Harmonisasi Kemenag-Kemenhaj, Wonosobo Layak Jadi Percontohan
digtara.com - Perubahan tata kelola penyelenggaraan haji dengan hadirnya Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) dinilai membutuhkan sinergi yang kuat dengan Kementerian Agama (Kemenag) agar pelayanan kepada jemaah tetap berjalan optimal.Harmonisasi, kolaborasi antar lembaga menjadi kunci agar masa transisi tidak mengganggu kualitas layanan bagi calon jemaah haji Indonesia.
Baca Juga:
Bimbad kloter YIA 22 - Kabupaten Wonosobo itu melanjutkan, pembentukan Kementerian Haji dan Umrah merupakan langkah besar pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada umat Islam, khususnya dalam penyelenggaraan ibadah haji.
"Yang terpenting saat ini adalah menciptakan harmonisasi antara Kementerian Agama dan Kementerian Haji dan Umrah pada masa transisi. Yang kami layani bukan kementeriannya, tetapi umat. Soal harmonisasi, Wonosobo layak jadi sampel (percontohan)" ujar Panut seraya tersenyum.
Panut menilai pengalaman panjang Kementerian Agama dalam mengelola penyelenggaraan haji dapat menjadi modal penting untuk mendukung tugas-tugas Kementerian Haji yang sedang membangun sistem dan struktur kelembagaan baru.
Karena itu, kolaborasi menjadi pilihan terbaik agar pelayanan kepada jemaah tetap berjalan efektif dan berkesinambungan.
Baca Juga:Panut mengklaim, Kabupaten Wonosobo dapat menjadi contoh praktik kolaborasi yang berjalan baik.
Hingga saat ini, koordinasi antara unsur Kementerian Agama dan Kementerian Haji tetap berlangsung dalam berbagai layanan, mulai dari administrasi, distribusi perlengkapan jemaah hingga persiapan keberangkatan.
"Kami tidak mempersoalkan siapa yang menjalankan tugas. Yang penting pelayanan kepada jemaah tetap berjalan lancar. Pengalaman yang dimiliki Kementerian Agama dapat menjadi bagian dari kolaborasi untuk memperkuat pelayanan," tegasnya.
Di tingkat daerah, sinergi tersebut terlihat dari pemanfaatan fasilitas secara bersama, termasuk layanan pada Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT).
Keterbatasan sarana yang ada justru mendorong kedua institusi untuk saling mendukung dalam pelaksanaan berbagai program pelayanan.
Jaringan KUA yang tersebar hingga tingkat kecamatan dinilai menjadi kekuatan yang dapat membantu Kementerian Haji menjangkau masyarakat secara lebih luas.
"Kementerian Haji belum memiliki struktur sampai tingkat kecamatan. Karena itu keberadaan KUA menjadi kekuatan besar yang perlu terus dikolaborasikan agar pelayanan kepada masyarakat semakin efektif," jelasnya.
Kolaborasi tersebut juga diterapkan dalam pelaksanaan bimbingan manasik haji.
Menurut Panut, jajaran Kementerian Agama di daerah masih dilibatkan untuk mendukung efektivitas pembinaan dan edukasi, bimbingan manasik kepada calon jemaah sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Baca Juga:"Kami berharap sinergi antara Kementerian Agama dan Kementerian Haji dapat terus diperkuat sehingga penyelenggaraan ibadah haji Indonesia menjadi semakin profesional, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan kebutuhan jemaah di masa mendatang," tutupnya. (San).
62 Persen Jemaah Haji Telah Tiba di Tanah Air, Kemenhaj: Saatnya Menebar Manfaat bagi Negeri
17 Jemaah Haji Jombang Terima Bantuan dari UEA
Presiden Prabowo Apresiasi Penyelenggaraan Haji 2026, Kemenhaj Siapkan Peningkatan Layanan dan Percepatan Masa Tunggu Jemaah
Rustiningsih Teteskan Air Mata Ceritakan Pengalamannya Dampingi Jemaah Lansia 85 Tahun Selama di Tanah Suci
Fase Pemulangan Gelombang II dari Madinah Dimulai, 48 Persen Jemaah Telah Tiba di Tanah Air