Senin, 19 Oktober 2026

Kebijakan Pusat Berimbas Ribuan PPPK Pemprov NTT Terancam Dipecat

Imanuel Lodja - Kamis, 26 Februari 2026 17:00 WIB
Kebijakan Pusat Berimbas Ribuan PPPK Pemprov NTT Terancam Dipecat
ist
Gubernur NTT saat memimpin apel di halaman kantor gubernur NTT

digtara.com -Sebanyak 9.000 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) lingkup pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bakal diberhentikan.

Baca Juga:

Gubernur NTT, Melki Laka Lena mengemukakan rencana pemberhentian ini menyusul pemberlakuan Undang-undang (UU) nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD).

UU ini mengatur pembatasan belanja pegawai maksimal 30 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Gubernur menegaskan keputusan ini akan berlaku pada 2027 mendatang.

Baca Juga:
Meskipun penerapan pemangkasan ini disebutnya belum final, namun ia sendiri tetap berharap agar pemerintah pusat dapat mengubah keputusan ini.

Alasan pemangkasan pegawai ini, kata dia, menyusul regulasi HKPD yang akan berlaku setelah 5 tahun diundangkan.

Pihaknya pun sudah mulai melakukan perhitungan 30 persen pembatasannya tersebut.

"Ini berangkat dari regulasi tentang presentase belanja pegawai yang bersumber dari undang-undang keuangan pusat dan daerah. Intinya sejak 5 tahun terhitung setelah diundangkan dan paling lama 2027, maka belanja pegawai adalah 30 persen dari APBD," ungkapnya pada Rabu (25/2/2026) malam.

Perhitungan ini telah dilakukannya dengan Kepala Badan Kepegawaian Daerah dan Kepala Badan Keuangan Daerah NTT.

UU HKPD ini akan memangkas Rp 540 miliar belanja pegawai yang setara 9.000 PPPK.

Baca Juga:
"Waktu itu saya panggil Kepala BKD dan badan keuangan daerah kalau itu diberlakukan tahun depan maka dari total pegawai PPPK yang kita miliki, diperkirakan kita harus menghemat Rp 540 miliar yang setara dengan 9 ribu PPPK yang tidak bisa kita bayar," tandasnya.

Pihaknya sementara mencari alternatif pekerjaan agar para PPPK ini dapat beralih profesi seandainya keputusan UU tersebut tidak diubah oleh pemerintah pusat.

"Artinya harus kita rumahkan atau berhentikan sehingga kita sejak awal mengantisipasi sejak dini dan kami mencari cara bagi 9 ribu orang yang akan diberhentikan ini harus kita latih bekerja di sektor lain terutama sektor swasta," tambah dia.

Salah satu mekanisme yang dilirik Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT ialah terkait KUR dan skema lain yang mengarahkan PPPK dapat menjadi wirausahawan.

"Supaya mereka bisa tetap kerja dan menghidupi keluarganya," tandasnya.

Kabar pemberhentian atau pemangkasan pegawai ini, kata dia, telah dikemukakannya pada saat memimpin upacara bersama pegawai lingkup Pemprov NTT pada Senin lalu (23/2/2026).

Baca Juga:
Ia menyatakan keputusan ini masih belum final diterapkan dan pihaknya masih menunggu kebijakan lain dari pemerintah pusat.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Arie
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Gempa Flores Berlalu, Fokus Pada Pemulihan dan Perbaikan Infrastruktur

Gempa Flores Berlalu, Fokus Pada Pemulihan dan Perbaikan Infrastruktur

Ada Kegiatan Moon Cake Festival 2026, Sebagian Ruas Jalan El Tari Kupang Ditutup

Ada Kegiatan Moon Cake Festival 2026, Sebagian Ruas Jalan El Tari Kupang Ditutup

Kepala BGN Minta Sekolah Cek Menu MBG Sebelum Dibagikan ke Siswa

Kepala BGN Minta Sekolah Cek Menu MBG Sebelum Dibagikan ke Siswa

Gubernur NTT Tinjau Kondisi Pulau Palue dan Beri Bantuan Bagi Warga Korban Gempa

Gubernur NTT Tinjau Kondisi Pulau Palue dan Beri Bantuan Bagi Warga Korban Gempa

Kabasarnas dan Gubernur NTT Cek Kesiapan Posko Pengungsian Korban Gempa di Nagekeo

Kabasarnas dan Gubernur NTT Cek Kesiapan Posko Pengungsian Korban Gempa di Nagekeo

Ribuan Warga Binaan dan Anak Binaan di NTT Dapat Remisi HUT Ke-81 RI, 24 Narapidana Langsung Bebas

Ribuan Warga Binaan dan Anak Binaan di NTT Dapat Remisi HUT Ke-81 RI, 24 Narapidana Langsung Bebas

Komentar
Berita Terbaru