Selasa, 14 April 2026

Di Balik Peluit Kecil, Ada Tekanan Besar

Redaksi - Minggu, 08 Juni 2025 10:21 WIB
Di Balik Peluit Kecil, Ada Tekanan Besar
ist
Pak Ane, seorang juru parkir di sekitaran Masjid Al-Jihad, Jalan Abdullah Lubis, Medan.

digtara.com - Di antara deretan kendaraan yang hilir-mudik di kawasan Masjid Al-Jihad, Jalan Abdullah Lubis, Medan, berdiri seorang pria dengan peluit kecil tergantung di leher dan wajah ramah yang menyapa setiap pengendara.

Baca Juga:

Ia bukan pegawai pemerintah. Ia hanyalah seorang tukang parkir yang dengan sabar menata kendaraan setiap hari, memastikan lalu lintas tetap tertib di area masjid. Namanya Pak Ane.

Usianya 53 tahun. Senyumnya hangat, tapi matanya menyimpan cerita yang tak banyak diketahui orang.

Setiap hari, sejak pagi hingga sore, Pak Ane berdiri di bawah terik matahari atau hujan yang datang tiba-tiba.

Dari hasil menjaga parkir di kawasan masjid itu, ia mendapatkan sekitar Rp70.000 per hari. Namun, dari jumlah itu, ia masih harus menyetorkan Rp100.000 ke Dinas Perhubungan.

"Kadang enggak cukup. Kalau memang enggak sampai segitu, ya saya ngutang dulu ke
Dishub. Dicatat, nanti kalau ada lebih baru saya bayar," ujarnya santai.

Tak ada yang mencolok dari penampilannya. Ia tak mengenakan seragam khusus, hanya berpakaian sederhana sebagaimana warga pada umumnya.

Namun cara ia bekerja dengan sabar, tak pernah memaksa, selalu mengucapkan terima kasih membuatnya dihormati oleh orang-orang yang sering lalu lalang di kawasan itu.

Pak Ane hidup sendiri di rumah kecil di Jalan Setiabudi. Tak memiliki anak, ia menjalani hidup dalam kesederhanaan yang sunyi namun penuh ketabahan.

Meski begitu, ia tak ingin hanya duduk di rumah. Selain untuk mencari penghasilan, bekerja sebagai tukang parkir juga menjadi cara baginya untuk tetap aktif dan sehat.

"Saya kerja begini saja sudah syukur. Yang penting bisa makan, bisa hidup. Daripada di rumah aja, mending kerja. Biar badan enggak kaku, tetap gerak," katanya sambil tertawa kecil.

Cerita Pak Ane mungkin tampak sederhana. Tapi di balik itu, ia mewakili banyak pekerja kecil yang harus membayar lebih besar dari yang mereka hasilkan, dan tetap bertahan meski lelah tak pernah usai.

Dalam diam, Pak Ane tetap berdiri. Peluit kecil dilehernya adalah saksi dari hari-hari Panjang yang ia jalani dengan ketulusan dan keteguhan, di tengah kerasnya kehi dupan kota yang terus.

Penulis:Ghina Septika, mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Arie
SHARE:
Tags
Berita Terkait
PSMS Medan Targetkan Kemenangan di Markas Garudayaksa FC, Siap Curi Poin di Stadion Pakansari

PSMS Medan Targetkan Kemenangan di Markas Garudayaksa FC, Siap Curi Poin di Stadion Pakansari

Pemko Medan Dorong Pelestarian Budaya Melayu agar Lebih Dekat dengan Masyarakat Lintas Suku

Pemko Medan Dorong Pelestarian Budaya Melayu agar Lebih Dekat dengan Masyarakat Lintas Suku

PSMS Medan Gagal Menang Meski Unggul Pemain, Ditahan Persikad 2-2 di Stadion Pakansari

PSMS Medan Gagal Menang Meski Unggul Pemain, Ditahan Persikad 2-2 di Stadion Pakansari

KRI Bima Suci Sandar di Belawan, Rico Waas Promosikan Potensi Medan ke Dunia

KRI Bima Suci Sandar di Belawan, Rico Waas Promosikan Potensi Medan ke Dunia

Hari Ginjal Sedunia 2026, Pemko Medan Perkuat Layanan RSUD Dr Pirngadi

Hari Ginjal Sedunia 2026, Pemko Medan Perkuat Layanan RSUD Dr Pirngadi

Vonis Tipikor Medan: Eks Kadis PUPR Sumut Topan Ginting Dihukum 5,5 Tahun Penjara

Vonis Tipikor Medan: Eks Kadis PUPR Sumut Topan Ginting Dihukum 5,5 Tahun Penjara

Komentar
Berita Terbaru