Senin, 03 Agustus 2026

Rupiah Diproyeksi Melemah, Pasar Menanti Hasil RDG BI dan Arah Kebijakan The Fed

Arie - Kamis, 18 Juni 2026 08:35 WIB
Rupiah Diproyeksi Melemah, Pasar Menanti Hasil RDG BI dan Arah Kebijakan The Fed
net
Ilustrasi.

digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (18/6/2026), di tengah perhatian pelaku pasar yang tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia serta arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve.

Baca Juga:

Pada perdagangan Rabu (17/6/2026), rupiah ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.762 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) tercatat bergerak stabil di posisi 99,53.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang masih berkembang.

Dari sisi eksternal, pasar merespons positif kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang memungkinkan Iran kembali mengekspor minyak serta memperpanjang gencatan senjata yang telah berlangsung sebelumnya.

"Kesepakatan tersebut mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata," ujar Ibrahim.

Kesepakatan yang diumumkan pada Selasa waktu setempat itu dinilai mampu meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Presiden AS Donald Trump menyatakan perjanjian tersebut mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sementara pejabat AS mengonfirmasi bahwa Iran dapat kembali menjual minyak setelah kesepakatan resmi ditandatangani.

Baca Juga:
Meski sentimen geopolitik membaik, fokus investor kini beralih ke kebijakan suku bunga Federal Reserve. Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir pada Rabu (17/6/2026), The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen.

Menurut Ibrahim, pasar akan mencermati setiap sinyal dari Ketua The Fed Kevin Warsh terkait peluang penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.

"Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran suku bunga pada akhir tahun," katanya.

Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia yang berlangsung pada 17–18 Juni 2026. Pertemuan tersebut menjadi sorotan setelah Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada pekan lalu.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Rupiah Hari Ini 3 Agustus 2026 Diproyeksi Menguat, Simak Sentimen Penggeraknya

Rupiah Hari Ini 3 Agustus 2026 Diproyeksi Menguat, Simak Sentimen Penggeraknya

Rupiah Diproyeksikan Melemah ke Rp18.160 per Dolar AS Hari Ini, Ini Faktor Penekannya

Rupiah Diproyeksikan Melemah ke Rp18.160 per Dolar AS Hari Ini, Ini Faktor Penekannya

Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.130 per Dolar AS Hari Ini, Dipengaruhi FOMC The Fed dan Sentimen Global

Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.130 per Dolar AS Hari Ini, Dipengaruhi FOMC The Fed dan Sentimen Global

Rupiah Berpotensi Bergerak Fluktuatif, Diproyeksikan Melemah ke Rp18.020 per Dolar AS

Rupiah Berpotensi Bergerak Fluktuatif, Diproyeksikan Melemah ke Rp18.020 per Dolar AS

Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Berpotensi Bergerak di Atas Rp18.000 per Dolar AS

Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Berpotensi Bergerak di Atas Rp18.000 per Dolar AS

Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.963 per Dolar AS, Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Tekanan

Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.963 per Dolar AS, Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Tekanan

Komentar
Berita Terbaru