi sosial dan budaya lokal, Dr. Abdurrosyid berharap upaya penguatan moderasi beragama dapat semakin efektif diterapkan di berbagai daerah sehingga mampu memperkokoh kehidupan masyarakat yang rukun, toleran, dan harmonis.
Sementara itu, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Dr. KH. Iman Fadhilah SHI MSI menyebut disertasi yang mengantarkan Abdurrosyid meraih gelar Doktor selaras dengan kurikulum cinta yang digagas oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI.
Iman menilai, fokus penelitian yang dilakukan oleh Abdurrosyid dalam merampungkan tugas akhir mahasiswa Strata Tiga (S3) sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia, khususnya di Jawa Tengah.
"Beliau doktor ke-33 di Universitas Wahid Hasyim. Novelty-nya bagus, kajiannya bagus tentang bagaimana moderasi beragama ini masuk kemudian menjadi spirit, menjadi nilai, dan sampai pada tahap aplikatif modulnya untuk pembelajaran PAI di SMA," urainya.
Mantan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah ini mengakui riset yang difokuskan di Kota Magelang ini bisa diduplikasi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA).
"Ini bisa direplikasi di berbagai daerah yang memang sangat heterogen kemudian ada ancaman-ancaman terhadap faham-faham yang tidak pro atau kurang inklusif. Maka saya kira panduan ini menjadi penting, modul ini menjadi penting untuk disosialisasikan, diseminasi khususnya untuk level SMA di Jawa Tengah maupun di Indonesia," jelasnya.
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah Tembalang ini lanjut menjelaskan, modul pembelajaran PAI versi disertasi Abdurrosyid sejalan dengan kurikulum berbasis cinta Kemenag. Terdapat penekanan nilai kasih sayang yang luar biasa sebagai bagian bagian dari spirit pengajaran Islam.
Baca Juga:
"Karena Islam pada aspek yang value-nya itu rahmat kasih sayang dan itu diajarkan mulai dari Allah maupun sunnahnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Jadi mengajarkan Islam yang memberikan rahmat bagi alam," urainya.
Aktivis muda Nahdlatul Ulama Jawa Tengah ini melanjutkan, dalam paparan kajian ilmiah, nilai dan modul yang disampaikan sifatnya general. Sedangkan fokus penelitian di kota Magelang memiliki kemiripan dan karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Tegal, dan beberapa kabupaten atau kota lain di Jawa Tengah.
"Ada kemiripan-kemiripan dari sisi heterogenitas masyarakat, dan juga keanekaragaman warga, suku, agama, termasuk pemahamannya," jelasnya.
Hasil sidang senat terbuka telah menetapkan lulus dan berhak menyandang gelar Dr KH. Abdurrosyid, S.Pd.I M.Hum.Mahasiswa S3 yang berhasil mempertahankan penelitian tentang Islam yang moderat. (San).
HAB ke-80, Sinergi Pemprov Jateng dengan Kemenag Wujudkan Kerukunan Masyarakat
Cetak Kader Penggerak Kerukunan dan Duta Moderasi Beragama di Kalangan Generasi Muda, FKUB Muda Jateng Gelar Sekolah Kerukunan
Ajak Para Nadhir Jadikan Wakaf Sebagai Fondasi Penting dalam Memajukan perguruan Tinggi di Indonesia
FKUB Muda Jateng Ajak Generasi Muda dan Mahasiswa Jangan Sampai Terpapar Paham Radikal
Kementerian P2MI Himbau Masyarakat yang Ingin Kerja ke Luar Negeri Jangan Non Prosedural