Update Gempa Flores: 55 Warga Meninggal, Ribuan Pengungsi Tersebar di 38 Titik
digtara.com -Kapolda NTT, Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko menyampaikan perkembangan penanganan bencana gempa bumi Flores di Mapolda NTT, Minggu (16/8/2026) malam.
Baca Juga:
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Minggu (16/8/2026) pukul 18.00 WITA, tercatat 55 orang meninggal dunia, 67 orang mengalami luka berat dan 123 orang luka ringan.
Jumlah pengungsi mencapai 7.670 orang yang tersebar di 38 titik pengungsian pada tujuh kabupaten.
Polda NTT memberikan perhatian khusus terhadap pengungsi mandiri yang masih berada di lokasi dengan fasilitas terbatas.
Kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih dan obat-obatan menjadi prioritas distribusi.
Baca Juga:Mabes Polri juga menyiapkan tenda, selimut dan kasur untuk membantu pengungsi mandiri yang belum memiliki tempat perlindungan yang layak.
Penentuan lokasi pengungsian sementara maupun lokasi yang dapat digunakan dalam jangka lebih panjang akan dikoordinasikan bersama BPBD dan pemerintah daerah.
Pada hari kedua penanganan bencana, Kapolda bersama Forkopimda NTT mengikuti rapat koordinasi yang digelar di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.
Rakor dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) dan dihadiri sejumlah menteri serta pimpinan lembaga terkait.
Dalam rakor tersebut disepakati langkah cepat dan terpadu untuk mempercepat penanganan bencana.
Usai rakor, rombongan dibagi ke sejumlah wilayah terdampak. Kapolda NTT bersama Forkopimda NTT, Menteri PUPR dan Dirjen PUPR bergerak ke Kabupaten Ende untuk melihat langsung kondisi korban bencana, tempat ibadah yang rusak serta lokasi pengungsian.
Wilayah Terisolir Ditembus
Kapolda mengungkapkan, jajaran Polri berhasil membuka akses ke tiga wilayah yang sebelumnya terisolir akibat dampak gempa dan longsor.
Pertama, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Baca Juga:Sekitar pukul 05.00 WITA, Kapolres Manggarai Timur, AKBP Hariyanto bersama personelnya berhasil menembus lokasi yang sebelumnya terisolasi akibat longsor.
Di lokasi tersebut, personel menemukan kondisi masyarakat yang membutuhkan bantuan segera.
Selain menyalurkan makanan, minuman dan obat-obatan, personel juga melakukan evakuasi terhadap seorang ibu hamil yang mengalami pendarahan akibat persalinan prematur.
"Alhamdulillah bisa dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit. Alhamdulillah bisa diselamatkan," kata Kapolda.
Kedua, wilayah Reo, Kabupaten Manggarai, yang sebelumnya juga mengalami keterisolasian.
Ketiga, Desa Dimpong, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai.
Informasi mengenai kondisi warga yang terisolir diterima melalui media sosial. Polda NTT kemudian merespons cepat dengan mengirimkan personel Brimob ke lokasi.
"Alhamdulillah bisa mengevakuasi masyarakat yang terisolir di sana dan belum mendapat bantuan. Alhamdulillah sudah bisa dievakuasi oleh Brimob," jelas Kapolda.
Keberhasilan menembus tiga wilayah tersebut menunjukkan pentingnya kecepatan personel dalam merespons laporan masyarakat.
Baca Juga:
BKO Brimob Mabes dan Tim Khusus
Sebanyak 100 personel Brimob BKO dengan kemampuan SAR dikirim untuk memperkuat pencarian dan pertolongan korban.
"Untuk tahap awal ini kami masih membutuhkan anggota untuk SAR untuk mencari dan menolong korban yang menjadi korban bencana alam tersebut," ujar Kapolda.
Selain personel Brimob, Mabes Polri juga mengirimkan sejumlah tim khusus, yakni 14 personel Tim DVI (Disaster Victim Identification) dari Pusdokkes Polri.
Dukungan lainnya berupa 10 ekor anjing K9 berkemampuan SAR beserta 21 personel pawang dan tim pendukung.
Baca Juga:Anjing pelacak tersebut dipersiapkan untuk membantu pencarian korban di bawah reruntuhan bangunan yang berisiko jika dilakukan pencarian secara manual.
