Selasa, 17 Maret 2026

Hingga Akhir Februari, NTT Masih Rawan Dilanda Bibit Siklon Tropis

Imanuel Lodja - Sabtu, 31 Januari 2026 09:12 WIB
Hingga Akhir Februari, NTT Masih Rawan Dilanda Bibit Siklon Tropis
net
Ilustrasi.

digtara.com -Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) soal ancaman munculnya bibit siklon tropis di wilayah selatan NTT.

Baca Juga:

Kondisi ini akibat cuaca ekstrem yang masih tinggi pada puncak musim hujan hingga akhir Februari 2026.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenot'ek, menjelaskan NTT tengah berada pada fase paling aktif musim hujan. Kondisi tersebut diperparah oleh sejumlah fenomena atmosfer yang terjadi secara bersamaan.

BMKG mencatat sedikitnya lima faktor atmosfer yang memperkuat potensi cuaca ekstrem di NTT diantaranya monsun Asia aktif, mendorong massa udara basah masuk ke Indonesia.

Baca Juga:

Tekanan rendah di selatan NTT, berpotensi berkembang menjadi sistem siklonik.

Gelombang atmosfer tropis seperti MJO, Rossby, dan Kelvin sedang aktif.

IOD negatif dan La Niña lemah, meningkatkan suplai uap air dari Samudera Hindia.

Kelembapan udara tinggi, didukung suhu muka laut yang hangat di sekitar NTT.

BMKG menegaskan periode Januari - akhir Februari merupakan puncak musim hujan di NTT.

Baca Juga:

Pada fase ini, curah hujan berada pada level tertinggi dalam setahun, sehingga risiko bencana hidrometeorologi juga ikut meningkat.

Beberapa potensi bencana yang perlu diwaspadai masyarakat antara lain banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung.

Kondisi berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat, disertai petir serta angin kencang.

Sementara pusat tekanan rendah dapat terbentuk di sekitar selatan NTT yang berpotensi berkembang menjadi bibit siklon tropis.

"Hingga menjadi Siklon Tropis, pusat tekanan rendah tersebut dapat terbentuk di sekitar wilayah selatan NTT. Fenomena tersebut menimbulkan pertemuan, perlambatan dan belokan angin yang dapat menyebabkan peningkatan curah hujan yang disertai kilat/petir dan angin kencang sehingga dapat mengakibatkan bencana hidrometeorologi," ujarnya pada Sabtu (31/1/2026).

Baca Juga:

Kondisi tersebut berisiko menimbulkan hujan sedang hingga sangat lebat, disertai kilat atau petir serta angin kencang.

Dampaknya bisa meluas, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga kerusakan akibat terpaan angin.

Warga yang tinggal di daerah rawan bencana diminta untuk lebih waspada.

Masyarakat diminta menghindari aktivitas di sekitar sungai, lereng curam, dan lokasi rawan longsor saat hujan lebat.

Warga juga disarankan mengamankan barang-barang yang mudah terbawa angin serta rutin memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG, termasuk situs bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial resmi BMKG.

"Cuaca bersifat dinamis dan dapat berubah cepat, sehingga masyarakat perlu terus memperbarui informasi," ujar Sti Nenot'ek.

Sti juga melaporkan bibit siklon tropis 98P yang terbentuk pada 29 Januari 2026, pukul 13.00 WIB.

Baca Juga:

Berdasarkan analisis pada Jum'at (30/1/2026) pukul 07.00 WIB, bibit ini berada di teluk Carpentaria bagian barat, Australia.

Bibit ini cenderung persisten dan perlahan meningkat yang ditandai dengan pola sirkulasi yang masih berkembang dan pergerakan ke arah barat.

Bibit Siklon Tropis 98P memberikan dampak tidak langsung terhadap perairan di Indonesia dalam 24 jam ke depan hingga tanggal 31 Januari 2026 pukul 07.00 WIB.

Dampaknya berupa tinggi gelombang kategori sedang (1.25 - 2.5 meter) di Perairan Kepulauan (Kep) Sermata – Kep. Leti –Kep. Tanimbar – Kep. Kai – Kep. Aru dan Laut Arafuru.

Berdasarkan prediksi BMKG dilihat dari pola sirkulasi yang semakin terorganisir dengan pergerakan cenderung stasioner.

Baca Juga:

Potensi bibit 98P menjadi siklon tropis dalam 24-48 jam dalam kategori peluang rendah.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Arie
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru