IHSG Anjlok 1,33% ke 5.863, Saham DEWA, HRTA, dan WIFI Tertekan
digtara.com -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. Sejumlah saham, termasuk DEWA, HRTA, dan WIFI, mengalami penurunan tajam dan turut membayangi pergerakan indeks di tengah tekanan sentimen global.
Baca Juga:
Pelemahan IHSG terjadi ketika pelaku pasar mencermati sejumlah risiko eksternal, mulai dari inflasi Amerika Serikat (AS) yang melampaui perkiraan hingga meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Saham DEWA, HRTA, dan WIFI Masuk Daftar Saham Tertekan
Sejumlah saham mengalami koreksi cukup dalam pada perdagangan Kamis. Saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) menjadi salah satu saham yang mencatat penurunan terbesar dalam daftar saham yang disorot, yakni 7,88% ke Rp304.Saham PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) juga turun 6,40% ke Rp1.900. Sementara itu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) melemah 5,84% ke Rp1.290.
Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) juga melemah 4,85% ke Rp157.
Berikut saham-saham yang tercatat turun dalam data sumber:
- DEWA turun 7,88% ke Rp304.
Baca Juga:
- HRTA turun 6,40% ke Rp1.900.
- WIFI turun 5,84% ke Rp1.290.
- CUAN turun 5,26% ke Rp630.
- INDY turun 5,10% ke Rp2.420.
- BUMI turun 4,85% ke Rp157.
Saham AMMN, KLBF, dan UNTR Menguat
Di tengah pelemahan IHSG, beberapa saham justru berhasil mencatatkan penguatan. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) naik 1,39% ke Rp4.390, sedangkan PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) menguat 1,28% ke Rp790.Saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) turut naik 1,00% ke Rp25.250.
Penguatan juga terjadi pada saham PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) sebesar 0,77% ke Rp1.400. Sementara itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) naik 0,51% ke Rp3.980 dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 0,32% ke Rp3.100.
Inflasi AS di Atas Ekspektasi Bayangi IHSG
Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai sejumlah sentimen global membayangi pergerakan IHSG. Salah satu perhatian utama pasar adalah data inflasi AS yang lebih tinggi daripada perkiraan.Mengutip laporan The Guardian yang disebut dalam naskah sumber, indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) AS pada September 2026 meningkat 3,7% secara tahunan (year on year/YoY), dibandingkan 3,4% pada Agustus. Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%.
Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga:Analis BRI Danareksa Sekuritas memperingatkan bahwa penguatan dolar AS berpotensi menekan rupiah dan meningkatkan risiko arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor ketika menilai prospek pasar saham domestik.
Ketegangan Geopolitik Tambah Ketidakpastian Pasar
Selain inflasi AS, eskalasi konflik geopolitik juga menjadi perhatian analis. Dalam risetnya, BRI Danareksa Sekuritas menyoroti ancaman Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi yang dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan pasokan energi.Risiko tersebut berpotensi memicu volatilitas harga minyak dan menambah ketidakpastian di pasar global. Perubahan harga energi juga perlu dicermati karena dapat memengaruhi tekanan inflasi dan sentimen investor.
Surplus Perdagangan China Berpotensi Menopang Komoditas
Di tengah sentimen negatif dari AS dan geopolitik, data perdagangan China memberikan sinyal yang berpotensi mendukung permintaan komoditas.Naskah sumber menyebut surplus perdagangan China pada September mencapai US$133,53 miliar. Ekspor dilaporkan tumbuh 36,3% YoY, sedangkan impor meningkat 31% YoY.
Pertumbuhan impor China berpotensi menopang permintaan terhadap sejumlah komoditas Indonesia. Namun, menurut analisis yang dikutip, potensi dukungan tersebut belum cukup mengimbangi tekanan dari sentimen global yang negatif.
Baca Juga:
Prospek IHSG Masih Dipengaruhi Sentimen Global
Pelemahan IHSG pada 15 Oktober 2026 berlangsung di tengah kombinasi sentimen eksternal yang beragam. Inflasi AS yang melampaui ekspektasi dan risiko geopolitik menjadi faktor yang menambah kehati-hatian investor, sementara pertumbuhan impor China berpotensi memberi dukungan bagi permintaan komoditas.Investor perlu menilai pergerakan setiap saham berdasarkan kondisi fundamental, valuasi, dan profil risikonya. Penurunan harga dalam satu sesi perdagangan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa suatu saham layak dibeli atau akan terus melemah.
Disclaimer: Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor. Setiap keputusan perlu mempertimbangkan analisis dan profil risiko pribadi.
Baca Juga:
IHSG Hari Ini Menguat 0,29%, Saham BRPT, MAPI, dan MEDC Melonjak
IHSG Hari Ini Dibayangi Geopolitik dan MSCI, BRI Danareksa Rekomendasikan PTBA hingga ERAA
IHSG Hari Ini Diprediksi Melemah, MNC Sekuritas Rekomendasikan BRMS, JPFA, hingga MBMA
IHSG Hari Ini 12 Oktober 2026 Berisiko Melemah, MNC Sekuritas Rekomendasikan BRPT hingga BUMI
IHSG Hari Ini 9 Oktober 2026 Berpeluang Menguat, Simak Rekomendasi Saham