Selasa, 11 Agustus 2026

Wakapolda NTT Kawal Rekonsiliasi Adonara-Flores Timur

Imanuel Lodja - Selasa, 11 Agustus 2026 10:30 WIB
Wakapolda NTT Kawal Rekonsiliasi Adonara-Flores Timur
ist
Kelompok masyarakat di Adonara yang sepakat mengakhiri konflik lewat upacara adat dan perdamaian disaksikan Wakapolda NTT

digtara.com -Suasana di Aula Paroki Kristus Raja, Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, terasa berbeda pada Senin (10/8/2026).

Baca Juga:

Para tokoh adat, tokoh agama, pemerintah, aparat keamanan, hingga masyarakat dari dua pihak yang sebelumnya terlibat konflik berkumpul dalam satu tempat.

Di tempat itu, warga Dusun I Lewonara, Desa Narasaosina, dan warga Dusun Bele, Desa Waiburak, Kabupaten Flores Timur kembali dipertemukan dalam satu komitmen mengakhiri konflik dan membuka jalan bagi perdamaian.

Momentum tersebut dikemas dalam Rekonsiliasi Damai dan Lepan Dopi–Ledan Gala Gawak Labi.

Tradisi dan nilai-nilai adat menjadi bagian penting dalam mengikat kembali hubungan yang sempat renggang akibat konflik.

Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal hadir mewakili Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko. Kehadirannya membawa pesan penting bahwa perdamaian harus dijaga bersama.

Baca Juga:
Di hadapan masyarakat, Wakapolda NTT menyampaikan amanat Kapolda NTT yang mengapresiasi seluruh pihak yang telah bekerja keras mewujudkan rekonsiliasi.

Pesannya sederhana, tetapi memiliki makna besar: hentikan dendam, jauhkan kekerasan dan jangan mudah terprovokasi.

"Semua pihak harus menghentikan dendam dan kekerasan, tidak mudah terprovokasi, serta menyelesaikan setiap persoalan melalui komunikasi, musyawarah, mekanisme adat dan hukum yang berlaku," tegas Brigjen Pol. Faizal.

Bagi Wakapolda, perdamaian bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Komitmen yang telah diucapkan harus dijaga agar konflik tidak kembali berulang.

Karena itu, ia menekankan bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat. TNI-Polri dan pemerintah memang memiliki peran penting, tetapi masyarakat merupakan bagian utama dalam menjaga perdamaian.

"Menjaga perdamaian dan keamanan merupakan tanggung jawab bersama TNI-Polri, pemerintah dan seluruh masyarakat," ujarnya.

Rekonsiliasi itu kemudian diperkuat melalui sejumlah prosesi. Penandatanganan Komitmen Damai dan Jeda Sakral menjadi simbol kesediaan kedua pihak untuk menghentikan seluruh bentuk konflik dan kekerasan.

Prosesi dilanjutkan dengan penyerahan simbolis senpira dan senjata tajam serta sumpah adat atau ritual Baulolong.

Rangkaian tersebut menjadi simbol bahwa perdamaian harus memiliki kekuatan moral dan sosial yang mengikat kedua belah pihak.

Dalam kesepakatan itu, persoalan yang masih menjadi substansi diselesaikan melalui musyawarah.

Baca Juga:
Namun apabila di kemudian hari terjadi pelanggaran, proses hukum tetap menjadi jalan yang harus ditempuh.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Arie
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Sempat Terlibat Konflik, Masyarakat Lowonara dan Belle di Flores Timur Gelar Perdamaian Adat

Sempat Terlibat Konflik, Masyarakat Lowonara dan Belle di Flores Timur Gelar Perdamaian Adat

Para Tokoh di Adonara Timur Sepakat  Akhiri Konflik Lewat Perdamaian

Para Tokoh di Adonara Timur Sepakat Akhiri Konflik Lewat Perdamaian

Kapolres Flores Timur Bertemu Raja Larantuka Dorong Perdamaian di Adonara Timur Lewat Musyawarah Adat

Kapolres Flores Timur Bertemu Raja Larantuka Dorong Perdamaian di Adonara Timur Lewat Musyawarah Adat

Tim Mediasi Penyelesaian Konflik Komunal Adonara Temui Tokoh Adat

Tim Mediasi Penyelesaian Konflik Komunal Adonara Temui Tokoh Adat

Polisi Amankan Dan Musnahkan Bom Rakitan Temuan Warga Adonara Timur

Polisi Amankan Dan Musnahkan Bom Rakitan Temuan Warga Adonara Timur

Libatkan Tokoh Adat dan Tim Mediasi, Kapolres Flores Timur Perkuat Rekonsiliasi di Adonara Timur

Libatkan Tokoh Adat dan Tim Mediasi, Kapolres Flores Timur Perkuat Rekonsiliasi di Adonara Timur

Komentar
Berita Terbaru