Perang Iran Kuras Cadangan Amunisi AS, Pentagon Ungkap Krisis Pasokan Senjata
digtara.com - Perang di Iran disebut telah menguras sebagian cadangan amunisi strategis Amerika Serikat (AS) sekaligus memperlihatkan kendala pada kapasitas industri pertahanan negara tersebut.
Baca Juga:
Data keuangan dalam laporan itu mencatat Operasi Epic Fury menghabiskan sekitar 33,4 miliar dolar AS dalam kurun empat bulan. Dari jumlah tersebut, sekitar 22,3 miliar dolar AS digunakan untuk amunisi.
Pengeluaran Amunisi Picu Masalah Pasokan
Besarnya penggunaan amunisi disebut mulai memberikan tekanan terhadap rantai pasokan industri pertahanan AS."Pengeluaran amunisi pada OEF telah menyebabkan kekurangan inventaris strategis dan mengungkapkan hambatan basis industri untuk pasokan ulang amunisi," tulis laporan tersebut, dikutip dari France24, Kamis (17/9/2026).
Laporan itu menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya berkaitan dengan jumlah persediaan yang tersedia, tetapi juga kemampuan industri pertahanan AS untuk memproduksi kembali amunisi dalam jumlah yang dibutuhkan.
Baca Juga:Kondisi tersebut menjadi perhatian karena operasi militer berskala besar membutuhkan pasokan rudal, pencegat pertahanan udara, serta berbagai jenis amunisi secara berkelanjutan.
Armada Tempur AS Turut Mengalami Kerusakan
Selain persoalan persediaan amunisi, operasi militer tersebut juga disebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah aset tempur Amerika Serikat.Empat jet tempur F-15 dilaporkan hancur total, sementara puluhan drone MQ-9 Reaper disebut jatuh selama pertempuran berlangsung.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada satu unit pesawat tempur F-35 dan tujuh pesawat tanker KC-135. Kondisi tersebut menambah beban operasional militer AS dalam mempertahankan kemampuan tempurnya.
Cadangan Rudal dan Pencegat Pertahanan Udara Menipis
Laporan internal Pentagon juga memperlihatkan adanya kekurangan pada sejumlah jenis senjata strategis, termasuk rudal pemandu jarak jauh dan pencegat pertahanan udara.Penggunaan persenjataan dalam jumlah besar tersebut terjadi setelah Komando Pusat AS melancarkan serangan intensif pada awal operasi. Pada 24 jam pertama, lebih dari 1.000 target di Iran disebut menjadi sasaran serangan sebelum intensitas operasi kemudian menurun.
Trump Klaim Produksi Senjata AS Berada di Level Tertinggi
Temuan mengenai tekanan terhadap persediaan amunisi tersebut muncul di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan kemampuan industri pertahanan negaranya.Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyatakan bahwa AS mampu memproduksi lebih banyak persenjataan dibandingkan periode sebelumnya.
"Menghasilkan lebih banyak Senjata Hebat dan Elit daripada kapan pun dalam Sejarah kita," kata Trump.
Baca Juga:Pernyataan tersebut berbeda dengan temuan dalam laporan Inspektur Jenderal Pentagon yang menyoroti kekurangan inventaris strategis dan hambatan dalam proses pengisian kembali persediaan amunisi.
Serangan Balasan Merusak Pangkalan AS
Konflik tersebut juga berdampak terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.Kerusakan disebut terjadi di sejumlah lokasi, termasuk Kuwait, Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan Yordania.
Namun, total biaya kerusakan fasilitas pangkalan tersebut belum dimasukkan dalam perhitungan awal Pentagon. Pemerintah AS masih mengkaji kebutuhan pembangunan kembali pangkalan serta pihak yang akan menanggung biaya pemulihannya.
Besarnya konsumsi amunisi selama operasi militer, ditambah kebutuhan untuk memperbaiki kerusakan fasilitas dan aset tempur, menjadi tantangan bagi kemampuan AS mempertahankan persediaan strategis sekaligus memenuhi kebutuhan operasi militer berikutnya.
Baca Juga:
AS Serang Iran Lagi, Harga Minyak Melambung di Atas USD 90 per Barel
Meta Bayar Rp320 Triliun Imbas Instagram dan Facebook Berdampak Buruk bagi Anak
Cara Ambil JHT BPJS Ketenagakerjaan 2026 Tanpa Paklaring, Syarat dan Langkah Klaim
Militer China Diduga Manfaatkan AI OpenAI dan Anthropic untuk Pengembangan Senjata
Konflik AS-Iran Memanas, Serangan Rudal Meluas hingga Negara Teluk dan Selat Hormuz Kembali Ditutup