Rupiah Diproyeksi Bergerak Fluktuatif pada Awal Pekan, Sentimen Global dan Data Ekonomi Jadi Penentu
digtara.com -Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (29/6/2026) seiring pelaku pasar menanti rilis sejumlah data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri.
Baca Juga:
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah sebenarnya memiliki peluang untuk menguat setelah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mulai mereda. Penurunan harga minyak dunia turut menjadi faktor yang mendorong pelaku pasar menurunkan proyeksi kebijakan moneter AS yang lebih agresif.
Meski demikian, Lukman menilai pergerakan rupiah pada awal pekan masih akan dibayangi volatilitas karena investor memilih bersikap hati-hati menjelang rilis berbagai indikator ekonomi penting.
"Investor diperkirakan akan mengambil sikap lebih berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun luar negeri," ujarnya.
Di dalam negeri, perhatian pasar akan tertuju pada rilis indeks manufaktur atau Purchasing Managers' Index (PMI), data inflasi, serta neraca perdagangan yang dijadwalkan terbit pada awal Juli.
Baca Juga:Selain itu, investor juga terus memantau perkembangan pasar saham global, khususnya pergerakan saham-saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang belakangan menjadi salah satu penggerak utama sentimen pasar. Perubahan arah sektor tersebut dinilai dapat memengaruhi aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan awal pekan.
Sementara itu, Direktur Trive Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup besar karena penguatan dolar AS yang didukung oleh sejumlah data ekonomi Amerika Serikat.
Menurutnya, revisi final Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal I yang lebih baik dari perkiraan, penurunan klaim pengangguran, serta inflasi inti berdasarkan Personal Consumption Expenditures (Core PCE) yang masih tinggi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini.
Pasar bahkan mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebanyak dua kali, yakni pada Juli atau September dan kembali pada Desember 2026. Kondisi tersebut mendorong indeks dolar AS menguat menuju kisaran 102,6 dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari sisi domestik, pasar juga akan mencermati perkembangan cadangan devisa Indonesia yang diperkirakan menurun akibat intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing dan obligasi. Meski demikian, posisi cadangan devisa dinilai masih berada pada level yang aman untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri dalam beberapa bulan ke depan.
Pada sektor riil, PMI manufaktur Indonesia diperkirakan masih berada di bawah level 50 atau dalam fase kontraksi. Di sisi lain, Indonesia diproyeksikan tetap mencatat surplus neraca perdagangan, meskipun nilainya diperkirakan menyusut akibat perlambatan ekonomi China sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia.
Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan defisit anggaran pemerintah. Apabila defisit terus melebar hingga mendekati batas tiga persen terhadap PDB, kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif tambahan bagi pergerakan rupiah.
Dengan berbagai faktor tersebut, pergerakan rupiah pada awal pekan diperkirakan masih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan fundamental domestik, sehingga volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Baca Juga:
Rupiah Diproyeksi Menguat Hari Ini, Bergerak di Kisaran Rp17.940–Rp17.990 per Dolar AS
Rupiah Masih Tertekan, Analis Prediksi BI Kembali Naikkan Suku Bunga
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.890 per Dolar AS, Dipengaruhi Sentimen Global dan Domestik
Rupiah Masih Tertekan Meski BI Kembali Naikkan Suku Bunga, Bergerak di Kisaran Rp17.790–Rp17.840 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksi Melemah, Pasar Menanti Hasil RDG BI dan Arah Kebijakan The Fed