Trauma Healing Anak-Anak Korban Gempa
Perhatian Polri juga diarahkan pada kondisi psikologis korban bencana, khususnya anak-anak.
Kapolda mengatakan Mabes Polri mengirimkan tim kesehatan dan trauma healing yang nantinya akan berkolaborasi dengan tim trauma healing Polda NTT.
Menurut Kapolda, metode tersebut telah diterapkan di sejumlah Polres, termasuk kepada anak-anak korban gempa di Kabupaten Ende.
"Tim terapis Polres Ende juga sudah mengaplikasikannya kepada anak-anak yang jadi korban bencana, karena mereka benar-benar masih trauma," ungkapnya.
Kerahkan Pesawat CASA Percepat Mobilisasi
Untuk mempercepat pergerakan, Kapolri memberikan dukungan berupa satu unit pesawat CASA dari Korpolairud Baharkam Polri yang di-BKO-kan untuk mendukung transportasi selama penanganan bencana.
"Alhamdulillah sudah di-BKO-kan juga dari Korpolairud Baharkam Polri berupa satu unit pesawat CASA, sehingga untuk transportasi kami bisa sangat-sangat membantu," kata Kapolda.
Selain dukungan personel dan transportasi, Mabes Polri juga mengirimkan bantuan berupa makanan cepat saji, minuman, tenda, velbed dan obat-obatan yang selanjutnya akan didistribusikan kepada masyarakat terdampak di Pulau Flores.
Baca Juga:
Wilayah Terisolir Dijangkau
Melalui Ditpolairud Polda NTT, bantuan makanan dan minuman telah disalurkan kepada masyarakat di Pulau Palue, Kabupaten Sikka yang sempat mengalami keterisolasian.
Kapolda menegaskan, seluruh laporan mengenai masyarakat yang membutuhkan bantuan akan ditindaklanjuti, termasuk informasi yang diterima melalui media sosial.
"Jadi mendapat laporan medsos kemudian ditanggapi, kita kemudian langsung mengirim anggota," jelas Kapolda.
Baca Juga:
Patroli Rumah Warga Yang Ditinggalkan
Seluruh jajaran Polres diperintahkan meningkatkan patroli di kawasan permukiman kosong untuk memastikan rumah dan aset masyarakat tetap aman selama masa tanggap darurat.
Patroli tersebut sekaligus bertujuan mencegah terjadinya tindak kriminal yang dapat memanfaatkan situasi bencana.
Kapolda juga mengungkapkan bahwa gangguan jaringan komunikasi dan listrik menjadi salah satu kendala dalam penanganan bencana, khususnya di sejumlah wilayah seperti Nagekeo.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Mabes Polri mengirimkan 10 unit Starlink yang didatangkan melalui penerbangan ke Labuan Bajo.
Baca Juga:Perangkat tersebut akan digunakan untuk mendukung komunikasi dan pelaporan petugas di titik-titik krisis sehingga koordinasi bantuan dapat dilakukan lebih cepat.
Kapolda menegaskan seluruh jajaran akan terus bergerak memastikan masyarakat terdampak mendapatkan pertolongan.
"Kita akan terus bergerak untuk menolong korban bencana yang terjadi di Kabupaten Manggarai maupun Manggarai Timur dan wilayah lainnya," tegasnya.
Penanganan gempa Flores kini dilakukan secara terpadu dengan mengerahkan kekuatan Polda NTT, dukungan Mabes Polri, TNI, pemerintah daerah, BNPB, Basarnas serta seluruh unsur terkait.
Dari membuka akses wilayah terisolir, mengevakuasi korban, mendistribusikan logistik, menjaga rumah warga, hingga memulihkan kondisi psikologis anak-anak, Polri memastikan kehadiran negara tetap dirasakan masyarakat di tengah situasi darurat bencana.
Sebarkan Foto Guru Agama di Media Sosial, Pria di Sumba Barat Daya Ditahan Polisi
Polairud Polda NTT Bantu Evakuasi Warga Korban Runtuhan Gempa dari Pulau Palue dan Distribusikan Bantuan
Polres Nagekeo Gandeng PT Indofood Siapkan Makanan Bagi Warga Terdampak Gempa
Korban Meninggal Akibat Gempa Flores Naik Jadi 51 Orang, Kabasarnas Pantau Langsung Penanganan dan Siagakan Helikopter
101 Personil BKO Brimob Polri Diterjunkan ke Manggarai dan Manggarai Timur