Buy Now Pay Later Tumbuh 53,53 Persen per Februari 2026, OJK Waspadai Risiko Gagal Bayar
digtara.com -Pertumbuhan layanan buy now pay later (BNPL) di industri pembiayaan atau multifinance terus melesat pada awal 2026.
Baca Juga:
Sebelumnya, pada Januari 2026, pertumbuhan BNPL bahkan sempat menyentuh 71,13 persen YoY, menandakan tingginya minat masyarakat terhadap skema pembiayaan fleksibel ini.
Didorong Ekosistem Digital dan Generasi Muda
Baca Juga:OJK menilai tren positif ini akan berlanjut sepanjang 2026, didorong oleh perkembangan ekosistem digital dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan yang praktis.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menyebut pertumbuhan BNPL banyak berasal dari segmen usia produktif serta masyarakat yang belum terjangkau layanan keuangan formal.
BNPL juga semakin diminati karena kemudahan akses, proses cepat tanpa tatap muka, serta fleksibilitas pembayaran yang bisa dilakukan kapan saja.
Di tengah pertumbuhan pesat tersebut, OJK menegaskan pentingnya penerapan prinsip kehati-hatian oleh perusahaan penyedia layanan BNPL.
Regulator telah menerbitkan aturan baru melalui POJK 32/2025 untuk memperkuat manajemen risiko, tata kelola, serta perlindungan konsumen.
Baca Juga:Selain itu, OJK juga tengah menyusun aturan lanjutan yang mencakup batasan usia, penghasilan, serta plafon pembiayaan bagi debitur.
Pengawasan dilakukan secara menyeluruh, baik melalui mekanisme onsite maupun offsite, guna memastikan seluruh pelaku industri mematuhi ketentuan yang berlaku.
Risiko Gagal Bayar dan Overleverage
Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno, menilai kemudahan akses BNPL justru dapat memicu perilaku konsumtif jika tidak diimbangi dengan manajemen keuangan yang baik.
Menurutnya, transaksi kecil yang dilakukan berulang dapat menumpuk dan meningkatkan beban keuangan pengguna di masa depan.
Baca Juga:Selain itu, risiko lain seperti fraud dan kualitas penilaian kredit (underwriting) juga menjadi perhatian utama dalam industri ini.
Perlu Edukasi dan Literasi Keuangan
Penggunaan teknologi seperti artificial intelligence (AI) juga dinilai penting untuk meningkatkan akurasi penilaian risiko.
Di sisi lain, edukasi dan literasi keuangan kepada masyarakat menjadi kunci agar penggunaan BNPL tetap sehat dan terkendali.
Baca Juga:
BNPL Jadi Solusi Keuangan Jangka Pendek
Meski memiliki risiko, BNPL tetap dinilai sebagai solusi likuiditas jangka pendek, terutama bagi generasi muda dan kelompok unbanked.
Volume transaksi PayLater Kredivo tumbuh 27 persen, sementara nilai transaksi meningkat 26 persen YoY. Pertumbuhan ini juga didorong oleh peningkatan pengguna baru sebesar 31 persen.
Menariknya, mayoritas pengguna kini cenderung memilih tenor pendek, seperti satu bulan, yang menunjukkan penggunaan BNPL mulai lebih terarah untuk kebutuhan jangka pendek.
Baca Juga:Pertumbuhan pesat BNPL di Indonesia menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan fleksibel di era digital.
Namun, di balik peluang tersebut, risiko gagal bayar dan perilaku konsumtif tetap menjadi tantangan yang harus diantisipasi melalui regulasi ketat, inovasi teknologi, serta peningkatan literasi keuangan masyarakat.
Aplikasi Pinjaman Online yang Aman dan Bunga Rendah Tenor Panjang 2026
Daftar Lengkap 96 Pinjol Legal Berizin OJK: Update Resmi Oktober 2025
Ada Yang Ganti Nama, Ini Daftar Pinjol Resmi OJK Juni 2025, Jangan Salah Pilih!
JULO: Pinjaman Online Cepat Cair, Legal & Terpercaya! Terdaftar dan Diawasi OJK
OJK: Remaja Usia 17-25 Tahun Banyak Tertipu Judol dan Investasi Ilegal