Inovasi Penenun di Desa Nunleu Melawan Covid-19: Jual Online, Omzet Naik Lagi
digtara.com – Penyebaran virus covid-19 dalam beberapa bulan terakhir sangat dirasakan dampak negatifnya bagi perekonomian Indonesia. Tak terkecuali bagi ibu-ibu kelompok penenun ‘bersehati’ di desa Nunleu, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT). Inovasi Penenun di Desa Nunleu Melawan Covid-19
Baca Juga:
Mereka mengalami kerugian karena hasil tenunan mereka tidak laku di pasaran. Tak hanya itu, bahkan harganya pun merosot tajam.
Dalam 2 tahun terakhir harga produk tenunan kain adat dan kain motif yang semula hanya Rp300.000, harganya sempat menembus hinggi Rp1,5 juta per lembar.
Harga ini melonjak drastis setelah adanya pendampingan dari Tim Politeknik Negeri Kupang terdiri dari Sumartini Dana, ST MT, Ade Manu Gah, Diana Rachmawati dan Hans Lao.
Namun sejak pandemi Covid-19 melanda, harga produk tenunan kembali terjun bebas.
Ciptakan Produk Beragam
Melihat kondisi ini, tim politeknik negeri Kupang yang sudah tiga tahun mendampingi 20 ibu rumah tangga ini mulai berinovasi.
Baca: Polisi Bekuk Pelaku Penikaman Mahasiswa di Kupang
Produk tenunan tidak semata dibuat kain, sarung atau selendang, namun dibuat menjadi tas, pakaian, dompet dan masker motif kain tenunan.

Untuk masker diberi harga antara Rp25.000 hingga Rp100.000. Harga tas, pakaian dan aksesories lain pun bervariasi.
Anggota kelompok penenun ‘bersehati’ pun berbagi peran. Ada yang mewarnai benang, menenun, menjahit produk hingga memasarkan produk mereka.
Mereka menyadari kesulitan memasarkan produk tersebut, sehingga mereka berinovasi membuat produk lain yang lebih murah, cepat dipasarkan dan mudah didapat.
Inovasi ini membuahkan hasil. Mereka kebanjiran pesanan untuk masker motif kain adat maupun pakaian modifikasi.
Dalam sehari, 20 ibu rumah tangga yang kebanyakan berstatus sebagai janda ini menghasilkan 100 masker kain motif dan juga menjahit baju pesanan.
Mereka berusaha memenuhi pesanan walaupun saat ini waktu mereka tersita untuk mengelola sawah dan kebun.
“Para ibu ini selain menenun juga menjadi tulang punggung bekerja di sawah dan kebun,” ujar Sumartini, selaku koordinator tim saat ditemui di Kupang, belum lama ini.
Baca: Prihatin Anak-anak Tak Kenal Huruf, Pendeta di Kupang Bangun Kebun Baca
Promosi penjualan pun gencar dilakukan tim politeknik negeri Kupang melalui berbagai media sosial.
Tim juga membantu membangun komunikasi dengan semua pihak untuk proses pemasaran produk dan melakukan kerjasama dengan berbagai mitra.

Bagikan Secara Gratis
Tidak saja memproduksi masker untuk dijual, namun para ibu ini juga membagikan masker tenunan hasil karya mereka secara gratis kepada warga dan anak sekolah.
Agar hasil produk memiliki nilai jual, mereka menjaga kualitas hasil tenunan dan merapikan hasil jahitan sesuai pendampingan dari tim.
“Syukurlah penjualan dan omzet sudah naik lagi setelah sempat lesu dalam enam bulan terakhir ini,” tambah Sumartini.
Tim juga terus melakukan pelatihan dan edukasi guna menghasilkan produk terbaik agar pendapatan terus naik.
Produk yang dihasilkan bersinergi dengan program pemerintah yang mewajibkan PNS di NTT menggunakan kain tenunan setiap hari Kamis dan Jumat.
Selama pendampingan, tim Politeknik membantu anggota kelompok dengan 2 mesin jahit, 1 mesin obras, benang dan pewarna dengan standar baik sehingga hasil tenunan rapi, bagus dan anti luntur.
Baca: Prihatin dengan Kesulitan Pendidikan Anak Sekitar, Anggota Polres Kupang Kota Sediakan Wifi Gratis
Salah satu potensi terbesar di desa Nunleu ini adalah tenun ikat. Namun produksi tenun ikat oleh kaum perempuan di Desa Nunleu membutuhkan waktu yang sangat lama dan hanya dibuat untuk acara adat. Kalaupun dijual akan sangat mahal dan juga terkadang dipandang sebelah mata karena sering luntur.

Penyuluhan dan pelatihan
Tim Politeknik Negeri Kupang prihatin dan peduli dengan kondisi ini.
Dibantu Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi, tim Politeknik negeri Kupang membantu kaum ibu dalam menghasilkan kain tenun.
Baca: Saksikan Ikan Paus Terdampar, Warga Berjejal di Pantai Nunhila Kota Kupang
Sejak beberapa waktu lalu dibuatlah kegiatan pemberdayaan perempuan untuk peningkatan ekonomi dan pelestarian budaya melalui inovasi usaha tenun ikat di desa Nunleu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten TTS.

20 ibu rumah tangga dihimpun dalam kelompok “Bersehati” dipimpin Ida Leta-Missa.
Tim Politeknik Negeri Kupang memperkenalkan pewarna benang jenis Naptol yang merupakan pewarna anti luntur, mudah diperoleh dan mempersingkat waktu pengerjaan tenunan.
Tim juga memberi pelatihan pembukuan sederhana. Anggota kelompok diajarkan pencatatan dan pembukuan semua biaya yang timbul untuk produksi kain hingga pemasaran.
Baca: Seorang Mahasiswa di Kupang Ditangkap Usai Sebar Video Telanjang Pacar
Desa Nunleu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten TTS sendiri belum banyak dikenal.
Untuk sampai ke wilayah ini, warga harus berkendara sejauh 187 kilometer dari kota SoE (ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan).

SoE sendiri memiliki jarak tempuk 120 kilometer dari Kota Kupang.
Kondisi jalan yang rusak parah juga menjadikan desa ini jarang dikunjungi. Padahal desa ini memiliki potensi yang sangat bagus baik potensi alam, budaya dan kerajinannya.
Saksikan video-video terbaru lainnya hanya di Channel Youtube Digtara TV. Jangan lupa, like comment and Subscribe.
Inovasi Penenun di Desa Nunleu Melawan Covid-19: Jual Online, Omzet Naik Lagi
Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat
Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS
Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya
Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia
Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur