Minggu, 19 April 2026

Rupiah di Ambang Batas Melewati Rekor Terburuknya

- Senin, 23 Maret 2020 23:22 WIB
Rupiah di Ambang Batas Melewati Rekor Terburuknya

digtara.com – Merujuk Bloomberg, Senin (23/3) Rupiah mengawali pekan ini dengan lesu. Namun, rupiah ditutup turun ke level Rp 16.575 per dolar AS.

Baca Juga:

Artinya rupiah terkoreksi 3,85% dibandingkan penutupan Jumat (20/3) yang berada di level Rp 15.960 per dolar AS.

Penutupan  membuat rupiah di ambang batas melewati rekor terburuknya sepanjang masa.

Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah paling lemah adalah Rp 16.650 per dolar AS yang tercapai pada 17 Juni 1998 ketika krisis moneter. Sebuah level yang sudah tidak pernah didekati dalam kurun waktu kurang lebih 22 tahun.

Sementara pada kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah juga tidak berdaya dengan ditutup turun ke level Rp 16.608 per dolar AS. Dengan demikian, mata uang Garuda di kurs Jisdor telah turun 3,29% dibanding Jumat pekan lalu.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal menyebut, penyebaran virus corona di Indonesia masih menjadi sentimen utama di balik pelemahan rupiah. Selain karena virus corona, terkoreksinya rupiah juga tidak terlepas dari pengaruh dolar AS.

“Meski Jumat kemarin Senat AS belum meloloskan UU pendanaan darurat, dolar AS masih tetap saja menguat. Ini tak terlepas dari kondisi pasar yang terus mencari mata uang paling likuid, yakni dolar AS sehingga membuat rupiah kian tertekan,” ujar Faisyal.

Senada dengan Faisyal, ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri menyebut orang-orang saat ini lebih percaya diri pegang uang tunai. Reny berkaca dari indeks dolar yang kembali naik lagi ke 103.

Ditambah lagi permintaan terhadap dolar AS tengah meningkat karena dibutuhkan untuk bayar utang berdenominasi dolar AS. Terlebih saat ini sudah memasuki akhir kuartal I-2020.

“Dari dalam negeri, investor juga lari dari pasar domestik seiring pasar saham kembali turun, terjadi keluarnya dana asing di pasar utang dan membuat yield sudah di atas 8%,” ujar Reny.

Beberapa perusahaan yang sudah meliburkan pekerjanya pun dinilai Reny pada akhirnya turut memperlambat aktivitas ekonomi.

Dengan tertekannya aktivitas ekonomi saat ini, ditambah virus corona dan permintaan dolar AS, tak mengherankan rupiah terus berada dalam tren negatif.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
IHSG Hari Ini 17 April 2026 Diprediksi Konsolidasi, Cek Rekomendasi Saham BBKP, BRMS, CPIN, PSAB

IHSG Hari Ini 17 April 2026 Diprediksi Konsolidasi, Cek Rekomendasi Saham BBKP, BRMS, CPIN, PSAB

IHSG Hari Ini 16 April 2026 Berpotensi Konsolidasi, Ini Rekomendasi Saham ANTM, HRUM, NCKL, dan PGAS

IHSG Hari Ini 16 April 2026 Berpotensi Konsolidasi, Ini Rekomendasi Saham ANTM, HRUM, NCKL, dan PGAS

IHSG Hari Ini 14 April 2026 Berpeluang Menguat, Cek Rekomendasi Saham INET, JPFA, ARCI, dan DSNG

IHSG Hari Ini 14 April 2026 Berpeluang Menguat, Cek Rekomendasi Saham INET, JPFA, ARCI, dan DSNG

IHSG Berpeluang Menguat Hari Ini 13 April 2026, Analis Rekomendasikan Saham AMMN, TLKM hingga PTRO

IHSG Berpeluang Menguat Hari Ini 13 April 2026, Analis Rekomendasikan Saham AMMN, TLKM hingga PTRO

IHSG Ditutup Menguat ke 7.307, Saham BREN hingga TPIA Melonjak di Tengah Sentimen Global

IHSG Ditutup Menguat ke 7.307, Saham BREN hingga TPIA Melonjak di Tengah Sentimen Global

IHSG Menguat 4,42% ke 7.279, Sentimen Gencatan Senjata AS-Iran Dorong Saham Big Caps

IHSG Menguat 4,42% ke 7.279, Sentimen Gencatan Senjata AS-Iran Dorong Saham Big Caps

Komentar
Berita Terbaru