Analis: Rupiah dapat Angin Segar Semenjak AS-China Sepakat
Digtara.com | JAKARTA – Kurs spot rupiah menguat 0,47% ke level Rp 14.035 per dollar AS, Meredanya tekanan eksternal membuat rupiah lebih bertenaga pada perdagangan Senin (9/9) kemarin. Kurs tengah rupiah Bank Indonesia juga terapresiasi 0,33% ke level Rp 14.092 per dollar AS.
Baca Juga:
Menurut Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri mengatakan, rupiah mendapat angin segar semenjak AS dan China sepakat mengadakan pertemuan tingkat tinggi Oktober mendatang. Sampai saat itu, kedua negara juga sepakat tidak akan saling melontarkan ancaman kenaikan tarif impor.
“Setidaknya, sepanjang September ini isu perang dagang dapat mereda,” ujar Reny, kemarin.
Hal senada dikatakan Analis Monex Investindo Futures Faisyal memprediksi, kurs rupiah masih bisa menguat terbatas hari ini, Selasa (10/9). Rupiah sulit naik tajam lantaran sentimen minim.
Rupiah masih bisa menguat ditopang sentimen rilis data ketenagakerjaan AS yang lesu. Ini bisa mempengaruhi kebijakan moneter The Fed.
Memang, The Fed memberi sinyal tak akan melakukan pelonggaran moneter agresif, “Tapi, pasar tetap mempertimbangkan data tenaga kerja yang jelek,” ujar Faisyal.
Pengumuman inflasi China juga akan mempengaruhi kurs rupiah hari ini. Faisyal memprediksi rupiah bergerak di kisaran Rp 13.970-Rp 14.070 per dollar AS.
Dia menilai rupiah masih bisa menguat dengan kisaran pergerakan Rp 13.990-Rp 14.080 per dollar AS. Apalagi, data cadangan devisa bisa mendorong mata uang pergerakan garuda.
Tapi, pelaku pasar masih mengkhawatirkan potensi perlambatan ekonomi global. Ini bisa mempengaruhi ekspor.
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.337 per Dolar AS, Sentimen Global Mulai Mereda
Rupiah Anjlok ke Rp17.346 per Dolar AS, Terburuk Sepanjang Sejarah dan Tekanan Global Menguat
Rupiah Melemah ke Rp17.326 per Dolar AS, Sentimen Global dan Domestik Tekan Kurs
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.300 per Dolar AS Hari Ini 29 April 2026, Tertekan Sentimen Global
Kurs Rupiah Hari Ini 28 April 2026 Diprediksi Melemah ke Rp17.260 per Dolar AS, Ini Penyebabnya