Bursa Asia ‘Terbakar’, IHSG dan Rupiah Terjungkal
digtara.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada melemah lebih dari 1 persen pada perdagangan hari ini, Kamis (25/6/2020).
Baca Juga:
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG ditutup di level 4.896,73 dengan koreksi tajam 1,37 persen atau 68 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.
Pada perdagangan kemarin, IHSG mampu rebound dan berakhir di level 4.964,73 dengan kenaikan tajam 1,75 persen atau 85,6 poin.
Pergerakan indeks terpantau mulai tergelincir dengan langsung melemah hampir 1 persen pada awal perdagangan Kamis. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak dalam kisaran 4.883,71- 4.964,34.
Seluruh 10 sektor pada IHSG ditutup di teritori negatif. Dipimpin sektor properti (-2,03 persen), barang konsumer (-1,72 persen), manufaktur (-1,55 persen), dan aneka industri (-1,52 persen).
Tercatat 93 saham menguat, 324 saham melemah, dan 141 saham berakhir stagnan.
Mayoritas indeks saham di Asia ikut terbenam di zona merah, antara lain indeks Nikkei 225 Jepang (-1,22 persen), Kospi Korea Selatan (-2,27 persen), S&P/NZX 20 Selandia Baru (-1,21 persen), dan S&P/ASX 200 Australia (-2,48 persen). Adapun, bursa saham China dan Hong Kong ditutup karena libur nasional.
Di kawasan Asia Tenggara, indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI (-0,72 persen), Straits Times Index STI Singapura (-1,54 persen), dan indeks SET 50 Thailand (-1,06 persen).
ANALISA
Menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, saat ini sentimen di pasar mayoritas seputar kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi akibat masih tingginya kenaikan data kasus Covid-19 secara harian.
“Optimisme pasar selama beberapa pekan terhadap pelonggaran aktivitas ekonomi menjadi terkendala akibat data yang terus meningkat,†terang Samuel Sekuritas melalui publikasi risetnya yang dipublikasikan BisnisCom.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan prospek untuk ekonomi global, dengan memproyeksikan resesi yang jauh lebih dalam dan pemulihan yang lebih lambat dari yang sebelumnya diantisipasi.
IMF memprediksi produk domestik bruto (PDB) global akan terkontraksi 4,9 persen tahun ini atau lebih buruk dari proyeksi pertumbuhan minus 3 persen yang dibuat pada April 2020. Adapun, pertumbuhan pada 2021 diperkirakan hanya 5,4 persen, lebih rendah 0,4 poin persentase dari perkiraan sebelumnya.
Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan kombinasi permasalahan Covid-19 yang kembali muncul dan peringatan IMF menjadi penekan bursa global.
Hal tersebut, katanya, menjadi faktor pendorong aksi ambil untung (profit taking) di bursa Indonesia dalam perdagangan Kamis ini. Aksi profit taking terjadi di tengah pencapaian jumlah tertinggi kembali korban yang terjangkiti dan tewas akibat virus korona (covid-19).
Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah tergelincir dan ditutup terdepresiasi 45 poin. Nilai Rupiah turun 0,32 persen ke level Rp14.175 per dolar AS. Rupiah melemah setelah sepanjang hari bergerak di kisaran 14.115 – 14.190. Sebaliknya, indeks dolar AS menguat 0,14 persen atau 0,136 poin ke posisi 97,284.
[AS]
https://www.youtube.com/watch?v=0KAztfugKB4
Saksikan video-video terbaru lainnya hanya di Channel Youtube Digtara TV. Jangan lupa, like comment and Subscribe.
Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat
Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS
Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya
Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia
Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur