Isu Korupsi Belum Jadi Topik Utama Bagi Anak Muda di NTT
"Kalau ada pesta, maka diiringi dengan moke dan sopi. Padahal minuman tradisional itu seharusnya berlaku saat adanya acar adat, tetapi di acara pesta (nikah, baptisan anak, dan sebagainya). Sehingga di saat orang mabuk terjadilah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak," tandas Ansy.
Baca Juga:
Ia menyoroti kasus korupsi di NTT yang tergolong tinggi karena kebiasan dan kultur masyarakat NTT yang masih minim pengetahuan terkait korupsi.
Selain itu, budaya pesta miras kerap menjadi alasan untuk memaksakan seseorang untuk membayar belis atau mahar.
"Kalau perempuan sudah dibayar belisnya maka dianggap sebagai hal yang sudah 'dibeli' seperti suatu barang dan properti. Sehingga dia mau dipapoko (dipukul/dianiaya) itu dianggap biasa karena belisnya sudah dibayar," ungkap Ansy.
Menurutnya, budaya dan adat istiadat seperti di Pulau Sumba, Flores dan sejumlah daerah di NTT juga masih sangat kental.
Sehingga untuk mendapatkan belis itu cukup tinggi dan tidak heran kalau masyarakat sering berhutang.
"Bagaimana membayar dan mengadakan belis yang diminta. Akhirnya mereka berhutang dan bisa berdampak pada korupsi," tambah Ansy.
Warga Demo Soal Perilaku Pengunjung TN Mutis, BBKSDA NTT Beri Sejumlah Penjelasan
Rumah Terbakar di Sumba Barat Daya, Satu Warga Dianiaya dengan Parang
Anggota DPR RI Apresiasi Inovasi Polsek Kualin Kelola Pekarangan
Mahasiswa di Manggarai-NTT Todong Sajam dan Gasak Barang Dalam Kios
Terlibat Kasus Pidana di Polda Metro Jaya, Mobil Timor Leste Diamankan Resmob Polda NTT di Kota Kupang